Senin, 16 Januari 2017
Dibaca: 82457
Pertanyaan :
Bisakah Mengakui Anak Hasil Zina?
Beberapa tahun lalu saya dan pacar putus hubungan secara baik-baik karena dia akan menikah dengan lelaki (sebut saja si X) yang jauh usianya di atas saya (kelahiran 1951). Usia pacar saya waktu itu 23 tahun. Kendati usia mereka berbeda jauh, kedua orangtuanya mendukung. Alasan memilih si X, karena dia sudah mapan. Setahun berlalu, pacar saya (sebut saja Lia) tiba-tiba menelepon dan ingin bertemu saya. Pertama bertemu, saya merasakan dia kurang bahagia, walau secara materi berlimpah. Singkatnya, saya kasihan dan ingin mengawini dia. Tapi saya nggak tahan godaan, kini dia tengah hamil menginjak bulan ke-4. Sebelum 'melakukan', saya selalu bilang bahwa kita harus menikah. Dan Lia pun selalu mengangguk! Setelah hamil, Lia mulai berubah. Dia emoh kalau diajak tentang perkawinan, bahkan dia ingin terus mempertahankan hubungannya dengan X. Saya sungguh menyesal. Yang menyakitkan, saya tidak boleh mengakui itu anak saya terhadap keluarganya sebagai legalitas kelak bahwa dia adalah anak saya. Kalau saya membocorkan pada keluarganya, dia akan bunuh diri atau melarikan diri. Dengan alasan takut mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya, saya hanya diam. Kalau Lia tidak mau saya kawini, bagaimana caranya saya mengakui anak saya kelak? Langkah apa yang harus saya tempuh sebelum semua terlambat? Demikian pertanyaan saya.
Jawaban :

Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul yang sama yang dibuat oleh Diana Kusumasari, S.H., M.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Kamis, 09 Juni 2011.

 

Intisari:

 

 

Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya. Jadi, jika benar Anda adalah ayah biologis dari anak yang dikandung pacar Anda, Anda dapat mengakui anak tersebut.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Tindak Pidana Zina

Dari penjelasan Anda, kami dapat simpulkan bahwa hubungan yang Anda lakukan dengan wanita (pacar) yang telah bersuami dikategorikan sebagai zina. Zina merupakan tindak pidana yang diatur dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

 

Zina termasuk delik aduan absolut. Artinya, pelaku dapat dituntut apabila ada pengaduan dari pihak suami atau istri yang dirugikan.[1] Pengaduan tersebut dapat dicabut selama perkara belum diperiksa di muka pengadilan.[2] Sehingga dalam hal ini, apabila suami pacar Anda tersebut mengadukan Anda dan/atau istrinya kepada polisi, Anda dan/atau pacar Anda dapat dituntut karena melakukan tindak pidana perzinahan.

 

R. Soesilo (hal. 209) dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya. Supaya masuk pasal ini, maka persetubuhan itu harus dilakukan dengan suka sama suka, tidak boleh ada paksaan dari salah satu pihak. Penjelasan lebih lanjut mengenai perzinahan dapat Anda simak dalam artikel Persoalan Kawin Siri dan Perzinahan.

 

Anak Hasil Zina

Terkait dengan keinginan Anda untuk mengakui anak tersebut, sebenarnya memang sudah menjadi hak anak tersebut untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri, dalam hal ini ayah dan ibunya.[3]

 

Hak anak ini juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”) yang menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk mengetahui siapa orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.[4]

 

Hanya saja, menurut hemat kami, Anda belum tentu ayah biologis dari bayi yang sedang dikandung oleh pacar Anda mengingat statusnya yang masih memiliki suami. Kecuali hal tersebut telah dibuktikan dengan hasil pemeriksaan secara medis.

 

Jika menurut hasil pemeriksaan medis diketahui bahwa Anda adalah ayah biologis dari anak yang dikandung pacar Anda, maka status anak tersebut adalah anak luar kawin.

 

Terkait anak luar kawin ini, Mahkamah Konstitusi (“MK”) melalui putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 memutus bahwa Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bertentangan dengan UUD 1945 bila tidak dibaca:

 

Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.

 

Jadi, anak memiliki hubungan perdata dengan ayahnya juga jika dapat dibuktikan baik berdasarkan ilmu pengetahuan (hasil pemeriksaan medis misalnya) atau secara hukum, yakni dengan melalui penetapan pengadilan. Penjelasan selengkapnya: Pencantuman Nama Ayah dalam Akta Kelahiran Anak Luar Kawin.

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kalaupun benar Anda adalah ayah biologis dari anak yang dikandung pacar Anda, Anda dapat mengakui anak tersebut. Penjelasan lebih lanjut soal pengakuan anak dapat Anda simak Penetapan Pengadilan Terkait Penerbitan Akta Kelahiran Anak Luar Kawin.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

2.    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

3.    Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;

4.    Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

 

Referensi:

R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Bogor: Politeia.



[1] Pasal 284 ayat (2) KUHP

[2] Pasal 284 ayat (4) KUHP

[4] Pasal 56 ayat (1) UU HAM

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
MITRA : Bung Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi).