Senin, 23 April 2018
Srikandi Hukum 2018
Anisah Shofiawati: Sang Pengawas Hakim yang Doyan Masak
Ibunya adalah kekuatan bagi Anisah Shofiawati untuk terus bersemangat dalam berkarir. Semuanya untuk ibunya.
Aida Mardatillah
0
Anisah Shofiawati: Sang Pengawas Hakim yang Doyan Masak
Anisah Shofiawati. Foto: RES

Ada slogan mengatakan “suara hakim adalah suara Tuhan” karena hakim dianggap “wakil Tuhan” di muka bumi. Begitu mulia dan agung profesi ini, tapi tanggung jawab pun besar. Apalagi, jika profesi hakim ini dilakoni oleh seorang perempuan sejatinya memiliki tanggung jawab lebih besar ketimbang kaum laki-laki.

 

Inilah sedikit gambaran Anisah Shofiawati yang dikenal sebagai hakim perempuan muda yang berintegritas. Makanya, tak heran saat ini ia dikenal sebagai hakim pengawas di Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA) sejak tahun 2016. Sebab, untuk dapat menjadi hakim pengawas, harus benar-benar hakim yang bersih dan memiliki track record (rekam jejak) yang baik.

 

Sebelum menjadi hakim, wanita kelahiran Jakarta 24 Februari 1975 ini sempat menjadi aktivis di sebuah LSM Koalisi Kebebasan untuk Memperoleh Informasi Publik pada 2001. Tak lama, Anisah diterima seleksi CPNS pada MA pada tahun 2002 untuk calon hakim. Penugasan pertamanya menjadi calon hakim di Pengadilan Negeri (PN) Cibadak.

 

Sedari awal, Anisah memang berkeinginan menjadi seorang hakim ketimbang aparat penegak hukum lain. Selain karena ayahnya seorang hakim, Anisah beralasan karakteristik hakim itu independen dan tidak bisa dipengaruhi siapapun. “Berbeda dengan penegak hukum lain yang memiliki garis komando dengan atasannya,” tutur Anisah di Gedung Sekretariat MA.

 

Anak pertama dari empat bersaudara lahir dari rahim seorang ibu rumah tangga dan ayah seorang hakim. Jabatan terakhir ayah Anisah, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Kalimantan Barat bernama Drs. Supangat Atmowijoyo. Meski begitu, Anisah berjuang sendiri untuk dapat menjadi seorang hakim karena ayahnya meninggal saat Anisah duduk di bangku kelas 2 SMAN 8 Jakarta.  

 

“Saya menjadi hakim, delapan tahun setelah ayah saya meninggal. Untuk menjadi seorang hakim yang seperti apa? Saya melihat figur ayah saya saat menjalani profesi ini,” kata Anisah.

 

Dia merasa profesi hakim merupakan amanah dari Tuhan yang harus dijalani sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. “Saya merasa dipilih oleh Tuhan untuk memegang amanah ini, makanya saya harus berupaya sebaik mungkin menangani dan memutus perkara secara adil dan benar,” kata dia.

 

Selama menjalani hakim, Anisah lebih banyak menangani kasus-kasus kekerasan. Seperti, pembunuhan dan perkosaan, serta perkara lain. “Sebenarnya semua perkara berkesan dan memiliki sisi menarik. Saya juga pernah menangani perkara tindak pidana korupsi ketika bertugas di PN Lahat dan PN Brebes. Itu menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

 

Baca:

 

Sebelum menjadi hakim pengawas dengan pangkat golongan IIId, Anisah sudah malang melintang melakoni profesi hakim di beberapa daerah. Setelah di PN Cibadak, Anisah ditugaskan PN Lahat pada tahun 2005. Empat tahun kemudian, Anisah “hijrah” ke PN Brebes (2009). Lalu, sejak 2013, ditugaskan di PN Subang hingga akhirnya ia ditarik ke Jakarta menjadi hakim pengawas.       

 

Di Bawas MA, Anisah tercatat Sekretaris Tim Pemeriksa yang bertugas membuat laporan hasil pemeriksaan. Dia juga melakukan pemeriksaan, pembinaan, monitoring, dan audit di empat wilayah. Misalnya, wilayah I Sumatera, wilayah II Jawa dan Bali, wilayah III Kalimantan dan Sulawesi, dan wilayah IV Ambon dan Papua.

 

“Terakhir, saya baru melakukan pemeriksaan reguler di wilayah I Sumatera. Seluruh tim dibawa semua. Karena timnya terbatas, setiap tahun pemeriksaan dilakukan bergantian di setiap wilayah. Tahun ini bisa di wilayah satu, tahun depan bisa di wilayah dua,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

 

Bahkan, kata Anisah, adanya informasi dugaan pelanggaran aparat pengadilan dari media, tim pemeriksa bisa langsung turun ke daerah untuk melakukan pemeriksaan. Anisah mengaku terkadang mengalami kesulitan dalam melakukan pemeriksaan aparatur pengadilan di berbagai daerah. Sebab, laporan dugaan pelanggaran yang dialamatkan aparat pengadilan termasuk hakim sering tidak jelas.

 

“Jadi, kita harus gali sendiri semua informasinya untuk menguatkan apakah terbukti ada pelanggaran atau tidak. Tetapi, semua saya menjalani ini dengan enjoy. Tapi yang pasti, jika terbukti kita tegas jatuhkan sanksi, siapapun mereka, hakim, juru sita, panitera pengganti, atau staf,” tegasnya.

 

Menurutnya, berbagai cara telah dilakukan MA untuk mencegah terjadi suap (korupsi) dan pungutan liar (pungli) di badan pengadilan. Mulai berbagai aturan pengawasan, maklumat ketua MA, adanya mystery shopper, hingga pelayanan terpadu satu pintu di seluruh pengadilan. Namun, dia mengakui penyimpangan di pengadilan masih kerap terjadi yang dilakukan aparat pengadilan termasuk hakim, bahkan hakim perempuan.

 

Bagi Anisah korupsi di pengadilan yang melibatkan hakim bisa dilakukan siapa saja termasuk hakim perempuan. Namun, bukan berarti nama perempuan akan rusak jika ada hakim perempuan yang korup. “Makanya, saya mengimbau agar para hakim menjaga wibawa, jaga integritas, dan tidak melanggar kode etik. Padahal, rezeki sudah diatur Allah. Jangan lagi coba-coba bermain dengan uang suap,” pesannya.  

 

 

Hobi memasak

Hakim perempuan yang pergi ke kantor sering berkendara roda dua ini, tidak terlalu menyukai makanan yang dibelinya di luar. Ia sering membawa makanan dari hasil masakan sendiri karena dia memang sangat hobi memasak. “Tiap hari bangun jam 5 subuh untuk memasak dan dibawa buat bekal ke kantor,” tutur Anisah.

 

Saat bertugas di PN Lahat dan PN Brebes dirinya sering membawa bekal hasil masakannya sendiri. “Terkadang teman hakim lain tanya, ‘wah menunya lengkap banget sudah ada ayam, tempe goreng, sayur dan sambal, beli di mana? Ya, saya jawab tidak beli, tetapi saya  buat sendiri. Bahkan, saat ingin pizza, saya buat sendiri. Saya juga biasa membuat kue, kue kering, brownis dan lain.”

 

Dengan hobi memasaknya ini, setiap minggu dia harus belanja semua bahan makanan, seperti sayuran, lauk pauk di pasar tradisional untuk stok selama seminggu. “Tapi, karena seringnya bertugas keluar kota, kadang-kadang sayuran yang ada di dalam kulkas sering busuk.”  

 

Menurutnya, masakan yang dibuatnya sendiri lebih bersih dan rasanya sudah pasti pas dengan seleranya. Bakat memasaknya ini diperolehnya dari almarhumah ibunya. “Ibu saya sangat pandai memasak, masakannya enak. Dulu ia suka menyuruh anak-anaknya untuk dapat membantunya memasak,” kenang sulung empat bersaudara ini.

 

Buat ibu

Anisah mengaku belajar banyak dari sosok ibunya yang dikenal kuat, tegas dan disiplin.  Meski ibunya lebih dulu ditinggal ayahnya saat adik-adiknya masih sangat kecil-kecil, Ibu Anisah yang hanya ibu rumah tangga, dapat menafkahi anaknya dan menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah.

 

Padahal, ayahnya tidak meninggalkan harta warisan banyak, hanya mengandalkan uang pensiun yang sebenarnya kurang cukup untuk menghidupi empat anaknya. “Tapi, ibu sering membuat kue untuk dijual kalau ada pesanan untuk tambahan biaya hidup anaknya. Saya bangga pada ibu saya, yang telah membuat saya seperti sekarang ini,” tuturnya.

 

Pada 2010, Anisah terpilih menjadi hakim pilihan Tempo. Setahun kemudian tahun 2011 terpilih menjadi hakim inspiratif versi Majalah Komisi Yudisial (KY). Pada April 2017 lalu, dalam rangka hari Kartini, Anisah pernah diundang dalam acara Mata Najwa dengan tema hakim perempuan inspiratif. Namanya disandingkan dengan hakim perempuan lain seperti Albertina Ho, Nani Indrawati. Padahal, ia merasa belum pantas diundang di acara tersebut.

 

Bagi Anisah, semua yang diraihnya selama menjalani karier sebagai hakim hingga hakim pengawas ingin dipersembahkan untuk ibunya. “Saya berjuang seperti ini hanya untuk ibu saja. Saya merasa ibu saya telah berhasil mendidik anak-anaknya dan bisa sukses seperti saat ini,” kata dia.

 

“Adik saya nomor dua telah bekerja di Philip Internasional, adik nomor tiga menjadi lawyer, dan adik nomor empat di Badilag MA bagian keuangan.”

 

Sebelum menutup perbincangan, Anisah berpesan bagi para wanita yang ingin menggeluti dunia profesi hukum, ia harus smart, berani, dan menjaga integritasnya. Sebab, menurutnya berkiprah menjadi aparat penegak hukum termasuk hakim penuh dengan resiko. “Dan satu lagi, mereka harus menjaga kehormatan mereka, bagaimanapun kondisinya!”

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.