hukumonline
 
Kode Etik Jurnalis Hukumonline

Pada dasarnya setiap organisasi pers memiliki kode etik masing-masing. Baik Dewan Pers Indonesia, organisasi profesi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maupun masing-masing media. Meski berbeda versi, pada dasarnya tiap-tiap kode etik memiliki benang merah yang sama.

Kode etik jurnalistik sangat penting guna menjunjung profesionalisme wartawan. Karena itulah, Hukumonline membuat kode etik bagi jurnalisnya. Kode Etik Jurnalis Hukumonline ini kami susun dengan tetap mempertimbangkan Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), yang telah disepakati oleh 29 organisasi jurnalis pada 24 Maret 2006.
 

    Tentang pemberian dari narasumber
  • Jurnalis Hukumonline tidak dibenarkan menerima sogokan atau amplop. Sogokan atau amplop dapat berupa uang, voucher pulsa, voucher belanja, dan voucher lainnya. Jika sulit menolak di tempat, bawa ke kantor dan dikembalikan via sekretariat redaksi. Batas waktu pengembalian barang tersebut paling lambat dua minggu. Jika narasumber masih tetap menolak, Hukumonline menyumbangkan uang tersebut atas nama si narasumber. Sumbangan dapat kami salurkan ke panti sosial, panti asuhan, rekening Departemen Sosial, dan kepentingan kemanusiaan lainnya.

  • Jurnalis Hukumonline tidak dibenarkan menerima barang-barang pemberian dari narasumber, yang dapat mempengaruhi independensinya, kecuali sebagai berikut :

    1. Barang tersebut adalah suvenir yang tak memiliki nilai jual. Misalnya mug, notes, kaos, tas, dan lain sebagainya, yang dilabeli institusi narasumber. Misalnya buku catatan dari KPK atau KPPU. Kalaupun terpaksa dijual, toh tidak secara umum mudah ditemui di pasar atau hanya menjadi barang loakan.

    2. Barang tersebut memiliki nilai nominal tak lebih dari Rp100.000. Misalnya kita menerima flashdisk berlabel sebuah bank, tetap kita kembalikan karena nilai flashdisk rata-rata lebih dari Rp100.000. Jika flashdisk tersebut mengandung data narasumber, jurnalis bisa menerimanya, mengambil data tersebut, memformat ulang, dan wajib mengembalikannya. Demikian halnya jika jurnalis menerima jaket atau jas yang bermerek mahal, meski sudah dilabeli nama organisasi.

    3. Barang tersebut berupa buku. Buku tersebut diserahkan kepada perpustakaan Daniel S. Lev. Perpustakaan tersebut merupakan afiliasi Hukumonline.

  • Jurnalis Hukumonline diperbolehkan menghadiri acara-acara non liputan untuk kepentingan menambah jaringan sumber atau wawancara si narasumber yang sedang dalam acara tersebut.

  • Dalam menghadiri acara liputan maupun non liputan, jurnalis Hukumonline tidak dibenarkan menerma doorprize. Jurnalis tidak dibenarkan memanfaatkan posisinya untuk keuntungan pribadi.

  • Jurnalis Hukumonline boleh menerima jamuan dari narasumber. Sewaktu-waktu jurnalis juga perlu menjamu narasumber. Semuanya demi kepentingan peliputan dan perolehan informasi dari narasumber.

  • Jurnalis Hukumonline boleh menerima tumpangan dalam kota narasumber.

    Tentang hadiah
  • Jurnalis Hukumonline boleh memperoleh penghasilan lain dari hadiah lomba karya tulis atau lomba yang sesuai dengan kompetensi jurnalis.

  • Sepanjang kapasitasnya sebagai jurnalis, jika mengikuti lomba selain karya tulis atau selain kompetensi jurnalis, jurnalis Hukumonline sebaiknya menolak hadiah tersebut. Misalnya, hadiah dari game competition yang selenggarakan oleh organisasi hubungan masyarakat atau narasumber.

  • Diperbolehkan menerima hadiah dari perlombaan jika kapasitasnya di luar jurnalis, misalnya hadiah undian produk atau kuis yang diperuntukkan bagi masyarakat.

    Tentang hadiah
  • Pada dasarnya Hukumonline mengusahakan menanggung semua keperluan jurnalisnya dalam peliputan luar kota atau luar negeri.

  • Jika narasumber memberikan fasilitas tiket transportasi maupun akomodasi penginapan, jurnalis diperbolehkan menerimanya atas sepengetahuan dan kesepakatan pimpinan redaksi.

  • Jurnalis Hukumonline tetap menjaga independensinya selama liputan luar kota atau luar negeri.

    Tentang plagiat
  • Jurnalis Hukumonline tidak dibenarkan menjiplak hasil karya jurnalis lain serta mengakuinya sebagai karya sendiri.

  • Jurnalis Hukumonline tidak dibenarkan merekam ulang rekaman jurnalis lainnya (kloning). Jika mendengarkan rekaman jurnalis lain, rekaman tersebut hanya sebatas informasi latar belakang dan harus dikonfirmasi ulang kepada narasumber yang bersangkutan.

  • Jurnalis Hukumonline wajib menerangkan sumber kutipan dengan jelas. Misalnya mengutip informasi dari media lain. Sepanjang, kutipan tersebut dari berita yang sudah dipublikasikan.

    Tentang sumber anonim
  • Jurnalis Hukumonline wajib melindungi identitas sumber anonim.

  • Pada dasarnya, setiap sumber anonim dilaporkan kepada pimpinan redaksi.

  • Sumber anonim diperbolehkan hanya jika si sumber berada di lingkaran pertama peristiwa.

  • Jurnalis Hukumoline mengusahakan perjanjian dengan sumber anonim, jika informasi yang diberikan sesat dan bohong, jurnalis berhak membuka identitas si narasumber demi kepentingan hukum.

    Tentang karya jurnalistik
  • Jurnalis Hukumonline tidak dibenarkan mengirimkan berita prapublikasi kepada narasumber.

  • Keberatan narasumber atas berita yang dipublikasi wajib dilayani melalui hak jawab yang proporsional.

  • Jurnalis Hukumonline segera meralat informasi yang diketahuinya salah dan tidak akurat yang terlanjur dipublikasi.

Kode etik ini, dalam perkembangannya, dapat kami lengkapi demi penyempurnaan lebih lanjut.



Jakarta, Mei 2008




Pemimpin Redaksi

Muhammad Yasin