Irfan Setiaputra, 'Kapten' di Balik Suksesnya Restrukturisasi Garuda Indonesia
CEO of the Month

Irfan Setiaputra, 'Kapten' di Balik Suksesnya Restrukturisasi Garuda Indonesia

Setelah melalui proses restrukturisasi utang Garuda yang disebut-sebut sebagai terbesar dalam sejarah korporasi di Indonesia, kini pendapatan perlahan mulai kembali naik seiring berakhirnya masa Pandemi Covid-19 dan normalnya bisnis perjalanan penerbangan.

Oleh:
Ferinda K Fachri
Bacaan 6 Menit

Beratnya beban yang dipikul membuat maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia itu harus membentuk tim khusus yang mempelajari “dos and don’ts” dari PKPU. Meski fokus utama mereka tetap merancang proposal perdamaian yang kiranya dapat diterima para pihak. Lebih lanjut, pendekatan yang dilakukan Irfan bersama jajaran Direksi Garuda Indonesia adalah menyerahkan secara langsung proposal-proposal tersebut tanpa perantara pengacara atau pihak lain.

“Saya bagi tugas dengan direksi (bernegosiasi dengan kreditur). Tapi akhirnya mereka (para kreditur) setuju juga. Tidak punya pilihan. Karena kalau Anda tidak setuju terus kita kemudian bangkrut, Anda malah cuma dapat 3%. Dari 20% jadi 3%. Karena aset kita sedikit, pesawat itu semua sewa,” ujarnya. 

Berdasarkan perjalanan panjang yang dilalui bersama tim di Garuda Indonesia dan para konsultan, Irfan memandang kunci dari keberhasilan lolosnya PKPU tak terlepas dari negosiasi yang baik dan proposal yang masuk akal. Namun ternyata, di samping kedua hal itu, salah satu faktor yang jadi pertimbangan sejumlah kreditur adalah keikutsertaan Irfan yang merupakan Direktur Utama dalam bernegosiasi dengan para kreditur.

Jadi bukan hanya sebab kondisi yang dialami Garuda Indonesia adalah sama dengan semua maskapai penerbangan lain di seluruh dunia, melainkan sincerity atau ketulusan dari pucuk pimpinan perusahaan yang tanpa perantara untuk terjun menghadapi kreditur menjadi catatan tersendiri. Dirinya mengaku tidak terlalu mengambil pusing, sederhananya apa yang dilakukan adalah hal yang seharusnya dilakukan. Tapi ternyata tak banyak Dirut yang berpikiran serupa.

“Kalau Anda seorang pemimpin dalam kondisi glory (perusahaan Berjaya) Anda mesti di depan. Tapi dalam kondisi susah, Anda juga harus di depan. Jangan cuma mau take the glory (mengambil kejayaan), kalau lagi susah orang lain yang disuruh. Pikiran saya begitu waktu itu. Tidak mungkin bisa menghindar. Ternyata itu menimbulkan apresiasi dari para kreditur. Mereka pun apresiasi sudah minta maaf.”

Hukumonline.com

Setelah melalui kompleksitas dari proses restrukturisasi utang Garuda yang digadang sebagai yang “terbesar dalam sejarah korporasi di Indonesia”, sekarang pendapatan maskapai penerbangan yang telah berdiri sejak 26 Januari 1949 itu perlahan mulai kembali naik seiring berakhirnya masa pandemi Covid-19 dan normalnya bisnis perjalanan penerbangan.

Seperti dilansir CNBC Indonesia, pertumbuhan pendapatan usaha konsolidasi tercatat mencapai 40% di tahun kinerja 2023 atau sekitar US$2,94 miliar jika dibandingkan dengan pendapatan usaha di tahun sebelumnya sebesar US$2,1 miliar. Pendapatan tersebut dikatakan memperoleh dorongan dari pendapatan penerbangan berjadwal yang naik 41% y-o-y ke angka US$2,37 miliar. 

Tags:

Berita Terkait