Ekonomi Bisa Berhenti Jika Investasi Bahan Bakar Fosil Dihilangkan
Berita

Ekonomi Bisa Berhenti Jika Investasi Bahan Bakar Fosil Dihilangkan

Investasi batu bara menimbulkan paradoks antara ekonomi dan lingkungan.

KAR
Bacaan 2 Menit

“Untuk pembangunan itu kita membutuhkan pembiayaan baik nasional maupun internasional. Jepang pemain utama PLTU. Dan ironisnya, di saat negara dunia sedang mengurangi impor batu bara, Pemerintah dengan kebijakan nawacitanya, juga kebijakan korporasi mengalihkan pasar batu bara dari luar negeri ke dalam untuk mengurangi kompensasi penurunan ekspor,” keluhnya.

Pembangunan PLTU yang dilakukan oleh pihak Jepang pun, menurut Pius tak adil. Sebab, teknologi yang digunakan berbeda dengan apa yang dipakai di Negeri Matahari Terbit itu. Menurut Pius, teknologi PLTU di Indonesia yang dipakai Jepang memiliki konsentrasi emisi sepuluh kali lebih besar.

“Di saat PLTU di Jepang masih menghasilkan 10% sulfur oksida, PLTU di Indonesia dengan menggunakan teknologi Jepang menghasilkan 227% sulfur oksida,” tandasnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Departemen Penelitian dan Regulasi Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Edi Setijawan, menuturkan pendanaan bank yang dinilai menyumbang emisi, perlu dilihat secara komprehensif tidak hanya dari dampak lingkungan.

Ia pun menjelaskan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami defisit energi yang masih besar. Kalau impor energi sudah menurun dan ekonomi stabil, maka Rupiah akan menguat. Selain itu, Edi juga menyayangkan jika batu bara di Indonesia tidak dimanfaatkan. Menurutnya, hal itu merupakan berkah yang harus diolah.

"Kalau kita hilangkan investasi untuk bahan bakar fosil, ekonomi kita akan berhenti. Kalau perbankan melarang kredit mining, terus siapa yang membiayai sektor energi?," pungkasnya.

Tags:

Berita Terkait