Minggu, 22 April 2018
Srikandi Hukum 2018
Juansih: Polwan Bintang Satu Bergelar Doktor Cumlaude
Berasal dari keluarga pengajar, membuat orang tuanya meminta agar menjadi guru. Sempat terpikir bercita-cita menjadi atlet, namun takdir menuntunnya justru menjadi penegak hukum.
Aji Prasetyo
0
Juansih: Polwan Bintang Satu Bergelar Doktor Cumlaude
Brigjen Pol. Juansih. Foto: RES

Menjadi wanita yang berkarir di bidang hukum, mengurus rumah tangga, menempuh pendidikan doktor, dan mendapat nilai cumlaude dijalani sekaligus, memang bisa? Ya itulah sosok Juansih. Lengkapnya Brigjen Pol. Dr. Dra. Juansih, SH, M.Hum, wanita yang saat ini menjabat Direktur Pemberdayaan Alternatif Badan Narkotika Nasional (BNN).

 

Ibu dari tiga anak ini menjalani karir sebagai polisi wanita sejak 1989. Mulai jabatan Inspektur Muda pada Sepolwan dengan pangkat Letnan Satu (Lettu), karirnya terus menanjak. Hanya selang 14 tahun, Juansih menjadi Kapolres Surabaya Timur, wilayah masuk kategori tipe A, dan baru berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) pada 2004.  

 

Di wilayah ini stadion kebanggaan warga Surabaya, Gelora 10 November bercokol dengan supporter sepakbola setianya Bonek Mania yang terkenal 'garang'. Tetapi, bagi Juansih, mereka (Bonek) dianggap biasa saja. “Mereka justru memanggil saya Bunda,” kata Juansih sambil tertawa lepas ketika mengingat momen tersebut.

 

Istri dari Tedi Supriadi ini menceritakan awal mulanya mengetahui panggilan tersebut. “Waktu itu saya lagi jalan aja, tiba-tiba ada orang tatoan, terus ditindik ngeliatin saya. Jujur aja saya sempet takut. Tapi, kemudian dia manggil Bunda. Saya lihat di depan saya enggak ada orang, di samping juga enggak ada orang,” tutur Juansih yang baru sadar jika panggilan “Bunda” itu dialamatkan kepadanya.

 

Juansih juga berbagi cerita ketika ia menjabat Kapolres Surabaya Timur dalam kurun waktu hampir dua tahun. Dia mewajibkan seluruh supporter atau penonton untuk membeli tiket pertandingan ketika Persebaya bermain. Hingga ada beberapa supporter bertanya kepadanya, apakah mereka bisa membeli satu tiket untuk beberapa orang?

 

“Tidak boleh, kalau kamu mau begitu, ya sudah kamu gendong tuh mereka semua,” tegas Juansih ketika itu. Namun, penolakan ini bukan tanpa kompensasi. Juansih memerintahkan anak buahnya untuk memberikan makanan ringan kepada setiap penonton yang membeli tiket pertandingan.

 

Cerita lain, saat ia menangani perkara kekerasan rumah tangga yang dilakukan seorang supir angkutan umum. Sang supir mempunyai sebelas orang istri yang salah satunya dipukul dengan menggunakan benda tumpul. Setelah itu supir tersebut melarikan diri. “Ada wartawan nanya sama saya, kalau ketemu mau diapain itu Bu? Saya jawab aja, nanti saya sunatin! Eh enggak taunya bener ditulis begitu, hahaha,” tutur Junarsih sambil tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tersebut.

 

Setelah menjabat sebagai Kapolres Surabaya Timur, Juansih juga sempat memimpin Polres Batu, Malang, Wakapolwil Bojonegoro, dan Karo Pers Polda Banten. Dari Banten, Juansih kembali ke Jawa Timur dengan jabatan Karo Log Polda Jatim. Di posisi terakhir inilah pangkatnya naik dari Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol). Jabatan terakhirnya di Polda Jawa Timur sebagai Karo Sarpras Polda Jatim pada 2011.

 

Pada 2013, Juansih mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri dan setelah selesai, ia ditarik ke Jakarta dengan jabatan Kabag Sarpras Polri. Kemudian menjadi Kabidjemen Sespim Polri. Sejak Februari 2017, wanita kelahiran Majalengka 2 Agustus 1964 ini mulai menjabat sebagai Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN.  

 

“Karena ya semua persyaratan memenuhi, pendidikan, pengalaman, program cocok juga dengan S3 saya tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Unair, mungkin begitu melihatnya,” ujar Juansih saat ditanya alasan penunjukannya sebagai salah satu direktur di BNN.

 

Baca:

 

Gelar doktor cumlaude

Menjadi wanita karir yang menekuni bidang hukum tentu tidak mudah. Ditambah tingkat pendidikan doktor yang nilainya nyaris sempurna dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,96. Kampus yang memberi nilai itu pun tak main-main yakni Universitas Airlangga, Surabaya pada 2015, salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia.

 

Prestasi tersebut wajar terlihat karena tekad Juansih yang begitu kuat mengejar pendidikan. Baginya, menuntut ilmu itu sepanjang hayat, tidak peduli berapa usia seseorang asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. “Apa yang saya raih saat ini bisa saja menjadi contoh wanita berkarir di dunia hukum,” ujar bungsu dari 10 bersaudara ini.

 

Sebelum doktor, Juansih mengenyam pendidikan S-2 di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada dengan jurusan Hukum Bisnis dan lulus pada 2010. Ada cerita menarik yang melatarbelakangi dirinya mengambil jurusan tersebut. “Jadi waktu saya di Jawa Timur itu ada banyak sengketa bisnis, saya mikir, kayaknya boleh juga nih ambil jurusan ini,” pikir Juansih kala itu.  

 

Lulus S-2 belum membuat Juansih puas diri. Ia kembali masuk kampus dengan untuk menjadi doktor di Universitas Airlangga, Surabaya dengan jurusan Sumber Daya Manusia. Disertasi yang dipilihnya tak jauh dari profesinya sebagai Polwan mengenai “Pengaruh Optimalisasi Pengembangan Sumber Daya Manusia Petugas Polmas dalam Bentuk Diklat, Transfer of Knowledge dan Capacity Buiding.”

 

Mungkin jika dilihat judul disertasi yang diambil cukup mudah, tetapi tidak demikian bagi Juansih. Apalagi melihat efeknya yang cukup besar bagi masyarakat. Sebab, selama ini Polmas (setara dengan Babinkamtibmas) jarang sekali berhubungan langsung dan mendengar keluhan masyarakat. Padahal Polmas menjadi garda terdepan dalam penegakan hukum.

 

Selain itu, Polmas menjadi penyaring persoalan yang terjadi di masyarakat, apakah memang harus dilanjutkan sesuai hukum yang berlaku atau bisa diselesaikan secara musyawarah? “Mereka (Polmas) secara capacity building belum tahu, kehadiran mereka di masyarakat kebutuhannya kan belum tahu,” terangnya.

 

Di Jepang, menurut Juansih, istri dari anggota kepolisian ditugaskan untuk menampung saran dari masyarakat. Cara ini, selain bisa meminimalisir adanya pelanggaran hukum, juga bisa membantu menyelesaikan sengketa yang ada di masyarakat sebelum masuk ke pengadilan. Kata Juansih, Indonesia juga sudah mencoba cara tersebut di daerah tertentu.

 

“Kalau pilot project sudah di Bekasi, kerja sama dengan JICA (lembaga donor Jepang),” ungkapnya.

 

 

Sempat ingin jadi atlet

Sebelumnya, tak terbayang di benak Juansih bahwa dirinya bisa menjadi Polwan dengan pangkat bintang satu. Sebab, ia awalnya memang tak berminat menjadi penegak hukum karena keluarganya berasal dari kalangan pengajar. Hanya terbersit dalam pikirannya untuk melakukan pembinaan hukum bagi masyarakat agar lebih patuh terhadap hukum yang berlaku.

 

Awal mula Juansih menjadi polisi juga disebabkan “ulahnya” sendiri yang menjadi salah satu lulusan terbaik di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (sekarang UPI) jurusan Olahraga pada 1988. “Jadi sistemnya masih dipanggil, lalu daftar. Saya dipanggil daftar ke Ajendam. Dulu kan dari komisi pengerahan sarjana Mabes TNI/Mabes ABRI mengambil dari kampus-kampus ranking berapa, disuruh daftar di Ajendam. Saya ikut tes, akhirnya lulus jadi polisi,” terangnya.

 

Bahkan sebelum menjadi polisi, Juansih sempat bercita-cita menjadi atlet. Tetapi niat itu diurungkan karena ketika itu ia masih sibuk kuliah dan belajar. Beberapa rekannya sudah aktif latihan dan beberapa sudah menjadi atlet nasional. Berjalannya waktu, ia merasa sulit untuk mewujudkan cita-cita itu karena beranggapan sudah tertinggal jauh dari rekannya. Juansih akhirnya memilih menekuni kuliahnya hingga sempat menjadi asisten dosen (asdos).

 

“Ya enggak taulah pokoknya bisa lulus, terus jadi asdos, udah enggak sempat jadi atlet nasional. Kalau latihan terus, buat kerajinan (tangan), merajut, kapan belajarnya? Tapi, ada untunglah jadi doktor sekarang,” ucapnya seraya merasa sangat bersyukur.

 

Tidak telantarkan keluarga

Menjadi wanita dengan karir yang memiliki jabatan cukup tinggi mungkin menjadi impian bagi sebagian kaum hawa. Tetapi, baginya tidak ada gunanya jika karir setinggi langit justru mengorbankan keluarga. Juansih pun sangat sadar akan hal itu, ia pun tegas menyatakan selama menjalani karir dan menempuh pendidikan tinggi tetap tidak boleh menelantarkan suami dan juga anak-anaknya.

 

Sebagai contoh, ketika ia tinggal dan bertugas di Surabaya, anak-anaknya sering mampir ke kantor sepulang dari sekolah. “Mereka suka mampir, kalau saya ada waktu luang ya mereka saya ajari kerjakan PR di kantor,” terang Juansih.  

 

Dia menuturkan anak-anaknya sangat mengerti tugasnya sebagai aparat penegak hukum, sehingga mereka tidak keberatan jika memang ada tugas dadakan ke luar kota atau patroli malam di wilayah yang dipimpinnya. “Bahkan anak saya ada yang minta ikut patroli, ya sudah saya ajak saja.”

 

Meski begitu, ia mengakui ada saat di mana dirinya tidak bisa mengawasi anak-anaknya secara langsung karena adanya perpindahan tugas. Selain di Surabaya, Juansih juga sempat ditempatkan di Malang. Nah di posisi inilah, ia meminta bantuan orang tua atau saudara dekatnya untuk tinggal di Surabaya dan membantu mengawasi buah hatinya.

 

Juansih bukan tidak percaya dengan asisten rumah tangga, tetapi menurutnya menjaga anak dengan keluarga terdekat dirasa jauh lebih baik daripada mempercayakan kepada orang lain. “Saya minta tolong neneknya dan tantenya untuk tinggal di sana. Jadi ramai, anak saya enggak kesepian. Apalagi, dengan keluarga sendiri.”

 

Lalu apakah di antara ketiga anaknya ada yang mengikuti jejaknya sebagai polisi? “Ada, tapi waktu itu dia balik dari Amerika dari studinya untuk menjadi jadi polisi, cuma ya enggak bisa karena seleksinya itu beberapa bulan lagi. Saya bilang kamu itu butuh latihan setahun dulu, makanya saya suruh balik lagi sana ke Amerika!”

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.