Selasa, 02 August 2016
Dibaca: 44580
Pertanyaan :
Cara Rujuk Jika Suami Menjatuhkan Talak Bain Shugra (Talak Kecil)
Teman saya ingin rujuk setelah jatuh talak bain shugro. Pertanyaan saya, bagaimana cara untuk kembali rujuk setelah talak bain shugro menurut hukum yang berlaku? Mohon infonya.
Jawaban :

Intisari:

 

 

Talak Bain Shugra atau talak bain kecil yaitu talak yang tidak boleh dirujuk lagi, tetapi keduanya dapat kawin kembali sesudah habis ‘iddah si perempuan. Kawin kembali ialah kedua bekas suami istri memenuhi ketentuan sama seperti perkawinan biasa, yaitu ada akad nikah, saksi, dan lain-lainnya untuk menjadikan mereka menjadi suami istri kembali.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Talak Bain Shugra

Sayuti Thalib dalam bukunya Hukum Kekeluargaan Indonesia (hal. 104) menjelaskan bahwa talak bain shugra atau talak bain kecil yaitu talak yang tidak boleh dirujuk lagi, tetapi keduanya dapat kawin kembali sesudah habis ‘iddah si perempuan yang terdiri atas:

a.    Talak itu berupa talak satu atau talak dua pakai ‘iwadh (sejumlah uang pengganti yang merupakan syarat jatuhnya talak)

b.    Begitu juga talak itu dapat berupa talak satu atau talak dua tidak pakai ‘iwadh, tetapi talaknya sebelum setubuh.

 

Arti rujuk ialah kembali terjadi hubungan suami istri antara seorang suami yang telah menjatuhkan talaq kepada istrinya dengan istri yang telah ditalaq-nya itu dengan cara yang sederhana. Caranya ialah dengan mengucapkan saja “saya kembali kepadamu” oleh si suami di hadapan dua orang saksi laki-laki yang adil. Sedangkan arti kawin kembali ialah kedua bekas suami istri memenuhi ketentuan sama seperti perkawinan biasa, yaitu ada akad nikah, saksi, dan lain-lainnya untuk menjadikan mereka suami istri kembali. Sungguhpun demikian, dalam masyarakat kita di Indonesia orang selalu menyebut kawin kembali itu dengan sebutan rujuk juga (hal. 101).

 

Talak ba`in shughraa adalah jenis putusnya perkawinan/talak yang paling mendominasi jenis perkara di Pengadilan Agama. Bain akan bersifat memutus perkawinan secara utuh, sehingga mengharuskan nikah baru untuk kembali. Demikian informasi yang kami dapatkan dari tulisan Spesifikasi Putusnya Perkawinan Karena Perceraian yang kami akses dari situs Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag).

 

Namun, dalam sebuah tulisan Perkembangan Alasan Perceraian dan Akibat Perceraian Menurut Hukum Islam dan Hukum Belanda yang kami akses dari situs Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama dijelaskan bahwa Talak Ba’in Sughra menghilangkan pemilikan bekas suami terhadap bekas istrinya tetapi tidak menghilangkan kehalalan bekas suami untuk menikahi kembali dengan bekas istrinya, artinya bekas suami boleh mengadakan akad nikah baru dengan bekas istri, baik dalam masa ‘iddah-nya maupun sesudah berakhir masa ‘iddah-nya.

 

Termasuk talak ba’in sughra adalah

1.    Talak qabla dukhul

2.    Talak dengan penggantian harta atau yang disebut dengan khulu

3.    Talak karena cacad badan, karena salah seorang dipenjara dan talak karena penganiyaan.

 

Cara Kawin Kembali

Jadi, menjawab pertanyaan Anda, jika talak bain shugra ini jatuh, ada cara yang dapat dilakukan oleh bekas suami istri itu untuk dapat kawin kembali (rujuk kembali seperti istilah yang Anda sebut), yaitu: menunggu habis masa ‘iddah si bekas istri, kemudian keduanya kawin kembali, dimana mereka memenuhi ketentuan sama seperti perkawinan biasa, yaitu ada akad nikah, saksi, dan lain-lainnya untuk menjadikan mereka suami istri kembali.

 

Adapun yang dimaksud dengan masa iddah (waktu tunggu) adalah waktu yang berlaku bagi seorang istri yang putus perkawinannya dari bekas suaminya.[1]

 

Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut:[2]

a.    Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qabla al dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari.

b.    Apabila perkawinan putus karena perceraian waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari.

c.    Apabila perkawinan putus karena perceraian sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

d.    Apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

 

Referensi:

1.    Sayuti Thalib. 1986. Hukum Kekeluargaan Indonesia. UI-Press: Jakarta.

2.    Perkembangan Alasan Perceraian dan Akibat Perceraian Menurut Hukum Islam dan Hukum Belanda, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, diakses pada 19 April 2016 pukul 14.03 WIB

3.    Spesifikasi Putusnya Perkawinan Karena Perceraian, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag), diakses pada 19 April 2016 pukul 14.13 WIB.




[1] Pasal 153 ayat (1) Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (“KHI”)

[2] Pasal 153 ayat (2) KHI

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
MITRA : Bung Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi).