Selasa, 16 Januari 2018
 
Pertanyaan :
Batalnya Wasiat dalam Waris Islam Apabila Penerima Menolaknya
Kapan suatu wasiat Islam dinyatakan batal? Apakah jika seseorang (penerima wasiat) menolak untuk menerima wasiat, maka wasiat itu otomatis akan gugur? Atau jika tidak gugur/batal, bagaimana cara dan upaya bagi penerima wasiat untuk bisa membatalkan wasiat dari pemberi?
Jawaban :

Intisari:

 

 

Kompilasi Hukum Islam menjabarkan peristiwa-peristiwa yang dapat membatalkan suatu wasiat. Salah satu diantaranya adalah:

 

Penerima wasiat mengetahui adanya wasiat tersebut, tapi ia menolak untuk

menerimanya.

 

Apabila penerima wasiat mengetahui adanya wasiat dan menolak untuk menerima wasiat, maka wasiat tersebut dinyatalkan batal, sehingga tidak perlu ada upaya lain untuk membatalkan wasiat tersebut.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda,

 

Wasiat dalam Hukum Waris Islam

Untuk menjawab pertanyaan Anda, kami akan berpedoman pada Kompilasi Hukum Islam (“KHI”). Dalam waris Islam dikenal wasiat. Wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.[1]

 

Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga.[2] Pemilikan terhadap harta benda tersebut baru dapat dilaksanakan sesudah pewasiat meninggal dunia.[3]

 

Perlu diingat bahwa wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujuinya.[4] Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris.[5] Pernyataan persetujuan ini dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi atau tertulis di hadapan dua orang saksi di hadapan Notaris.[6]

 

Penjelasan selengkapnya mengenai wasiat dalam Islam dapat Anda simak artikel Wasiat Dalam Waris Islam.

 

Ketentuan Pemberian Wasiat

Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat.[7] Wasiat dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi, atau tertulis dihadapan dua orang saksi, atau dihadapan Notaris.[8]

 

Dalam wasiat baik secara tertulis maupun lisan harus disebutkan dengan tegas dan jelas siapa atau siapa-siapa atau lembaga apa yang ditunjuk akan menerima harta benda yang diwasiatkan.[9] Wasiat yang berupa hasil dari suatu benda ataupun pemanfaatan suatu benda harus diberikan jangka waktu tertentu.[10]

 

Peristiwa yang Menyebabkan Batalnya Wasiat

Kapan suatu wasiat tersebut dinyatakan batal? Wasiat dapat dinyatakan batal apabila:[11]

1. Wasiat menjadi batal apabila calon penerima wasiat berdasarkan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dihukum karena:

  • dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat kepada pewasiat;
  • dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewasiat telah melakukan sesuatu kejahatan yang diancam hukuman lima tahun penjara atau hukuman yang lebih berat;
  • dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk membuat atau mencabut atau merubah wasiat untuk kepentingan calon penerima wasiat;
  • dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat dan pewasiat.

2. Wasiat menjadi batal apabila orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat itu:

  • tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat;
  • mengetahui adanya wasiat tersebut, tapi ia menolak untuk menerimanya;
  • mengetahui adanya wasiat itu, tetapi tidak pernah menyatakan menerima atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pewasiat.

3. Wasiat menjadi batal apabila yang diwasiatkan musnah.

 

Jadi menjawab pertanyaan Anda, apabila penerima wasiat atau orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat itu menolak untuk menerima wasiat, maka wasiat tersebut dinyatakan batal, sehingga tidak perlu ada upaya lain untuk membatalkan wasiat tersebut.

 

Pencabutan Wasiat

Sebagai informasi tambahan, pewasiat dapat mencabut wasiatnya selama calon penerima wasiat belum menyatakan persetujuan atau sesudah menyatakan persetujuan tetapi kemudian menarik kembali. Pencabutan wasiat dapat dilakukan secara lisan dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akte Notaris bila wasiat terdahulu dibuat secara lisan.[12]

 

Bila wasiat dibuat secara tertulis, maka hanya dapat dicabut dengan cara tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akte Notaris. Bila wasiat dibuat berdasarkan akte Notaris, maka hanya dapat dicabut berdasartkan akta Notaris.[13]

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

Kompilasi Hukum Islam.

 

 

[1] Pasal 171 huruf f KHI

[2] Pasal 194 ayat (1) KHI

[3] Pasal 194 ayat (3) KHI

[4] Pasal 195 ayat (2) KHI

[5] Pasal 195 ayat (3) KHI

[6] Pasal 195 ayat (4) KHI

[7] Pasal 194 ayat (2) KHI

[8] Pasal 195 ayat (1) KHI

[9] Pasal 196 KHI

[10] Pasal 198 KHI

[11] Pasal 197 KHI

[12] Pasal 199 ayat (1) dan (2) KHI

[13] Pasal 199 ayat (3) dan (4) KHI

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
PENJAWAB : Sovia Hasanah, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Sovia Hasanah mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Andalas pada 2016 dengan mengambil Program Kekhususan IX (Hukum Agraria dan Sumber Daya Alam).