Bukan Pandai Menghafal, Ini Kiat-kiat Dapat Nilai A di Fakultas Hukum
Utama

Bukan Pandai Menghafal, Ini Kiat-kiat Dapat Nilai A di Fakultas Hukum

Mulai dari menanamkan rasa keingintahuan dalam diri, rajin mengkaji berbagai literatur, sampai dengan giat berdiskusi.

Oleh:
Ferinda K Fachri
Bacaan 3 Menit

"Justru bagi dosen, menemukan mahasiswa yang berpikiran (mengetahui informasi dan pengetahuan) lebih dari kita itu suatu hal yang 'keren' ya. Ketika dosen melihat potensi itu tentu akan menjadi salah satu pertimbangan penilaian. Artinya, mahasiswa yang kita ajarkan itu mahasiswa yang memahami," ujarnya.

Bila secara prestasi dan keilmuan mahasiswa telah diperhatikan oleh dosen, menurutnya nilai yang amat baik akan mengikuti. "Mulai mencari literatur yang memang terkait mata kuliah itu dan biasakan membandingkan dengan teori satu dengan yang lainnya. Itu akan membuat kita, dosen, melihat (potensi) mahasiswa berprestasi," sambungnya.

Ia berpesan untuk mahasiswa berhenti menjadikan kuliah sebatas rutinitas atau kebiasaan semata. Sebaliknya, kuliah dijadikan sebagai suatu kebutuhan mahasiswa dalam menimba ilmu. Lalu mulai membuka diri dengan berbagai literatur yang ada.

"If you want to know something, why don't you come to the places, see it, experience it, and maybe participate in it. Artinya, kalau anda mau tau suatu hal, tidak cukup hanya melihat. Datangi, rasakan, ikut bagian dari partisipasi di dalam sana," ujar Ryan.

Mengenai Karakteristik "Si Mahasiswa Nilai A"

Perihal mahasiswa hukum yang mempunyai stereotip 'jago ngomong' di kelas, Ryan tidak melihatnya sebagai suatu tolok ukur. Pada dasarnya tiap mahasiswa mempunyai gaya masing-masing dalam mengemukakan pendapat.

Di antaranya memang ada mahasiswa yang lebih pandai dalam menyampaikan pendapat secara lisan, tetapi juga ada yang lebih pandai dalam menyampaikan lewat tulisan.

"Dua-duanya menurut saya tetap punya kesempatan dapat nilai bagus. Mahasiswa berprestasi. Jadi tidak dibatasi (hanya yang jago bicara). Semua akan kembali lagi pada semangat mahasiswa dalam menimba ilmu dan keinginan untuk memperoleh nilai terbaik," katanya.

Ryan berpesan bahwa ilmu merupakan suatu kebahagiaan, sehingga jangan dijadikan suatu beban. Memahami suatu hal menjadi kebutuhan dan selanjutnya keinginan tahuan yang dimiliki itu akan dijawab dengan hasil nyata berupa pemahaman yang diperoleh.

Pasalnya, ilmu baru dapat diterima dari usaha yang dilakukan. Dengan demikian, semangat juga menjadi kunci untuk dikedepankan. "Ingat, ilmu hukum itu bukan ilmu menghafal, tetapi ilmu hukum adalah you playing the logic. Ilmu hukum itu memahami hubungan norma," imbuh alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

"Cerdas tanpa moral percuma. Usaha jalan, tetap kita harus punya moral dalam tindakan kita, kepada pencipta kita. Itu semua akan memberi kekuatan kepada kita. Memang tidak ada yang mudah, semua harus dicapai dengan kerja keras. Bagi orang-orang yang mau berusaha, pasti ada jalan kok," pungkasnya.

Tags:

Berita Terkait