Bakal Digelar Pameran Internasional Energy & Engineering Terbesar di Asia Tenggara
Bakal Digelar Pameran Internasional Energy & Engineering Terbesar di Asia Tenggara
Terbaru

Bakal Digelar Pameran Internasional Energy & Engineering Terbesar di Asia Tenggara

Pameran yang digelar di Jakarta International Expo Jakarta akan diikuti 900 peserta pameran dari 30 negara. 5 pameran berskala internasional yang akan digelar meliputi Electric&Power Indonesia, Oil & Gas Indonesia, Mining Indonesia, Construction Indonesia, dan Concrete Show Southeast Asia.

Oleh:
Ady Thea DA
Bacaan 2 Menit
Narasumber dalam acara Pre-event Media Briefing IEE 2022 Series di Jakarta, Rabu (31/8/2022). Foto: ADY
Narasumber dalam acara Pre-event Media Briefing IEE 2022 Series di Jakarta, Rabu (31/8/2022). Foto: ADY

Berbagai sektor industri mulai menggeliat setelah 2 tahun terakhir terdampak pandemi Covid-19. Melihat perkembangan tersebut sektor industri pertambangan, energi, dan konstruksi dari berbagai negara bersiap untuk berpartisipasi dalam pameran dagang yang diklaim terbesar di Asia Tenggara yakni Indonesia Energy & Engineering (IEE) 2022 Series. Pameran yang diselenggarakan PT Pamerindo Indonesia rencananya berlangsung pada 14-17 September 2022 di Jakarta International Expo, Kemayoran yang akan diikuti 900 peserta pameran dari 30 negara.

Pameran akan menampilkan 2.700 produk dan jasa. Kegiatan itu terdiri dari 5 pameran berskala internasional yakni Electric&Power Indonesia, Oil & Gas Indonesia, Mining Indonesia, Construction Indonesia dan Concrete Show Southeast Asia. Country General Manager PT Pamerindo Indonesia, Mr Ben Wong, mengatakan acara tersebut merupakan bentuk dukungan Pamerindo terhadap industri dan investasi serta program pemerintah di era bangkitnya industri setelah pandemi Covid-19.

“Sebanyak 25 persen peserta pameran akan meluncurkan produk baru di Indonesia dan 6 persen peserta akan meluncurkan produk baru di Asia,” kata Wong dalam acara Pre-event Media Briefing IEE 2022 Series di Jakarta, Rabu (31/8/2022).

Pameran itu menurut Wong sebagai wadah untuk memberikan solusi dari berbagai tantangan yang dihadapi 5 sektor industri. Termasuk tantangan dalam transisi energi yang dapat di utilisasi secara maksimal guna menggerakkan ekonomi nasional dan global.

Bagi Wong, transisi energi konvensional menuju terbarukan menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri. Investor juga menaruh ekspektasi tinggi pada perusahaan untuk mengambil inisiatif cepat dalam mendukung peralihan energi. Energi baru terbarukan (EBT) dapat menjadi solusi dalam memperkaya bahan baku yang digunakan, sejalan dengan rencana strategis pemerintahan 2022-2024.

“Indonesia punya target 25 persen proposi EBT dari total produksi pada tahun 2025,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Mustiko Saleh, mengatakan pameran itu merupakan kolaborasi semua kegiatan industri mulai dari migas sampai konstruksi. Sumber energi Indonesia ke depan tidak boleh bertumpu pada fosil, tapi EBT salah satunya energi surya. Listrik yang dihasilkan dengan menggunakan tenaga matahari relatif lebih murah dibandingkan lainnya. Tapi memang teknologinya perlu terus dikembangkan agar optimal.

“Kita harus targetkan 2040 Indonesia jangan tergantung energi fosil,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) Bambang Tjahjono, mengatakan batubara menghasilkan karbondioksida. Mengingat penggunaan batubara sebagai sumber energi mulai dihindari, tapi faktanya produksi listrik terbesar menggunakan batubara, air, dan nuklir.

Energi surya masih butuh waktu untuk dikembangkan secara sempurna karena untuk menghasilkan listrik sebanyak 1 mega watt dibutuhkan 1 hektar lahan dan baterai penampung energinya juga mahal. Begitu juga energi angin yang sulit didorong untuk memproduksi listrik berskala besar. “Memang butuh waktu membuat teknologi itu semakin murah operasionalnya,” tuturnya.

Sambil menunggu penyempurnaan teknologi untuk memanfaatkan energi terbarukan, Bambang mengatakan pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar batubara masih dibutuhkan. Berjalan paralel, perlu dikembangkan juga teknologi yang mampu menekan kadar Co2 yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara.

Tags:

Berita Terkait