Mengenal Investasi Pasar Modal Syariah
Edsus Lebaran 2023

Mengenal Investasi Pasar Modal Syariah

Meski negara mayoritas muslim, kapitalisasi industri pasar modal syariah Indonesia masih di bawah konvensional. Tapi pasar modal syariah memiliki keunggulan berupa rasa aman bagi investor.

Oleh:
Mochamad Januar Rizki
Bacaan 5 Menit

Paket peraturan tersebut yaitu Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal. Selanjutnya, pada tanggal 31 Agustus 2007 Bapepam-LK menerbitkan Peraturan Bapepam dan LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah dan diikuti dengan peluncuran Daftar Efek Syariah pertama kali oleh Bapepam dan LK pada tanggal 12 September 2007.

Kehadiran UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) memperluas produk pasar modal syariah. Dengan UU SBSN, pemerintah memiliki dasar hukum menerbitkan surat berharga syariah negara atau sukuk negara. Untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia menerbitkan SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.

Perlu diketahui, produk pasar modal syariah berupa surat berharga atau efek syariah. Efek Syariah yang telah diterbitkan di pasar modal Indonesia meliputi saham syariah, sukuk dan reksadana syariah. Nah, saham syariah yaitu surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan tersebut dengan prinsip syariah.

Tidak semua saham yang diterbitkan oleh emiten dan perusahaan publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh emiten dan perusahaan publik yang jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Kemudian, emiten dan perusahaan publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Selanjutnya, terdapat efek syariah berupa sukuk yang diserap dari kata "sakk" dalam bahasa Arab dengan pengertian sertifikat atau bukti kepemilikan.

Sukuk merupakan istilah pengganti dari obligasi syariah. Sukuk memiliki karakteristik yang berbeda dengan obligasi. Sukuk bukan merupakan surat utang, melainkan bukti kepemilikan bersama atas suatu aset maupun proyek yang dijadikan underlying asset. Sukuk harus digunakan untuk kegiatan usaha yang halal. Imbalan bagi pemegang sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau marjin, sesuai dengan jenis akad yang digunakan dalam penerbitan sukuk.

Ada juga efek syariah berupa reksadana yang merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait