Selasa, 18 Juni 2013
Dibaca: 9192
Pertanyaan :
Aturan Hak Cuti Jika Bayi Meninggal Setelah Dilahirkan
Selamat sore, istri saya adalah karyawan kontrak outsourcing pada salah satu bank BUMN, dan istri saya baru saja melahirkan dengan kondisi sebagai berikut: bayi dilahirkan pada usia 32 minggu dalam kandungan (menurut dokter maju sekitar 6 minggu dari perkiraan). Sehari setelah bayi dilahirkan, bayi meninggal dikarenakan memiliki kelainan. Pertanyaan saya, bagaimanakah hak cuti melahirkan untuk istri saya? Apakah dapat berkurang di mana kondisinya bayi telah meninggal dunia? Terima kasih.
Jawaban :

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Sebelumnya, kami turut bersimpati atas musibah yang Anda dan istri alami.

 

Cuti bersalin/melahirkan bagi pekerja/buruh perempuan diatur dalam Pasal 82 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UUK”), yang berbunyi:

(1) Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.

(2) Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

 

Dalam hal ini, menurut hemat kami, istri Anda dikategorikan telah melahirkan anak (secara prematur), dan bukan keguguran. Meskipun, si bayi meninggal dunia satu hari setelah dilahirkan. Penjelasan lebih detail mengenai hal ini, Anda dapat simak dalam artikel-artikel berikut:

-      Perhitungan Hak Cuti Jika Melahirkan Prematur

-      Penerapan Cuti Melahirkan dan Cuti Keguguran

 

Berdasarkan ketentuan tersebut, meskipun si bayi meninggal satu hari setelah dilahirkan, isteri Anda tetap berhak atas cuti bersalin/melahirkan sesuai Pasal 82 ayat (1) UUK yaitu, selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan yang apabila diakumulasi menjadi 3 bulan.

 

Kelahiran yang terjadi lebih awal (prematur) dari yang diperhitungkan oleh dokter kandungan, tidak dengan sendirinya menghapuskan/mengurangi hak istri Anda atas cuti bersalin/melahirkan. Istri Anda tetap berhak atas cuti bersalin/melahirkan secara akumulatif 3 (tiga) bulan.

 

Lebih lanjut, Penjelasan Pasal 82 ayat (1) UUK menjelaskan bahwa lamanya istirahat dapat diperpanjang berdasarkan surat keterangan dokter kandungan atau bidan, baik sebelum maupun setelah melahirkan.

 

Dasar Hukum:

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
MITRA : Bung Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi).