Senin, 23 April 2018
Srikandi Hukum 2018
Anika Faisal: Berawal dari Skripsi Hingga Jadi Bankir
Pasca krisis moneter 1998 memberi pengalaman luar biasa saat berkarir di BPPN dan terus berkarir di dunia perbankan hingga saat ini.
CR-26
0
Anika Faisal: Berawal dari Skripsi Hingga Jadi Bankir
Anika Faisal. Foto: RES

Anika Faisal tak menyangka tema skripsi yang disusun 28 tahun silam menjadi jalan meniti karirnya di dunia perbankan hingga sekarang. Anika yang merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) pada 1990 ini, kini menjabat sebagai Direktur Kepatuhan dan Sekretaris Perusahaan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk sejak 2008.

 

Padahal saat kuliah, Anika sebetulnya sempat terpikir ingin menjadi pengacara khusus menangani kasus-kasus perdata. Makanya, dia memilih program kekhususan praktisi hukum jelang masa akhir perkuliahan. Namun, saat riset dan menyusun tugas skripsi dirinya mulai tertarik pada dunia perbankan.

 

Dia memilih topik mengenai kredit macet perbankan ditinjau dari aspek hukum. Dari pengalaman menyusun skripsi itu, dia merasa ternyata dunia perbankan pun erat kaitannya dengan hukum bisnis. Sehingga, dia memutuskan untuk mendalami industri hukum perbankan.

 

“Waktu bikin skripsi, saya pelajari ternyata banyak sekali aspek hukum dalam bank. Mungkin this is a good idea bagi saya memahami dunia perbankan, sehingga bisa jadi legal yang plus-plus istilahnya. Legal yang bukan cuma sekadar tahu teori, tapi juga punya pemahaman dan keahlian di bidang perbankan atau keuangan,” kata Anika saat berbincang dengan Hukumonline di kantornya, Rabu (21/3).  

 

Untuk mewujudkan niatnya, Anika akhirnya bergabung dengan Bank Niaga selama periode 1991-1998. Anika memulai karir di perusahaan yang kini berubah menjadi CIMB Niaga tersebut dari bawah. Mulai ditempatkan di kantor cabang, regional, hingga kantor pusat. Jabatan terakhir Anika di perusahaan tersebut sebagai Legal Head dan Corporate Banking.

 

Pengalaman tersebut memberi pemahaman baru bagi Anika mengenai sistem perbankan. Tak hanya bekerja sesuai latar belakang pendidikannya, dia juga mempelajari cara kerja sistem keuangan perbankan, bagian umum atau general affair. Pada 1999, Anika sempat memutuskan bergabung dengan Konsultan Hukum Bahar, Tumbelaka & Partners. Namun, belum genap setahun, Anika keluar dari kantor hukum tersebut.

 

Dia mendapat tawaran bergabung dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai Legal Group Head and Risk Management Unit pada tahun 1999. Bergabung dengan BPPN menjadi babak baru dalam karirnya. Pada titik ini, Anisa merasa kemampuannya terus terasah. Maklum, saat itu BPPN sebagai lembaga pemerintah yang menjadi sorotan publik untuk memulihkan atau menyehatkan perbankan nasional setelah rontok akibat krisis ekonomi 1998.

 

Baca:

 

Selama di lembaga tersebut, Anika sempat mempelajari penyebab kegagalan perbankan menghadapi krisis saat itu. Selain faktor ekonomi, Anika menemukan ternyata bank-bank yang dibekukan operasinya justru akibat kesalahan pemiliknya sendiri. Para pemegang saham dan pemilik bank tersebut yang secara sengaja menyalurkan dana simpanan kepada kreditor bermasalah.

 

It’s life time experience bagi saya. Saya belajar mengenai hukum mulai dari yang simple mengenai salah bikin kontrak sampai mengenai kejahatan keuangan di sektor perbankan. Di situ saya lihat banyak how white collar crime is being conducted,” kata Anika.

 

Salah satu pekerjaan pokok Anika di BPPN adalah menagih para pemegang saham sekaligus pemilik perbankan tersebut untuk mengganti rugi dana nasabah. Saat itu, Anika harus menagih sekitar 39 bank yang dibekukan oleh pemerintah. “Saya kerja mulai dari desain surat undangan pemanggilan pemegang saham, ketemu, dan negosiasi sama pemegang sahamnya. Semuanya harus kami kerjakan secara ad hoc dan cepat karena BPPN waktu itu enggak ada (struktur) organisasi yang firm,” kenang Anika.

 

Setahun kemudian, atasan Anika, Arwin Rasyid, menunjuknya sebagai Staf Ahli Khusus Ketua/Wakil Ketua BPPN. Tak lama kemudian, Arwin menjabat sebagai wakil ketua BPPN. Arwin juga merupakan atasan Anika yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Bank Niaga. Arwin dikenal sebagai seorang bankir dengan jabatan terakhirnya sebagai Presiden Direktur CIMB Niaga periode 2008-2015.

 

Selepas di BPPN pada 2002, Anika kembali memasuki dunia perbankan dengan bergabung di PT Bank Danamon Tbk. Dia menjabat sebagai Direktur Kepatuhan dan Sekretaris Perusahaan Danamon. Jabatan direktur kepatuhan merupakan posisi baru di perbankan setelah terbitnya Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 1/6/PBI 1999 yang mengharuskan setiap bank memiliki posisi tersebut. Posisi tersebut juga sebagai pengawas internal perusahaan agar beroperasi sesuai dengan peraturan.

 

Kesamaan visi yang menyasar konsumen secara luas membuatnya tertarik bergabung dengan perusahaan tersebut. Jabatan sebagai direksi perbankan juga memberi pengalaman sekaligus tantangan baru bagi Anika. Selepas dari Danamon pada 2008, wanita kelahiran Jakarta 29 Juni 1967 ini akhirnya memutuskan “hijrah” ke BTPN hingga saat ini.     

 

Meski hampir seluruh karir dihabiskan di dunia perbankan, Anika tidak mau melupakan pengetahuan hukumnya begitu saja. Dia justru berhasil memadukan ilmu hukum dengan sektor keuangan. Selama berkarir, justru dia lebih banyak bekerja pada divisi yang berurusan dengan peraturan. Jabatannya saat ini, salah satu tugasnya adalah menjamin seluruh kegiatan bisnis perusahaan harus sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Terlebih, industri perbankan yang kegiatan bisnisnya menghimpun dana dari masyarakat. Untuk itu, prinsip kehati-hatian harus selalu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengelola dana masyarakat. Sebab, pengelolaan yang salah akan berakibat fatal, dana masyarakat bisa hilang. “Saya punya beban tanggung jawab menjaga supaya bank bekerja sesuai koridor, sustainable, punya keuntungan, dan menjaga dana masyarakat yang ditaruh di bank ini tetap aman,” kata dia.

 

 

Hamil 7 bulan saat di BPPN

Anika menyadari sebagai perempuan yang bekerja memiliki hambatan tersendiri dalam menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dan profesi. Anika merasakan beratnya menjalani hal tersebut. Saat masih bekerja di BPPN, Anika kerap bekerja dari pagi hingga malam dalam kondisi hamil. “Saya hamil anak kedua saya di BPPN. Sempat kejadian saat hamil tujuh bulan, enggak pulang ke rumah dua hari,” kenang Anika sambil tersenyum mengingat peristiwa tersebut.

 

Dia menjelaskan kondisi krisis saat itu membuatnya terpaksa harus menginap di kantor. Namun, baginya komunikasi dengan suami merupakan hal yang paling penting agar mampu menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dengan pekerjaan. “Namanya jadi wanita karir itu harus partnership. Kalau enggak ada, mana mungkin saya dapat menjalani karir ini. Harus ada pemahaman bersama. Tetapi momen tersebut terbayar dengan pengalaman kerja yang didapat selama bekerja di BPPN.”

 

Kini sebagai direktur kepatuhan di BTPN, tanggung jawab utama mencegah secara maksimal agar setiap pelanggaran aturan perusahaan tidak terjadi. Berdasarkan pengalaman, Anika mengungkapkan sering terdapat oknum-oknum dari internal bank yang melanggar aturan perusahaan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hal wajar yang memang sering terjadi dalam bisnis.

 

“Seorang direktur kepatuhan, sangat memerlukan dukungan dari internal perusahaan mulai dari karyawan hingga direksi. Sehingga, kebijakan yang diambil dapat berjalan sesuai dengan target.”

 

Dia mengakui terkadang kebijakan seorang direktur kepatuhan kerap berseberangan pendapat dengan direksi lain. Hal tersebut karena posisinya saat ini sangat menekankan prinsip kehati-hatian daripada pertumbuhan bisnis semata. “Kalau ada beda pendapat, cara pandang, dan lain-lain sepanjang dalam koridor adalah wajar. Buat saya jelas, agar bank tetap memegang prudential principal dan mengurangi risiko terpapar pada permasalahan-permasalahan,” kata Anika.

 

Baca:

 

Masih sempatkan mengajar

Meski sibuk mengurusi rumah tangga dan pekerjaan, Anika masih menyempatkan diri untuk mengajar di sela-sela waktu luangnya. Anika memberi materi pengajaran di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Dia juga kerap menjadi pembicara-pembicara dalam acara seminar dan pelatihan sehubungan dengan profesinya saat ini.

 

Baginya, mengajar merupakan salah satu cara agar ilmunya bermanfaat juga bagi orang lain. Dia berharap ilmu yang dimilikinya dapat terus “diwariskan” kepada generasi penerusnya. Menurutnya, fungsi perbankan sebagai salah satu sumber pembiayaan masyarakat harus tetap dipertahankan agar berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

 

Kondisi masyarakat Indonesia yang saat ini lebih banyak berpenghasilan menengah ke bawah, sehingga menurutnya sangat membutuhkan lembaga keuangan. Karena itu, dirinya sangat tertarik berkontribusi dalam membangun industri perbankan nasional yang lebih sehat dan profesional.

 

“Melayani mass market adalah esensi dalam perbankan. Bagi (pemilik dana) besar,  mereka bisa (cari dana) ke pasar modal, tapi yang di bawah itu kalau enggak ada yang mau reach out, enggak ada yang dapat,” tutupnya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.