Jumat, 13 April 2018
Pertemuan Tertutup Boediono dan Budi Mulya di Sukamiskin
Boediono pernah sarankan menggiring opini media tentang kasus Century bahwa kebijakan tidak bisa dipidana.
Aji Prasetyo
0
Pertemuan Tertutup Boediono dan Budi Mulya di Sukamiskin
Nadia Mulya dan Anne Mulya, anak dan istri mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya mendatangi gedung KPK dengan didamping Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman di Jakarta, Kamis (12/4). Foto: RES

Putusan praperadilan yang meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut kasus Bank Century membuat Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) selaku Pemohon dalam sidang praperadilan bersama keluarga Budi Mulya (terpidana dalam kasus Century) mendatangi kantor KPK.

 

Mereka meminta lembaga antirasuah ini menindaklanjuti putusan tersebut. Selain itu, perwakilan MAKI Boyamin Saiman bersama Nadya Mulya dan Anne Mulya juga memberi laporan ke bagian Pengaduan Masyarakat (Dumas) KPK dengan melampirkan berkas atas putusan hakim tunggal Effendi Muchtar.

 

"Saya ke sini ya menyampaikan surat permintaan untuk dilaksanakan putusan itu, saya lampiri putusan praperadilan," kata Boyamin Saiman kepada wartawan di Gedung KPK, Kamis (12/4/2018). Baca Juga: Begini Pertimbangan Hakim Perintahkan KPK Tetapkan Boediono Cs Tersangka

 

Boyamin meminta dengan adanya putusan ini membuat KPK memproses sejumlah nama yang ada dalam surat dakwaan seperti Boediono, Muliaman Hadad dan Raden Pardede Cs. Jika hal ini tidak dilaksanakan dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, maka ia tak ragu untuk kembali menyeret KPK dalam sidang praperadilan.

 

"Kalau tiga bulan belum, ya nanti mungkin saya mengambil opsi untuk gugat praperadilan lagi dengan ganti rugi. Jadi kalau ganti ruginya Century Rp8 triliun, ya nanti saya minta potong gajinya pimpinan KPK 10 persenlah untuk mengganti itu sampai pensiun," terangnya.

 

Pernyataan KPK yang mengaku masih mempelajari kasus ini dirasa aneh olehnya. Sebab dalam surat dakwaan yang disusun penuntut umum oleh lembaga itu sendiri menyebut perbuatan yang dilakukan Budi Mulya merupakan tindak pidana secara bersama-sama dengan sejumlah pihak.

 

Kemudian kasus ini sendiri sudah berkekuatan hukum tetap sejak 2015, sehingga seharusnya KPK sudah bisa menindaklanjuti perkara ini. "Barang buktinya sudah ada, sudah ada audit BPK, ada saksi. Ada juga dokumen-dokumen plus, kemudian ditambah putusan Budi Mulya. Itu kan sudah kuat mestinya langsung jalan sehari dua hari itu tinggal membuat Sprindik dan penetapan tersangka baru bagi yang lainnya itu," pintanya.

 

Pertemuan dengan Boediono

Dalam surat dakwaan KPK, seperti yang telah dijelaskan diatas menyebut beberapa pihak. Lalu adakah dari mereka yang berusaha melokalisir kasus ini, sehingga hanya berhenti kepada Budi Mulya seorang?

 

Nadya Mulya, putri dari Budi Mulya, kepada wartawan mengungkap mantan Wakil Presiden RI Boediono pernah mendatangi Sukamiskin untuk bertemu dengan ayahandanya. Ia mengaku kaget karena setelah perkara ini mencuat ke publik dan KPK menjerat Budi Mulya, Boediono sama sekali tidak pernah memberi perhatian kepada keluarganya.

 

"Pak Boediono itu ketika Bapak saya menjadi tersangka sangat alergi dengan Bapak saya. Bahkan ketika adek saya meninggal pun dia tidak mengirimkan karangan bunga apapun, hanya selembar surat aja. Itu sangat menyakiti perasaan Bapak saya yang saat menjadi bawahan Pak Boediono begitu respect sama beliau," ujar Nadya.

 

Kemudian sekitar dua tahun lalu, tepatnya 26 Januari 2016 ketika ia sedang mengunjungi ayahnya di Sukamiskin, tiba-tiba ada seorang petugas yang memintanya untuk ke kantor Rutan. Dan ternyata disana telah menunggu Boediono, mantan atasan Budi Mulya di Bank Indonesia.

 

Mereka pun akhirnya berbicara 6 mata, Nadya Mulya, Budi Mulya dan Boediono. Dalam kesempatan itu Budi mengeluarkan segala uneg-uneg-nya kepada Boediono. "Kamu sebagai seorang pemimpin, kenapa kamu tidak mengatakan apa yang kamu ketahui tentang Bank Century. Itu yang Bapak saya katakan kepada Boediono," ujarnya menirukan ucapan sang ayah.

 

Boediono pun hanya diam saja ketika itu, tidak menawarkan solusi apapun terkait dengan nasib Budi Mulya. Namun, ada satu usulan yang diucapkannya kala itu yaitu dengan melakukan penggiringan opini di media jika perkara ini sebatas pengambilan kebijakan yang tidak bisa dipidana.

 

"Saat itu dia mengatakan, bagaimana kalau kita menggiring media bahwa ini sebenarnya adalah kebijakan yang tidak dapat dipidanakan. Saya bilang, Pak sudah telat. Sekarang Bapak saya sudah disini. Kalau seandainya kamu sebagai Wapres saat itu berani mengambil keputusan yang lebih firm, mungkin tidak akan berlarut-larut sampai saat ini," ungkap Nadya.

 

KPK tindak lanjuti putusan

Sebelum kedatangan MAKI dan juga keluarga Budi Mulya, KPK sendiri telah memberi keterangan terkait dengan putusan hakim tunggal Effendi Muchtar. Lembaga antikorupsi ini memastkan bakal mentaati putusan praperadilan terkait dengan kasus korupsi Bank Century.

 

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pihaknya akan segera melakukan gelar perkara bersama kasus Bank Century. "Bagaimana kelanjutannya, nanti kita akan bahas di tingkat pimpinan dan tentunya juga penyidik dan penuntut. Kita tunggu saja nanti pimpinan akan rapat dan akan penyidik dan penuntut ya," kata Saut kepada wartawan di kantornya, Rabu (11/4).

 

Saut sendiri memastikan kasus ini tidak berhenti begitu saja. Pihaknya sudah membahas nama-nama yang disebut dalam surat dakwaan Budi Mulya. "Tahun kemarin April, sekitar April itu sudah disampaikan peranan setiap orang itu seperti apa?”

 

Hal senada dikatakan Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Sebagai institusi penegak hukum, menurut Febri KPK menghormati putusan tersebut. "Setelah itu tentu kami lebih lanjut apa yang menjadi kewajiban KPK bagaimana pelaksanaan kewajiban itu sepanjang sesuai hukum acara yang berlaku," kata Febri.

 

Sebelumnya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan praperadilan terkait kasus Bank Century yang diajukan MAKI kepada KPK. Dalam putusan yang dibacakan pada Senin (9/4) kemarin, Hakim tunggal  menerima permohonan MAKI agar KPK menindaklanjuti kasus korupsi Bank Century.

 

MAKI berpendapat KPK telah berlarut-larut menangani kasus Bank Century karena tidak segera menetapkan tersangka baru setelah putusan Budi Mulya sehingga tidak ada kepastian hukum dalam perkara tersebut. Dan secara materiil, langkah ini disebut MAKI sama saja menghentikan proses penyidikan.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.