Selasa, 11 Oktober 2011
Dibaca: 13347
Pertanyaan :
Pihak Cowok Ingin Ikut Membesarkan Anak Hasil Hubungan Luar Nikah
Saya mempunyai seorang anak dari hubungan saya dengan mantan pacar saya. Sekarang anak tersebut bersama dengan mantan saya di Bandung. Yang ingin saya tanyakan: 1. Saya dilarang ketemu sama anak saya oleh mantan saya dan keluarganya, padahal saya ingin sekali melihat dan mengetahui perkembangan anak saya, apakah saya mempunyai hak untuk itu? 2. Adakah dasar hukumnya? 3. Dapatkah saya menuntut mantan saya untuk bersama-sama membesarkan anak tersebut? PS: Anak saya sekarang umurnya 4 bulan. Terima kasih atas bantuannya.
Jawaban :

1.      Kami tidak terlalu jelas apakah Anda adalah pihak laki-laki atau perempuan. Tapi, jika Anda adalah pihak laki-laki, maka secara hukum Anda bukanlah orang tua dari anak tersebut. Hal ini karena secara hukum, anak yang lahir di luar perkawinan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya (lihat Pasal 43 ayat [1] UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan - “UUP”). Oleh karena itu, ibu dari anak tersebut berhak melarang Anda bertemu dengan anaknya jika hal itu dianggap demi kepentingan terbaik si anak.

 

2.      Lihat jawaban nomor 1.

 

3.      Dengan asumsi Anda adalah pihak laki-laki, maka berdasarkan UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (“UU 23/2006”), apabila seorang ayah ingin mempunyai hubungan perdata dengan anaknya yang berstatus anak di luar kawin, ada dua jalan yang bisa ditempuh, yaitu

a.      Pengakuan anak, yaitu pengakuan secara hukum dari seorang bapak terhadap anaknya yang lahir di luar ikatan perkawinan yang sah atas persetujuan ibu kandung anak tersebut. Cara pengakuan anak:

-         Membuat Surat Pengakuan Anak

-         Surat Pengakuan Anak tersebut disetujui oleh ibu kandung anak yang bersangkutan.

-         Surat Pengakuan Anak tersebut kemudian dicatat oleh Pejabat Pencatatan Sipil pada Register Akta Pengakuan Anak dan diterbitkan Kutipan Akta Pengakuan Anak.

(lihat Pasal 49 UU 23/2006 beserta penjelasannya jo Pasal 280 KUHPer)

 

b.      Pengesahan anak, yaitu pengesahan status hukum seorang anak yang lahir di luar ikatan perkawinan yang sah, menjadi anak sah sepasang suami istri. Dalam pengesahan anak kedua orang tua anak tersebut haruslah melakukan perkawinan secara sah, dan pada saat perkawinan tersebut dilakukan pengesahan anak. Pengesahan anak ini kemudian dicatat dalam register Akta Perkawinan kedua orangtuanya, dan pada Akta Kelahiran anak tersebut (lihat Pasal 50 UU 23/2006 beserta penjelasannya). 

 

Untuk perubahan data-data pada Kartu Keluarga, Anda dapat mengajukan permohonan ke petugas di Kelurahan setempat, dengan membawa akta kelahiran yang benar.

 

Jadi, dengan pengakuan anak, Anda dapat menjadi bapak dan memiliki hubungan perdata dengan anak Anda. Anda hanya dapat melakukan pengakuan anak sepanjang ibu kandungnya menyetujuinya.

 

Sedangkan, untuk pengesahan anak, hanya dapat dilakukan setelah Anda dan ibu kandung si anak melangsungkan perkawinan atau setelah Anda berdua berstatus suami-istri.

 

Demikian yang kami ketahui, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.      Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23)

2.      Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

3.      Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

 

Catatan editor: Artikel jawaban ini dipublikasi ulang pada 11 Oktober 2011 pukul 19.00 wib setelah mengalami revisi judul dan isinya, sejak pertama kali dipublikasikan pada 11 Oktober 2011 pukul 08.00 wib.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
PENJAWAB : Amrie Hakim, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Amrie Hakim menyelesaikan program S1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 2000. Pada tahun itu juga dia bergabung dengan hukumonline.com sebagai peneliti, kemudian menjadi jurnalis sampai dengan 2005. Setelah beberapa tahun bekerja di tempat lain, pada 2008 Amrie kembali berkarya di hukumonline.com sebagai Pengelola dan Editor Klinik Hukum. Saat ini, Amrie menjabat sebagai News & Content Director.   Di saat senggang dia mengisi waktunya dengan membaca, menonton film, menulis, dan bersantai bersama keluarga. Amrie menggemari novel-novel hukum dan kriminal.   Follow Amrie di twitter: @amriehakim