Rabu, 11 Januari 2017
Dibaca: 9466
Pertanyaan :
Pengenaan Bea Masuk Terhadap Oleh-Oleh Pribadi Dari Luar Negeri
Apa dasar hukumnya mengenai tarif bea cukai untuk barang pribadi? Kenapa barang yang saya bawa dari luar negeri sebagai oleh-oleh dikenakan tarif bea cukai, kalau tidak akan ditahan oleh pihak bandara? Padahal barangnya tidak akan dijual, hanya konsumsi pribadi untuk istri saya yaitu perlengkapan make up.
Jawaban :

Intisari:

 

 

Dalam hal barang pribadi penumpang melebihi batas nilai pabean, atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

 

Batas nilai pabean yang diberikan pembebasan bea masuk adalah:

a.    Paling banyak FOB USD 250 (dua ratus lima puluh US Dollar) per orang: atau

b.    Paling banyak FOB USD 1,000 (seribu US Dollar) per keluarga untuk setiap kedatangan.

 

Apabila dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan Barang Pribadi Penumpang dengan nilai pabean melebihi nilai pabean yang diberikan pembebasan bea masuk, atas kelebihan nilai pabean tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Cukai dan Bea Masuk

Untuk menjawab pertanyaan Anda, kami akan berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (“UU 11/1995”) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 (“UU 39/2007”) dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.04/2010 Tahun 2010 tentang Impor Barang Yang Dibawa Oleh Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, dan Barang Kiriman (“Permenkeu 188/2010”).

 

Cukai, menurut Pasal 1 angka 1 UU 39/2007, adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang.

 

Yang dimaksud dengan barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yaitu:[1]

a.    konsumsinya perlu dikendalikan;

b.    peredarannya perlu diawasi;

c.    pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup; atau

d.    pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan, dikenai cukai berdasarkan undang-undang ini.

 

Barang-barang di atas dinyatakan sebagai barang kena cukai.[2]

 

Cukai dikenakan terhadap Barang Kena Cukai yang terdiri dari:[3]

a.    etil alkohol atau etanol, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya;

b.    minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol;

c.    hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan bea masuk adalah pungutan negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 yang dikenakan terhadap barang yang diimpor.

 

Mengenai barang pribadi yang Anda bawa dari luar negeri, ada yang dinamakan pembebasan cukai dan pembebasan bea masuk bagi barang milik pribadi penumpang dari luar negeri. Berikut penjelasannya:

 

Pembebasan Cukai Terhadap Barang Milik Pribadi Penumpang Dari Luar Negeri

Barang Pribadi Penumpang yang merupakan barang kena cukai, diberikan pembebasan bea masuk dan cukai untuk setiap orang dewasa dengan jumlah paling banyak:[4]

a.    200 (dua ratus) batang sigaret, 25 (dua puluh lima) batang cerutu, atau 100 (seratus) gram tembakau iris/hasil tembakau lainnya; dan

b.    1 (satu) liter minuman mengandung etil alkohol.

 

Dalam hal hasil tembakau lebih dari 1 (satu) jenis, pembebasan bea masuk dan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per jenis hasil tembakau tersebut.[5]

 

Dalam hal Barang Pribadi Penumpang yang merupakan barang kena cukai melebihi jumlah yang ditentukan maka atas kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan oleh Pejabat Bea dan Cukai dengan atau tanpa disaksikan Penumpang yang bersangkutan.[6]

 

Pengenaan Bea Masuk Terhadap Barang Milik Pribadi Penumpang Dari Luar Negeri

Berdasarkan pengelompokan barang kena cukai maka barang make up yang Anda sebukan tersebut tidak termasuk barang kena cukai melainkan dapat terkena bea masuk.

 

Dalam hal barang pribadi penumpang melebihi batas nilai pabean, atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.[7]

 

Batas nilai pabean yang diberikan pembebasan bea masuk adalah:[8]

a.    Paling banyak FOB USD 250 (dua ratus lima puluh US Dollar) per orang: atau

b.    Paling banyak FOB USD 1,000 (seribu US Dollar) per keluarga untuk setiap kedatangan.

 

Jadi, jika Barang Pribadi Penumpang nilai pabeannya tidak melebihi ketentuan di atas, maka barang-barang tersebut diberikan pembebasan bea masuk.

 

Untuk mengetahui apakah barang tersebut melebihi nilai atau tidak maka dilakukan pemeriksaan.[9]

 

Apabila dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan Barang Pribadi Penumpang dengan nilai pabean melebihi nilai pabean yang diberikan pembebasan bea masuk, atas kelebihan nilai pabean tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk.[10]

 

Berdasarkan pernyataan Anda di atas, oleh-oleh yang Anda bawa dari luar negeri tersebut bisa saja ditahan dan dikenakan bea masuk apabila melebihi ketentuan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk.

 

Penetapan Tarif Bea Masuk

Pejabat Bea dan Cukai menetapkan tarif bea masuk atas impor Barang Pribadi Penumpang.[11]

 

Penetapan tarif bea masuk didasarkan pada tarif bea masuk dari barang bersangkutan. Dalam hal barang impor lebih dari 3 (tiga) jenis barang, Pejabat Bea dan Cukai menetapkan hanya satu tarif bea masuk berdasarkan tarif barang tertinggi.[12]

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.    Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006;

2.    Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007;

3.    Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.04/2010 Tahun 2010 tentang Impor Barang Yang Dibawa Oleh Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, Dan Barang Kiriman.

 



[1] Pasal 2 ayat (1) UU 39/2007

[2] Pasal 2 ayat (2) UU 39/2007

[3] Pasal 4 ayat (1) UU 11/1995

[4] Pasal 9 ayat (1) Permenkeu 188/2010

[5] Pasal 9 ayat (2) Permenkeu 188/2010

[6] Pasal 9 ayat (3) Permenkeu 188/2010

[7] Pasal 8 ayat (2) Permenkeu 188/2010

[8] Pasal 8 ayat (1) Permenkeu 188/2010

[9] Pasal 13 dan Pasal 14 Permenkeu 188/2010

[10] Pasal 14 ayat (1) huruf e Permenkeu 188/2010

[11] Pasal 32 Permenkeu 188/2010

[12] Pasal 33 Permenkeu 188/2010

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
PENJAWAB : Sovia Hasanah, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Sovia Hasanah mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Andalas pada 2016 dengan mengambil Program Kekhususan IX (Hukum Agraria dan Sumber Daya Alam).