hukumonline
197 hits
Judul Pertanyaan
Sengketa Rumah
Pertanyaan
Bapak2 Ahli Hukum di Web. Hukum Online Yth.. Istri saya adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakaknya laki2 dan adiknya perempuan. Ibunya masih hidup. Ayahnya sudah meninggal. Kami tinggal di Bekasi Saya berikan secara kronologi saja kasus yg terjadi di keluarga istri saya: Tahun 2008 bulan Juni Karena khawatir kawin lagi, ibu mertua saya menuntut ayah mertua saya untuk menghibahkan rumah yang saat itu mereka tempati (LT 77/LB 77) kepada ketiga orang anaknya, sebut saja Mr I, Mrs D (istri saya) dan Mrs R. Ironisnya, Juli 2008, sebulan setelah akta hibah dengan judul pembagian hak bersama dibuat, dan sertfikat rumah dibalik nama atas nama anak bertiga, sang ayah meninggal dunia karena kecelakaan. Tahun 2010 Ibu mertua yang janda ingin naik haji. Mrs D dan Mrs R setuju. MR I menyatakan tidak sanggup karena belum punya uang. Mr I menawarkan opsi untuk menjual rumah yang dihibahkan, dan uang pejualannya diberkan kepada ibu mertua saya untuk naik haji. Ibu mertua saya tidak setuju karena dia tidk mau pindah rumah ikut anak2nya. Tahun 2011 sekitar bulan Februari 2011 Mrs. D memberikan usulan untuk mengakhiri pembagian hak bersama atas rumah yang telah dihibahkan tersebut, dengan kompensasi sejumlah uang. perjanjiannya adalah: 1. rumah dibeli oleh salah satu anak Ibu mertua saya, yaitu Mr I, Mrs D dan Mrs R 2. Uang hasil penjualan tersebut akan diserahkan kepada ibu Mertua saya, unutk gunakan sebagai ONH, dan biaya hidup beliau 3. siapapun yang membeli rumah tersebut harus tnggal di rumah tersebut dan mengurus ibu mertua saya sampai akhir hayatnya. perjanjian tersebut dilakukan lisan tanpa hitam diatas putih. Baik Mr. I dan Mrs S, tidak mengajukan penawaran dengan alasan tidak punya uang. Namun asumsi saya saat itu mereka tidak mau menawar bukan karena tidak punya uang, tetapi karena keberatan dengan perjanjian point 3. Sebagai catatan, ibu mertua saya bukanlah orang yang mudah di beri pendampingan. Mrs. D dan Mrs R pernah hidup seatap denga ibu mertua saya dan hasilnya bentrok melulu. Akhirnya Mrs. D (istri saya dengan advis saya berani mengambil resiko untuk menawar rumah tersebut seharga 70 juta (LT 77/LB 77) untuk mengakhiri pembagian hak bersama tersebut. DAN SEMUA ANGGOTA: MR I, MRS D, MRS. R dan Ibu MERTUA SAYA SETUJU Bulan Juli tahun itu juga 2011 Mrs. D melakukan pembayaran dan melakukan BALIK NAMA Sertifikat Rumah atas nama dia (MRS.D). Akta yang dibuat isinya mengakhiri pembagian hak bersama atas nama Mr I, Mrs. D dan Mrs. R, dan menyerahkannya pada Mrs. D dengan kompensasi sejumlah uang sebesar 70 jt. Biaya pembuatan akta dan balik nama sertifikat saat itu 12 jt sehingga total biaya yang dikeluarkan adalah 82 jt. Istri saya sekeluarga mulai melakukan kewajibannya tinggal dirumah tersebut untuk mengurus ibu mertua saya. alhamdulilah pada bulan November tahun 2011 itu juga ibu mertua saya naik haji. Tahun 2012 Setelah Ibu mertua saya pulang haji, mulai terjadi perselisihan antara Mrs. D (istri saya) dan ibunya (ibu mertua saya) - ketidak cocokan dalam kehidupan berumah tangga karena ibu mertua saya terlalu mengatur. Yang berujung pada tuntutan untuk mengembalikan rumah tersebut kepada Ibu mertua saya, dengan alasan bahwa ibu mertua saya kasihan anak2nya yang lain tidak kebagian harta warisan tersebut dan Mrs. D telah melakukan aksi akal-akalan membeli rumah tersebut secara murah. Mr. I dan Mrs. R yang mulanya setuju pada perjanjian tahun 2011 tiba tiba berbalik haluan, rumah itu harus dikembalikan ke ibu dan biayanya ditanggung bertiga Mr. I mengatakan bahwa istri saya harus mengembalikan rumah tersebut demi ibu, rumah ditanggung bertiga dan dia siap membayar 1/3 dari 70 jt Mrs. R mengatakan bahwa istri saya (Mrs D) harus mengembalikan rumah tersebut karena sebenarnya dia tak pernah setuju perjanjian tahun 2011 (tetapi dia menandatangani akta pengakhiran pembagian hak bersama) dia juga siap membayar 1/3 dari 70 juta tersebut. sebagai catatan Ibu mertua saya berumur 65 tahun, sudah sepuh seorang yg lugu (pendidikan sd) dan emosinya sangat labil sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang2 yang bermaksud kurang baik. PERTANYAAN SAYA: 1. Secara Hukum, wajibkah istri saya mengembalikan rumah tersebut kepada ibu Mertua saya? Notabene nama Ibu Mertua saya tidk pernah ada dalam sertifikat rumah tersebut..? 2. Bagaimana perhitungan perdata-nya? bila istri saya menuruti kemauan Ibunya (yg sebenarnya kemauan saudara2nya) berarti uangnya hanya kembali 2/3 nya dari 70 juta. padahal biaya yang dikeluarkan istri saya hingga sertifikat tsb menjadi atas nama dia adalah sebesar 82 Jt (70 jt +12 jt) 3. Bila mereka (Mr I dan Mrs. R, menuntut secara perdata, berapa besar kemungkinan istri saya menang di pengadilan dan medapatkan kembali rumah tersebut? Saya sangat mohon advis dari Bapak2 sekalian karena istri saya saat ini sedang stress berat harus keluar dari rumah itu padahal dia sedang hamil 6 bulan dan anak kami yg kedua baru berumur 2 tahun... Atas Pencerahan Bapak-Bapak sekalian saya ucapkan banyak terima kasih.

DOKUMEN

LOKASI

» Klinik