Terbaru

Calon Ketum dan Sekjen AKPI Yudhi-Nahot Kunjungi Hukumonline

Keduanya berbagi cerita di balik pencalonannya sebagai caketum dan sekjen AKPI dan menyampaikan 3 hal komitmen pembeda yang dijadikan program bila terpilih.

Oleh:
Ferinda K Fachri
Bacaan 3 Menit
Calon ketua umum dan sekretaris jenderal AKPI Yudhi Wibisana dan Andreas Nahot Silitonga (tengah) saat mengunjungi Hukumonline, Rabu (29/6/2022). Foto: RES
Calon ketua umum dan sekretaris jenderal AKPI Yudhi Wibisana dan Andreas Nahot Silitonga (tengah) saat mengunjungi Hukumonline, Rabu (29/6/2022). Foto: RES

Salah satu pasangan calon ketua umum (ketum) dan sekretaris jenderal (sekjen) Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) Periode 2022-2025, Yudhi Wibisana dan Andreas Nahot Silitonga, menyambangi kantor Hukumonline, Rabu (29/6/2022). Keduanya berbagi cerita di balik pencalonannya sebagai paslon caketum dan sekjen AKPI sekaligus menyampaikan 3 hal komitmen yang akan dijalankan bila terpilih.

“Kita maju berdua bukan karena melihat ada hal yang tidak baik (dalam kepengurusan AKPI sebelumnya, red), bukan. Kita ini maju untuk lebih menguatkan lagi, untuk lebih meluaskan lagi,” ujar Yudhi Wibisana yang ditemani Andreas Nahot, Eric Manurung, dan Chandra Kurniawan.

Dalam kunjungan dan pertemuan ini, pihak Hukumonline diwakili Chief Content Officer Amrie Hakim, Pemimpin Redaksi Fathan Qorib, dan Digital Business Manager M Agung Djahuri.

Terdapat tiga hal pembeda yang ditawarkan Yudhi-Nahot jika terpilih menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal AKPI Periode 2022-2025. Pertama, menjabat hanya satu periode. Kedua, untuk mencegah conflict of interest, keduanya tidak akan bersedia ditunjuk sebagai kurator atau pengurus. Ketiga, membentuk dewan pakar.

“Mungkin ini hal pembeda dari yang lain. Bukan berarti kami lebih baik, tapi pembeda. Saya dengan teman-teman bikin pakta integritas bahwa kita harus komit pegang 3 hal ini,” kata dia.

Baca Juga:

Keduanya, sama-sama memiliki concern terhadap regenerasi dan berencana memperkecil gap kompetensi antara junior dengan senior. Melalui Focus Group Discussion (FGD), coaching clinic, atau persoalan lain yang dialami anggota junior agar dapat disampaikan kepada senior untuk bisa membantu sharing ilmu dalam rangka melahirkan kurator-kurator yang jauh lebih andal.

Tags:

Berita Terkait