Rabu, 29 Agustus 2012
Pertanyaan :
Apakah SH Program Hukum Internasional Bisa Jadi Advokat Lokal?
Kalau pas kuliah pilih program kekhususannya hukum internasional, apakah setelah tamat bisa menjadi pengacara dalam negeri?
Jawaban :

Syarat untuk menjadi pengacara (advokat) di Indonesia diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat (“UU Advokat”) yaitu sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum dan setelah mengikuti pendidikan khusus profesi Advokat yang dilaksanakan oleh Organisasi Advokat.

 

Di dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Advokat disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “berlatar belakang pendidikan tinggi hukum” adalah lulusan fakultas hukum, fakultas Syariah, perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu.

 

Persyaratan lebih lanjut untuk menjadi advokat diatur dalam Pasal 3 ayat (1) UU Advokat:

a.    warga negara Republik Indonesia;

b.    bertempat tinggal di Indonesia;

c.    tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara;

d.    berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun;

e.    berijazah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1);

f.     lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat;

g.    magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus menerus pada kantor Advokat;

h.    tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

i.      berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi

 

Walaupun ketika kuliah Saudara memilih jurusan atau program kekhususan hukum internasional, Saudara akan tetap lulus dengan gelar Sarjana Hukum. Karena itu, Saudara tetap dapat menjadi advokat di Indonesia dengan tetap memenuhi persyaratan lainnya yang telah disebutkan. Untuk menjadi advokat juga harus mengikuti pendidikan khusus profesi advokat yang biasanya dikenal dengan nama PKPA. Untuk informasi lebih lanjut, Saudara dapat membaca artikel Prosedur Menjadi Advokat Sejak PKPA Hingga Pengangkatan.

 

Bahkan, Sarjana Hukum yang sebelumnya memilih program kekhususan hukum internasional pada umumnya mempunyai kelebihan dalam penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Karena dalam hukum internasional pada umumnya banyak menggunakan buku atau bahan bacaan berbahasa Inggris. Hal ini dapat menjadi nilai plus saat Sarjana Hukum tersebut bekerja di kantor advokat yang banyak menangani pekerjaan korporasi. Setidaknya hal tersebut yang dialami M. Iqsan Sirie, associate pada Assegaf Hamzah & Partners.

 

Sementara, Melli Darsa, partner kantor advokat Melli Darsa & Co mengatakan bahwa dia tidak melihat dari program kekhususan ketika merekrut Sarjana Hukum untuk bekerja di kantornya. Menurutnya, kualitas penting yang dia butuhkan dari Sarjana Hukum antara lain memiliki logika hukum yang baik, dan penguasaan bahasa Inggris. Jika Sarjana Hukum memiliki logika hukum yang baik, maka dia akan dapat menyelesaikan masalah hukum yang belum pernah dia pelajari di bangku kuliah. Dia berpandangan bahwa Sarjana Hukum dari jurusan atau program kekhususan apapun bisa menjadi dasar untuk berpraktik sebagai advokat. Pada akhirnya, pengalaman kerja yang akan membentuk seorang Sarjana Hukum menjadi advokat yang ahli pada bidang hukum tertentu.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Catatan editor: Klinik Hukum menghubungi M. Iqsan Sirie melalui telepon pada 28 Agustus 2012, dan Melli Darsa pada 29 Agustus 2012.

 

Dasar hukum:

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat



Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Ilman Hadi, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.