Rabu, 11 April 2018
Diisukan Bangkrut, Ternyata Ini yang Terjadi dengan Bank Muamalat
Bank Muamalat butuh tambahan modal baru hingga Rp 4,5 triliun. Sudah ada beberapa pihak berminat terhadap saham Muamalat. Namun, hingga saat ini belum ada pihak yang mengajukannya secara tertulis.
CR-26
0
Diisukan Bangkrut, Ternyata Ini yang Terjadi dengan Bank Muamalat

PT Bank Muamalat (Tbk) dalam beberapa bulan terakhir santer pemberitaan media massa dikabarkan bangkrut. Sebabnya, bank syariah pertama di Indonesia tersebut mengalami kesulitan permodalan di tengah kondisi tingginya non performing financing (NPF) atau pendanaan bermasalah alias kredit macet.

 

Sebagai antisipasi masalah tersebut, Muamalat sebenarnya telah berencana mencari investor baru untuk memperkuat permodalan sejak empat tahun terakhir ini. Namun, hingga saat ini perusahaan berkode emiten BMI tersebut masih belum mendapatkan investor yang siap menyuntikkan dana segarnya.

 

Kabar terakhir, perusahaan investasi PT Minna Padi Investama (Minna Padi) sebenarnya berminat membeli saham Muamalat. Namun, sayangnya rencana tersebut dibatalkan karena Minna Padi tidak bersedia membuka data mengenai konsorsium investor untuk membeli Muamalat. Padahal, pembukaan data tersebut merupakan salah satu syarat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

 

Direktur Utama Bank Muamalat, Achmad Kusna Permana mengakui pihaknya membutuhkan tambahan modal setidaknya sekitar Rp 4-4,5 triliun. Dengan dana tersebut, Muamalat ingin memperbaiki kondisi keuangan yang selama ini terganggu. “Kami akui ada pembiayaan bermasalah. Rencananya, kami akan selesaikan dengan penambahan modal,” kata Permana saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (11/4/2018). Baca Juga: OJK Terbitkan 3 Aturan Penanganan Krisis Keuangan

 

NPF gross Muamalat pada 2017 mencapai 4,43 persen atau tipis di bawah ambang batas sebesar 5 persen. Namun, pembiayaan bermasalah tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata perbankan syariah berkisar 3,4 persen. Pembiayaan bermasalah Muamalat juga meningkat dibandingkan 2016 yang mencapai 3,8 persen.

 

Selain itu, laba sebelum pajak Muamalat pada 2017 juga menurun drastis dibandingkan 2016 dari Rp 116 miliar menjadi Rp 60 miliar atau berkisar 48,28 persen. Sedangkan, penyaluran pembiayaan pada periode sama bergerak stagnan dari Rp 40 triliun menjadi Rp 41 triliun.

 

Permana menjelaskan permasalahan keuangan tersebut akibat kegagalan bayar nasabah (debitur) karena turunnya harga komoditas. Sehingga, dia sangat berharap mendapatkan modal baru untuk menutupi pembiayaan bermasalah tersebut.

 

Selain itu, modal tersebut diperlukan untuk mengembangkan bisnis perusahaan. Menurutnya, saat ini Muamalat masih mengandalkan pada segmen pembiayaan yang sama dengan bank konvensional. Akibatnya, Muamalat kalah bersaing dengan bank konvensional yang memiliki dana lebih besar. Ke depan, Muamalat berencana menggunakan modal baru tersebut untuk menyasar pangsa pasar umat Islam.

 

“Kami akan menyasar segmen seperti halal food hingga rumah sakit Islam. Kami ingin kuat di segmen tersebut,” kata Permana.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengatakan meski mengalami kesulitan pada kinerja keuangannya, Muamalat saat ini masih beroperasi secara normal. Setali tiga uang dengan Permana, Wimbo mengatakan saat ini yang paling dibutuhkan Muamalat adalah penambahan modal.

 

“Bank ini sumber dananya sustain dan murah. Emosional para penabung dan pemilik deposito bank ini cukup kuat. Jadi kami tidak khawatir soal likuiditas. Tapi, kami mengharapkan, bank ini harus tumbuh terus. Turunnya harga komoditas kemarin membuat beberapa nasabah (debitur) besar mengalami kesulitan cash flow,” kata Wimboh.

 

Persoalan lain, kata dia, investor pengendali Muamalat yaitu Islamic Development Bank (IDB) memiliki kendala dalam aturan internal yang melarang penempatan saham lembaga tersebut pada suatu badan usaha di atas 20 persen. Sehingga, IDB yang saat ini memiliki saham Muamalat sebesar 32,74 persen tidak dapat menambah (modal) kepemilikannya.

 

Wimbo mengungkapkan sudah beberapa pihak berminat terhadap saham Muamalat. Namun, hingga saat ini belum ada pihak yang mengajukan secara tertulis. “Kami ingin segera Muamalat segera ditambah modalnya. Saat ini sudah banyak yang berminat, tapi belum ada yang mengajukan secara tertulis penawaran terhadap Muamalat,” kata Wimboh.

 

Muamalat memiliki rekam jejak yang panjang dalam dunia perbankan nasional berbasis syariah. Bank yang telah beroperasi sejak 1 Mei 1992 tersebut digagas pendiriannya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) hingga pengusaha muslim nasional. Hingga saat ini, Muamalat tercatat memiliki aset sebesar Rp 60 triliun.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.