Ahli: Pencalonan Gibran Sebagai Cawapres Tidak Sah
Melek Pemilu 2024

Ahli: Pencalonan Gibran Sebagai Cawapres Tidak Sah

Ketika proses pendaftaran masih menggunakan Peraturan KPU RI yang belum diubah sesuai putusan MK.

Ady Thea DA
Bacaan 3 Menit

Kemudian KPU menerbitkan Keputusan KPU No.1632 Tahun 2023 tentang Penetapan Pasangan Peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2024,  di mana konsiderannya mengutip Peraturan KPU 19/2023. Padahal peraturan itu sudah dubah menjadi Peraturan KPU 23/2023.  “Dari perspektif HAN, Keputusan KPU No.1632/2023 cacat konsideran dan cacat isi karena mencantumkan Gibran Rakabuming Raka yang tidak sah pendaftarannya,” ujarnya.

Kemudian soal diskresi KPU sebagaimana Surat KPU No.1145/PL.01.4-SD/05/2023 dinilai tidak memenuhi syarat dan tujuan diskresi sesuai aturan. Prof Ridwan menjelaskan berdasarkan UU No.30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan ada syarat dan tujuan diskresi harus terpenuhi secara kumulatif.

Pertama, tujuan diskresi, yakni melancarkan penyelenggaraan pemerintahan, mengisi kekosongan hukum, memberikan kepastian hukum dan mengatasi stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu guna kemanfaatan dan kepentingan umum. Kedua, diskresi tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan sesuai AUPB.

Ketiga, berdasarkan alasan-alasan yang objektif, tidak menimbulkan konflik kepentingan dan dilakukan dengan itikad baik. Mengacu berbagai syarat itu Prof Ridwan menyimpulkan surat KPU No.1145/2023 tidak memenuhi tujuan dan syarat diskresi. Sulit menemukan dasar atau alasan diterbitkannya surat KPU tersebut karena putusan MK No.90/PUU-XXI/2023 bukan peraturan perundangan yang mengandung norma samar (vage norma) atau norma terbuka (open texture) dan adanya pilihan (choice).

Setelah Prof Ridwan giliran advokat Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Jilid II, Patra M Zen menjelaskan advokasi secara pro bono yang dilakukannya terhadap dugaan pelanggaran etik penyelenggara pemilu yang dimohonkan aktivis demokrasi tahun 1998. Yakni Petrus Hariyanto dkk kepada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Singkatnya, DKPP mengabulkan sebagian permohonan yang diajukan dengan menjatuhkan sanksi peringatan keras terakhir kepada Ketua KPU RI Hasyim Asy’ari dan sanksi peringatan keras untuk komisioner KPU RI lainnya.

Hukumonline.com

Patra M Zen saat menjadi ahli di persidangan MK.

Dalam fakta persidangan di DKPP itu Patra mengungkapkan Direktur Jenderal Peraturan Perundangan (Dirjen PP) Kementerian Hukum dan HAM mengaku pernah mendapat surat dari KPU RI mengenai usul perubahan Peraturan KPU No.19/2023 dalam waktu 7 hari setelah 16 Oktober 2023. Dirjen PP mengembalikan surat itu dengan menyarankan untuk berkonsultasi lebih dulu kepada DPR. Setelah proses itu kemudian terbit Peraturan KPU No.23 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No.19 Tahun 2023 tentang Pencalonan Peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Alhasil, putusan DKPP menyatakan KPU RI sebagai teradu telah terbukti melanggar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu antara lain Pasal 11 huruf a dan huruf c, Pasal 15 huruf c, dan Pasal 19 huruf a Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu.

“Asas yang dilanggar KPU ini asas profesionalitas dan tidak menjamin kepastian hukum,” imbuhnya.

Tags:

Berita Terkait