Selasa, 07 Agustus 2018
Pertanyaan :
Jerat Pidana Bagi Penjambret Hingga Menyebabkan Korban Mati
Belakangan banyak sekali kasus jambret tas dari sepeda motor yang mengakibatkan orang yang dijambret meninggal dunia. Apakah ini dapat dipidana dengan pasal pembunuhan?
Jawaban :
Intisari:
 
 
Pelaku yang melakukan jambret/mengambil paksa barang (tas) orang lain yang mengakibatkan orang tersebut meninggal dunia, dapat dijerat dengan Pasal 365 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) (pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan orang mati) dengan ancaman pidana penjara paling lama lima belas tahun.
 
Tetapi apabila kematian korban pada saat peristiwa penjambretan disengaja sebelumnya oleh pelaku maka perbuatan tersebut bisa dijerat dengan pasal pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 339 KUHP.
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.
 
 
Ulasan:
 
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
 
Pencurian dengan Kekerasan yang Menyebabkan Orang Mati
Jambret menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diakses melalui laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, didefinsikan sebagai:
 
renggut; rebut.
 
Kami asumsikan kasus yang Anda maksud adalah berkaitan dengan seseorang yang merenggut/merebut tas milik orang lain yang sedang menjadi penumpang di sepeda motor.
 
Mengenai kasus jambret yang menyebabkan orang meninggal dunia sebagaimana yang Anda jelaskan, dapat dipidana dengan pasal pencurian dengan kekerasan. Pasal pencurian dengan kekerasan sebagai pemberatan dari pasal pencurian biasa, diatur dalam Pasal 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), yakni:
 
Pasal 365 KUHP:
  1. Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri.
  2. Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun:
    1. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, di jalan umum, atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan;
    2. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
    3. jika masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu;
    4. jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.
  3. Jika perbuatan mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
  4. Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no. 1 dan 3.
 
Menurut R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 254), yang dimaksud dengan kekerasan adalah termasuk di dalamnya mengikat orang yang punya rumah atau menutup (menyekap korban) di dalam kamar. Kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut haruslah dilakukan terhadap orang dan bukan terhadap barang, dan dapat dilakukan sebelumnya, bersama-sama, atau setelah pencurian itu dilakukan dengan maksud untuk memudahkan pencurian tersebut. Jika tertangkap tangan, supaya ada kesempatan bagi dirinya atau kawannya yang turut melakukan akan melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu tetap berada di tangannya.
 
Lebih lanjut Soesilo menjelaskan, jika pencurian dengan kekerasan itu berakibat mati orang, ancaman hukumannya diperberat. Kematian di sini bukan dimaksudkan oleh sipembuat: apabila, kematian itu dimaksud (diniat) oleh si pembuat, maka ia dikenakan Pasal 339 KUHP (pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh suatu perbuatan pidana).
 
Pembunuhan yang Diikuti, Disertai atau Didahului oleh Suatu Perbuatan Pidana
Sebagaimana dijelaskan oleh R. Soesilo di atas, bahwa tindakan penjambretan yang membuat orang mati/pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan orang mati dapat dikatakan sebagai pebunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 339 KUHP (pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana) apabila kematian korban diniatkan (disengaja) sebelumnya oleh si pelaku. Bunyi Pasal 339 KUHP adalah sebagai berikut:
 
Pasal 339 KUHP
Makar mati diikuti, disertai atau didahului dengan perbuatan yang dapat dihukum dan yang dilakukan dengan maksud untuk menyiapkan atau memudahkan perbuatan itu atau jika tertangkap tangan akan melindungi dirinya atau kawan-kawan dari pada hukuman atau akan mempertahankan barang yang didapatkannya dengan melawan hak, dihukum penjaran seumur hidup atau penjara sementara paling lama dua puluh tahun.
 
Soesilo dalam buku yang sama (hal. 241) menjelasakan pembunahan biasa, bukan pembunuhan dengan direncanakan lebih dahulu, diancam hukuman lebih berat apabila dilakukannya dengan diikuti, disertai atau diahului dengan perisiwa pidana yang lain, akan tetapi pembunuhan itu dilakukan harus dengan maksud untuk menyiapkan atau memudahkan peristiwa pidana itu atau jika tertangkap tangan akan melidungi dirinya atau kawan-kawannya dari pada hukuman atau akan mempertaankan barang yang didapatkannya dengan malawan hak.
 
Analisis
Jadi menjawab pertanyaan Anda, pelaku yang melakukan jambret/mengambil paksa tas orang lain yang mengakibatkan orang tersebut meninggal dunia, dapat dijerat dengan Pasal 365 ayat (3) KUHP (pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan orang mati) dengan ancaman pidana penjara paling lama lima belas tahun.
 
Tetapi apabila kematian korban pada saat peristiwa penjambretan disengaja sebelumnya oleh pelaku maka perbuatan tersebut bisa dijerat dengan pasal pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 339 KUHP.
 
Contoh Kasus
Sebagai contoh kasusnya, dapat Anda simak dalam Putusan Pengadilan Negeri Jember Nomor: 306/Pid.B/2014/PN.Jmr, dimana terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana “turut serta melakukan pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan orang lain mati”.
 
Dalam kasus tersebut, terdakwa bersama rekannya dengan mengendarai sepeda motor mendekati (memepet) sepeda motor korban dan langsung menarik tas korban dengan paksa sehingga tas korban putus talinya dan berhasil diambil oleh rekan dari terdakwa. Akibat perbuatan tersebut, korban jatuh dengan kepala menghantam aspal hingga mengalami gegar otak dan meninggal. Karena perbuatannya tersebut terdakwa dihukum berdasarkan Pasal 365 ayat (3) jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan pidana penjara 15 tahun.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 
Putusan:
Putusan Pengadilan Negeri Jember Nomor: 306/Pid.B/2014/PN.Jmr.
 
Referensi:
  1. R. Soesilo. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor, 1991
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses pada 6 Agustus 2018, pukul 14.07 WIB.


Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Sovia Hasanah, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Sovia Hasanah mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Andalas pada 2016 dengan mengambil Program Kekhususan IX (Hukum Agraria dan Sumber Daya Alam).