Menelusuri Jejak Perlawanan Kriminalisasi Pengawas Boedel Pailit
Feature

Menelusuri Jejak Perlawanan Kriminalisasi Pengawas Boedel Pailit

Butuh perjuangan berat untuk melawan kriminalisasi. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Jandri Onasis Siadari dan Ali Sumali Nugroho saat bertugas dalam perkara PKPU. Kriminalisasi rupanya berdampak secara luas pada kehidupan keduanya, mulai dari gangguan psikis hingga karier.

Fitri Novia Heriani
Bacaan 9 Menit

Sebagai korban kriminalisasi, Jandri dan Ali berjuang keras untuk lepas dari semua sangkaan tidak benar yang ditujukan kepada mereka. Perjuangan itu mereka upayakan dalam proses persidangan dengan menghadirkan bukti-bukti dan keterangan ahli. Langkah ini membuahkan hasil. Tentu saja tak luput dari campur tangan dan bantuan rekan-rekan advokat dalam persidangan, yang sukses mendudukkan pemahaman bahwa perkara kepailitan ada di ranah perdata bukan pidana.

Bagi Ali, seharusnya kriminalisasi itu tidak terjadi andai semua pihak memahami esensi dari UU Kepailitan. Bukan berarti kurator resisten terhadap laporan pidana, tidak! Namun jika UU Kepailitan sudah dipahami secara menyeluruh oleh pihak terkait termasuk  penegak hukum, maka kesalahpahaman yang terjadi selama proses PKPU tidak selayaknya berlabuh ke ranah pidana. Hal ini pula yang dialami Ali saat dirinya berstatus tersangka. 

“Ketika kurator/pengurus dalam tugasnya dianggap telah melakukan kesalahan/kekeliruan dalam tugasnya maka tidak bisa secara sembarangan diselesaikan dengan laporan polisi,” ujarnya. 

Selama menjalani proses pemeriksaan, Ali mengontrol dirinya untuk terus berpikiran positif. Dia tak pernah absen dan kooperatif dalam proses pemeriksaan. Menurut Ali, mungkin atas dasar itu pula penyidik tidak menahan dirinya setelah ditetapkan sebagai tersangka hingga PN Bekasi menyatakan dirinya tak bersalah pada Juli 2014.

Lain halnya dengan Jandri. Tak butuh waktu lama bagi Jandri untuk ‘bermalam’ di rutan setelah berstatus sebagai tersangka. Meski bak terkukung di dalam sangkar, Jandri tak sedikitpun merasa kesepian. Nyaris setiap hari dia menerima kunjungan dan asistensi dan orang-orang terdekat, rekan sejawat, dan juga teman-teman se-almamater. Hal ini pula yang membuat dirinya merasa ‘ringan’ saat melewati hari-hari di dalam tahanan. Kini pria murah senyum ini fokus membangkitkan kembali image-nya di mata publik dan klien. Dia tak lagi memikirkan trauma yang justru menjadi ‘penyakit’ dalam kariernya. 

“Yang kecil sekalipun kalau memang orang percaya kita dan ada waktu atau kesempatan untuk menangani, ya harus,” akunya.

Perlindungan Kurator

Saat tersandung kriminalisasi, Jandri dan Ali segera mengambil langkah hukum. Keduanya mungkin bisa dikatakan memilih langkah yang sama yakni membentuk tim hukum sendiri tanpa melibatkan wadah organisasi yang menaungi profesi. Dalam memutuskan langkah ini tentunya bukan tanpa alasan. Bagi Jandri, penetapan dirinya sebagai tersangka berujung dengan penahanan membuat pikirannya seketika blank, tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa, termasuk kepada IKAPI selaku organisasi tempatnya bernaung. 

Tags:

Berita Terkait