Selasa, 29 Mei 2018
Personal Digital Assistance, Justika.com Tawarkan Aplikasi Sejenis Go-Lawyer
Melalui aplikasi Justika.com diharapkan kebutuhan konsultasi hukum antara advokat dan masyarakat yang membutuhkan tidak lagi terbatas ruang dan waktu.
Hamalatul Qur'ani/M-27
0
Personal Digital Assistance, Justika.com Tawarkan Aplikasi Sejenis Go-Lawyer

Semakin derasnya arus revolusi industri dan teknologi dari masa ke masa, membuat segala aspek jasa keilmuan semakin terbuka dan tidak lagi tersekat ruang dan waktu. Inovasi terus dituntut demi jasa layanan hukum dapat merata dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Untuk itu, Justika.com meluncurkan inovasi jasa hukum terbaru mereka yang menjembatani bantuan nasihat hukum antar advokat dan klien melalui Personal Digital Assistance.

 

Business Development Manager Justika.com, Ade Novita, mengatakan berawal dari adanya kebutuhan dari sisi klien untuk kemudahan akses mendapatkan jasa layanan hukum dari advokat terpercaya dan dari sisi advokat keinginan untuk sebanyak-banyaknya mengabdikan ilmu hukum ke masyarakat luas, Justika.com mencoba memfasilitasi kebutuhan ini agar layanan jasa hukum dapat berlangsung kapan saja dimana saja dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa menghilangkan pentingnya saling percaya antara advokat dan klienya. Mengutip pendapat Managing Partner Assegaf Hamzah & Partners (AHP) Bono Daru Adji, kepercayaan klien merupakan aset utama seorang advokat.

 

Ade menyampaikan, ketika seseorang membutuhkan jasa hukum, namun tidak tahu ke mana dan di mana harus menemukan advokat yang terpercaya dan dapat diandalkan, pada masa derasnya arus teknologi masa kini, orang tersebut akan sepenuhnya memanfaatkan teknologi mesin pencari. Maka kemungkinan hanya ada dua. Pertama, orang tersebut akan menemukan advokat dengan biaya jasa tidak terukur dan belum tentu dapat diandalkan, atau orang tersebut akan menemukan penyedia jasa hukum bukan advokat atau gelap dan berisiko terkena pungutan liar atau biaya tidak perlu.

 

Menangkap peluang tersebut, kata Ade, Justika.com melakukan inovasi dengan memastikan teknologi yang digunakan akan mempertemukan klien dengan advokat bukan hanya sesuai dengan permasalahan hukum yang dihadapi namun juga memiliki kesesuaian waktu antara advokat dengan klien tersebut. Konsultasi pun hanya akan dilakukan melalui telepon, sehingga baik klien maupun advokat dapat melakukan konsutasi hukum tanpa terbatas ruang dan waktu.

 

“Melalui aplikasi ini nantinya klien dapat menemukan advokat yang cocok untuk menangani permasalahannya dan hubungan kepercayaan antara klien dan advokat akan lebih mudah terjalin. Hal ini akan melancarkan keduanya dalam menemukan langkah hukum apa yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang dihadapi,” terang Ade pada Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama FHUI angkatan 96, Jum’at (25/5).

 

Biasanya, kata Ade, untuk bertemu advokat yang diinginkan, klien harus membuat perjanian tatap muka terlebih dahulu mencakup kapan dan dimana konsultasi akan dilaksanakan. Dari segi waktu saja menurut Ade sudah tidak efisien, di tambah lagi dengan kondisi jalanan kota Jakarta yang macetnya tidak dapat diprediksi. Begitupun dari sisi Advokat, waktu yang terbatas membuat advokat terbatas dalam pemanfaatan ilmunya bagi orang banyak.

 

Padahal bisa jadi permasalahan yang ingin disampaikan klien tersebut seharusnya tidak membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan waktu yang dihabiskan di perjalanan. Di sinilah menurut Ade, inovasi dalam pemberian bantuan hukum akan terwadahi melalui personal digital assistance dari para advokat terpercaya yang ditawarkan melalui aplikasi pada Justika.com.

 

(Baca Juga: Permudah Akses Profesional Hukum, Justika.com Kerjasama dengan UNHCR)

 

Hal ini diamini oleh Belinda Rosalina, advokat jebolan FHUI angkatan 96. Adapun soal kendala yang biasa dihadapi Oca saat menghadapi klien, menurutnya sudah ada sejak masa-masanya konsultasi dan terutama berasal dari beragamnya tipe klien. Ada klien yang datang untuk konsultasi dan memakan waktu begitu lama, kemudian ada pula yang tiba-tiba menghilang, ada juga yang inginnya praktik langsung via email bahkan ada juga klien dengan tipe yang ‘saklek’, bikin somasi dan sebagainya. Terlepas dari beragamnya tipe klien, tetap saja lawyer membutuhkan adanya klien agar tetap eksis di industri jasa hukum ini. Personal digital assistance ini akan membantu menjaga tipe klien yang paling sesuai untuk dilayani sambil terus menambah potensi klien ke advokat secara digital.

 

Menurutnya, yang paling menguntungkan dengan adanya aplikasi ini nantinya adalah para pencari keadilan itu sendiri. Wanita yang biasa disapa Oca itu mengatakan, terkadang para pencari keadilan itu tidak tahu mereka harus ke mana, bertemu dengan siapa dan sebagainya. Sehingga Oca menganggap aplikasi ini erat ke arah fungsi sosialnya.

 

“Positifnya, di sini advokat bisa berbagi ilmu juga, nambah wawasan juga, ada bantuannya juga tersalurkan sambil mengisi waktu luang. Sebetulnya memang aplikasi sejenis ini bagus, karena zaman sekarang bukan waktunya lagi duduk manis nunggu klien datang, tapi juga harus jemput bola,” kata Oca.

 

(Baca Juga: Belinda Rosalina: Seniman yang Menjadi Konsultan HKI)

 

In-House Counsel sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, Aditya Prakasa, menambahkan  tantangan terbesar bagi seorang advokat itu adalah bagaimana ia bisa menempatkan diri di posisi klien, dan soal ini tidak banyak orang yang mengerti. Seorang advokat juga dituntut untuk fleksibel. Menurut Adit, dalam beberapa keadaan sebagai advokat tidak harus selalu sesuai dengan konstelasi hukum yang ada, melainkan masuk lebih ke kebutuhan yang diinginkan klien kepada advokat seperti apa.

 

“Dalam kasus perceraian misalnya, secara aturan kita tahu anak-anak di bawah 12 tahun itu masih sama ibunya, tapi dalam beberapa putusan majelis, anak-anak seringkali menjadi hak asuh dari bapak dan ibunya. Dalam keadaan yang seperti ini, kita akan lebih banyak terpikirkan soal kesejahteraan anak-anak dibandingkan hukum keluarganya yang soal perceraian,” jelas Adit.

 

Lantas bagaimana jika semua tantangan yang harus dituntaskan seorang lawyer tersebut harus dilakukan melalui platform digital? Mengomentari hal tersebut, Adit mengakui memang keberadaan digital lawyer ini di kemudian hari tidak dapat dihindari mengingat industri yang terus berubah cepat.

 

“Bisa dibayangkan nanti jika dalam satu proyek, kalau ada satu klien yang melibatkan lawyer investasi, lawyer corporate, lawyer pertanahan dan sebagainya yang digabung menjadi satu. Tapi dia tak mau dalam satu lawfirm besar, semua lawyer yang ia pilih itu private contractor. Biasanya dilakukannya manual, sekarang klien itu diberikan priviledge, dia mau milih siapa aja nih,” tukas Adit.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.