Menelusuri Jejak Perlawanan Kriminalisasi Pengawas Boedel Pailit
Feature

Menelusuri Jejak Perlawanan Kriminalisasi Pengawas Boedel Pailit

Butuh perjuangan berat untuk melawan kriminalisasi. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Jandri Onasis Siadari dan Ali Sumali Nugroho saat bertugas dalam perkara PKPU. Kriminalisasi rupanya berdampak secara luas pada kehidupan keduanya, mulai dari gangguan psikis hingga karier.

Fitri Novia Heriani
Bacaan 9 Menit

Alhasil, sejak tersandung kasus pidana itu, hingga saat ini Jandri mengaku dirinya tidak pernah mendapatkan klien baru. Memang ada beberapa klien existing yang masih tetap menggunakan jasa hukumnya, namun tak sedikit pula klien yang memilih ‘angkat kaki’. Kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab kepada keluarga membuat Jandri harus segera bangun dari periode ‘hiatus’. Beruntung dia memiliki lingkungan pertemanan yang masih mendukung kariernya.

Hukumonline.com

Jandri Onasis Siadari. Foto: RES

“Saya benar-benar mengandalkan pergaulan karena dari situ saya dapat klien,” tutur Jandri.

Pekerjaan yang ditawarkan pun tidak selalu menjadi pengurus/kurator. Sesekali dia mengambil pekerjaan sebagai penasihat hukum mewakili kreditur atau debitur dan beberapa perkara perdata, namun menolak menangani perkara pidana dengan alasan trauma.

“Kalau pidana mungkin ada aspek trauma tadi, jadi tidak mudah menerima,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Upaya kriminalisasi ini rupanya tak hanya dirasakan oleh Jandri. Pada rentang waktu yang sama, seorang kurator bernama Ali Sumali Nugroho ‘ketar-ketir’ saat menghadapi empat laporan pidana sekaligus pasca menangani PKPU PT Kymco Lippo Motor Indonesia.

Saat menceritakan kembali pengalaman mendebarkan dalam perjalanan kariernya itu, Ali mengungkap jika dirinya memahami risiko pekerjaan yang diembannya sebagai seorang pengawas boedel pailit. Namun dia tidak menyangka akan mendapatkan banyak ‘serangan’. Empat laporan pidana itu memberikan shock therapy, terutama secara psikis.

“Secara manusiawi dampak psikis ada dan terasa walaupun dari laporan-laporan polisi itu tidak satupun ada penahanan,” kisahnya. Apalagi ketika laporan naik ke tahap penyidikan dan terjadinya perubahan status sebagai tersangka, tekanan yang dirasa bertambah dua kali lipat.

Jika mengingat peristiwa kriminalisasi kala itu, Ali mengaku masih merasakan kelelahan yang luar biasa. Bayangkan saja, dia harus menjalani dan melawan kriminalisasi selama lima tahun dalam periode 2010 hingga 2014. Tidak saja menyita waktu dan tenaga, namun juga menyita pikiran dan juga dana yang tidak sedikit. Kelelahan yang dirasakannya secara tidak langsung turut mengubah atau mengesampingkan potensi-potensi pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait