5 Tips Ampuh Merancang Kontrak Bisnis Berkualitas untuk Pekerja Kreatif
Berita

5 Tips Ampuh Merancang Kontrak Bisnis Berkualitas untuk Pekerja Kreatif

Poin penting yang tidak boleh luput dipahami oleh para pihak yang merumuskan kontrak adalah membedakan mana perikatan yang sifatnya hanya ‘kesepahaman’ dan mana perikatan yang sifatnya ‘perjanjian’, mengingat antara keduanya memiliki konsekuensi hukum yang berbeda.

Oleh:
Hamalatul Qur'ani
Bacaan 2 Menit

 

“Hal ini dilandasi anggapan bahwa kontrak harus dibikin panjang agar fee-nya tinggi, sehingga seringkali dilakukan pengulangan kata. Ad juga anggapan bahwa orang hukum untuk menjaga eksklusifitasnya maka kontrak dibuat rumit, padahal harusnya tidak demikian,” pungkas Ery.

 

Selain itu, sambung Ery, siapa melakukan apa itu juga seringkali hilang atau kabur ketika kalimat yang digunakan menggunakan kalimat pasif. Jadi, pilihannya adalah mengubahnya menjadi kalimat aktif. Kemudian untuk merumuskan apa saja yang harus dilakukan oleh para pihak bisa dilakukan melalui 2 teknik, yakni dituangkan dalam pasal per pasal, atau menggunakan tabulasi (dalam satu pasal terdiri dari beberapa poin-poin).

 

  1. Pastikan Objeknya Jelas

Semakin spesifik objeknya semakin bagus, tukas Ery. Ery mengakui memang untuk membuat kontrak yang baik itu memerlukan waktu, artinya semakin kita tidak membaca atau tidak sempat bernegosiasi, maka resiko yang mungkin bisa terjadi juga akan semakin tinggi.

 

  1. Periksa Aspek Hak Kekayaan Intelektual (HaKI)

Dalam HaKI itu, kata Ery, ada hak moral dan ada hak ekonomi. Untuk hak moral akan melekat selama-lamanya kepada pencipta, sementara hak ekonomi adalah hak yang bisa dialihkan kepada ahli waris. Untuk hak moral, kata Ery, tidak dikenal batasan waktu perlindungan hukum atas karya cipta, berbeda dengan hak ekonomi yang berdasarkan aturan HaKI dilindungi seumur hidup si pencipta ditambah 70 tahun pasca ia meninggal dunia.

 

“Contoh hak moral seperti hak untuk selalu disebut sebagai pencipta dalam berbagai penampilan karya saat misal lukisannya dipamerkan atau lagunya ditampilkan, sementara hak moral seperti hak untuk tetap di-credit dan disebut sebagai pencipta,” jabar Ery.

 

Sebagai informasi tambahan, hukumonline telah merangkum poin-poin yang masuk dalam kategori hak moral dan hak ekonomi, yakni sebagai berikut:

 

Hukumonline.com

 

Hal Lain yang Perlu Dicermati

Selain 5 tips di atas, Ery juga menjelaskan terkait beberapa rumusan yang perlu dituangkan dan disepakati betul dalam suatu perjanjian, salah satunya terkait pendefinisian kondisi keadaan yang timbul diluar kekuasaan para pihak (force mejeur). Hal dipandang penting oleh Ery mengingat tidak semua orang memiliki pandangan yang sama soal definisi keadaan yang memaksa, terlebih untuk keadaan memaksa yang tidak langsung terjadi terhadap dirinya melainkan terhadap keluarganya.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait