hukumonline
RUBRIK KLINIK
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline, silakan login, atau Daftar ID anda.

Selasa, 07 Pebruari 2012
Pertanyaan:
Agar Anak Tidak Terlibat atau Menjadi Korban Kejahatan di Internet
Sekarang internet sudah semakin luas dan mudah dijangkau hingga anak-anak dan remaja, misalnya melalui ponsel. Kira-kira apa yang harus kami lakukan sebagai orangtua untuk meminimalisir risiko anak-anak terjebak menjadi pelaku ataupun korban kejahatan di dunia maya? Terima kasih.  
dandi-Wijaya
Jawaban:
http://static.hukumonline.com/frontend/default/images/gravatar-140.png

 

1.      Untuk menjawab pertanyaan Anda, kami merujuk pada buku “Internet Sehat, Pedoman Ber-Internet yang Aman, Nyaman dan Bertanggungjawab” yang disusun oleh Acep Syaripudin dkk. Buku yang mencantumkan pakar teknologi informasi Onno W. Purbo sebagai penasihat penyusunan buku tersebut menjelaskan (hlm. 7-10), beberapa jenis kejahatan yang dapat menimpa atau melibatkan anak-anak ketika menggunakan media internet di antaranya penculikan, penipuan, pornografi, penghinaan, perjudian dan pencemaran nama baik.

 

Secara hukum, kejahatan-kejahatan tersebut antara lain dapat dilihat dalam beberapa peraturan berikut:

-         Kitab Undang-undang Hukum Pidana (“KUHP);

-         UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”);

-         Pelanggaran hak atas kekayaan intelektual antara lain UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta;

-         UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

 

Lebih jauh mengenai jenis-jenis kejahatan tersebut dapat pula Anda simak dalam artikel-artikel berikut:

-         Cyber Crime;

-         Cyber Pornography (Pornografi Dunia Maya);

-         Judi Internet, Sejauh manakah UU ITE Bisa Menjangkaunya?;

-         Polisi Tindak Lanjuti Penyalahgunaan Akun FB Mantan Ketua MK;

-         Pasal Untuk Menjerat Pelaku Penipuan Dalam Jual Beli Online;

-         Langkah Apa yang Harus Dilakukan Jika Dicemarkan Lewat FB?

 

2.      Untuk meminimalisir risiko Anak Anda menjadi korban suatu kejahatan akibat aktifitasnya di internet, maka Anda dapat menerapkan beberapa tips yang dianjurkan buku yang kami sebutkan dalam poin 1 di atas (hlm. 13), di antaranya:

a.      Gunakan internet secara bersama dengan anggota keluarga lain yang lebih dewasa. Tempatkan komputer di ruang keluarga atau di tempat yang mudah diawasi. Jika diperlukan, berilah penjadwalan/pembatasan waktu untuk Anak Anda menggunakan internet.

b.      Pelajari sarana komunikasi dan kandungan informasi yang ditawarkan oleh internet (yang anak Anda akses). Ajukanlah pertanyaan kepada Anak Anda mengenai hal tersebut. Dengan banyak bertanya, Anda dapat menggali sejauh mana mereka memahami internet, sekaligus Anda dapat mengetahui apabila anak-anak mendapatkan suatu informasi yang bersifat negatif.

c.      Berikan pengertian kepada Anak Anda untuk tidak menanggapi/menjawab setiap e-mail ataupun private chat dari orang yang tidak dikenal, termasuk membuka file kiriman (attachment) dari orang yang tidak dikenal, dalam bentuk apapun.

d.      Pertegaslah kepada Anak anda, untuk tidak memberikan informasi atau data pribadi seperti alamat rumah/sekolah, nomor telepon, tanggal lahir, password dan data diri lainnya kepada orang yang tidak dikenal, ataupun saat mengisi informasi data diri di situs personal, blog ataupun situs lainnya di internet semisal Facebook.com maupun Twitter.com.

e.      Mintalah kepada Anak Anda untuk segera meninggalkan situs yang tidak pantas atau yang membuat mereka tidak nyaman. Lalu, bujuklah agar mereka terbiasa bercerita kepada Anda tentang segala sesuatu yang mereka temui di internet.

f.       Tegaskan kepada Anak Anda untuk tidak gegabah merencanakan pertemuan langsung (face-to-face) dengan seseorang yang baru mereka kenal di internet. Jika memang mereka bersikeras untuk tetap bertemu, maka pastikan ada orang dewasa yang menemani dan pertemuannya harus berlangsung di tempat umum/publik.

 

Sekian jawaban dari kami, semoga membantu.

 

Dasar hukum:

1.      Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No. 732);;

2.      Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta;

3.      Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;

4.      Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

 

 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.