Bagaimana Usaha Kita Dilirik Investor? Ini Tipsnya
Bagaimana Usaha Kita Dilirik Investor? Ini Tipsnya
Berita

Bagaimana Usaha Kita Dilirik Investor? Ini Tipsnya

Investor lebih mengutamakan perusahaan yang sudah memiliki izin.

Oleh:
Aji Prasetyo
Bacaan 4 Menit

Menurutnya, unsur people atau orang yang mendirikan perusahaan sangat penting untuk dilihat sejauh mana visi dan misi perusahaan ke depan. Jangan sampai pendiri perusahaan tidak konsisten dalam menjalankan usahanya dengan kerap kali mengubah arah kebijakan perusahaan.

Selanjutnya produk yang dijual juga menjadi salah satu unsur penting, apakah produk yang dimaksud memang benar-benar memiliki kualitas dan bisa menjadi daya tarik tersendiri. Unsur ketiga juga berkaitan dengan unsur kedua untuk melihat sejauh mana potensial penjualan ke depan.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, Natasya juga memberikan saran bagaimana melakukan efisiensi perusahaan agar bisa tetap bisa beroperasi. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah mengurangi biaya marketing. Contohnya, tidak melakukan promosi di tempat perbelanjaan karena kondisi sekarang sedang dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga cenderung tidak efektif.

“Menurut kami itu bisa ditekan, toh promo bisa dilakukan tanpa event atau acara, bisa pasang iklan secara online. Biaya pengeluaran tidak perlu keluar kota untuk promo bisa tekan biaya operasional,” pungkasnya.

Associate pada SSEK Indonesian Legal Consultants, Ahmad Charlie Rivai Malessy, menambahkan terkait dengan unsur people atau orang yang menjadi salah satu hal penting yang dilihat investor. Dari pengalamannya, unsur ini memang menjadi salah satu penentu apakah investor itu jadi menanamkan modalnya atau tidak. “Pengalaman saya itu deal cuma 15 menit, 3 P itu penting tapi people itu penting banget, karena kalau sudah percaya people barang mau ditarik gimana juga ya percaya,” tuturnya.

Teliti

Partner pada kantor hukum SSEK Indonesian Legal Consultants, Dewi Savitri Reni, meminta para pengusaha startup atau pemilik perusahaan lebih teliti dalam membaca suatu perjanjian. Jangan sampai karena terbuai dengan gelontoran dana yang melimpah para pengusaha atau pemilik perusahaan langsung membubuhkan tanda tangannya tanpa mempelajari isi perjanjian lebih dulu.

Bahkan menurut wanita yang kerap disapa Vitri ini, sebaiknya pemilik perusahaan perlu meminta nasihat hukum agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Dilihat dari pengalaman yang ia miliki, rata-rata investor startup berada di Singapura karena pajak yang jauh lebih kecil dan regulasi yang lebih mudah daripada Indonesia.

Jika nanti ada sengketa maka perlu dirundingkan lebih dulu akan menggunakan badan arbitrase Singapura (SIAC) atau BANI. “Di Singapura di dispute resolution forum bisa pilih BANI, SIAC, mana arbitrase yang lebih mudah. Kalau pilih SIAC itu lebih mahal tapi kalau BANI kan lagi berantem. Saya bukannya promosi ya bukan, tetapi sebaiknya gunakan nasihat hukum, mau sama siapa saja yang dipercaya dan mempunyai pengalaman untuk membantu,” jelasnya.

Vitri menambahkan dalam menilai suatu perusahaan pihaknya melakukan uji tuntas dan membagi dalam tiga kriteria yaitu dengan resiko tinggi, rendah dan sedang tergantung dari implikasinya. Contoh apabila perusahaan itu tidak pernah melakukan RUPS, lalu direktur perusahaan menjabat lebih dari waktu yang ditentukan hal itu masih bisa dibenahi. Namun yang berisiko tinggi adalah ketika perusahaan itu terancam pembekuan usaha, pencabutan izin dan pemberian sanksi baik materi atau pidana.

Tags:

Berita Terkait