Utama

Mengenal Peran Linguistik dan Psikologi Forensik dalam Penegakan Hukum

​​​​​​​Perpaduan antara ilmu hukum dengan cabang ilmu lain seperti linguistik dan psikologi memberi manfaat besar dalam penegakan hukum.

Oleh:
Mochamad Januar Rizki
Bacaan 3 Menit
Mengenal Peran Linguistik dan Psikologi Forensik dalam Penegakan Hukum
Hukumonline

Perpaduan ilmu hukum dengan cabang ilmu lainnya telah diterapkan sejak lama khususnya dalam penegakan hukum. Seperti diketahui, ilmu kedokteran forensik seringkali diminta penegak hukum untuk membantu pemeriksaan pada perkara pidana. Hasil pemeriksaan forensik tersebut disampaikan dokter yang diminta kepolisian sebagai ahli dalam persidangan.

Seiring waktu, pemeriksaan forensik mengalami perkembangan tidak hanya kedokteran tapi juga ilmu linguistik dan psikologi. Menggunakan teori-teori serta hasil penelitian, ilmu linguistik dan psikologi membantu penegak hukum memeriksa alat bukti, korban, saksi hingga pelaku untuk memvalidasi keterangan yang didapatkan. Hal ini dibutuhkan karena penegakan hukum tidak dapat asal tebak atau berdasarkan dugaan saja.

Dalam webinar “Pengantar Linguistik Forensik dan Psikologi Forensik dalam Sistem Peradilan Pidana”, akademisi linguistik forensik dan pengurus Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Nur Indah Jazilah menerangkan linguistik forensik dapat berperan membantu penegak hukum menyelesaikan perkara hukum seperti tindak pidana. Linguistik forensik dapat digunakan untuk memeriksa berbagai alat bukti seperti surat ancaman, surat bunuh diri atau suicide note hingga menganalisis kebahasaan lainnya sehubungan perkara.

Salah satu teori dalam linguistik forensik yaitu sintaksis atau cabang ilmu yang mengkaji seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frasa. Menurut Nur, setiap manusia memiliki karakteristik atau linguistic fingerprint masing-masing yang dapat dibedakan sehingga dapat memvalidasi alat bukti kebahasaan tersebut.

“Setiap orang dalam membentuk kata dan kalimat berbeda maka ada linguistic fingerprint. Bahkan sampai hal terkecil seperti penggunaan emoji dan tanda baca,” jelas Nur.

Sayangnya, dia menjelaskan, ilmu linguistik forensik Indonesia belum berkembang optimal. Padahal, penggunaan linguistik forensik sudah lazim diterapkan oleh penegak hukum negara-negara maju. Bahkan, linguistik forensik telah berhasil membantu mengungkap berbagai perkara hukum seperti kasus salah tangkap Timothy Evans dan pemboman berantai di universitas dan maskapai London.

Selain itu, Nur mengatakan secara umum linguistik sangat berperan dalam dunia hukum. Ilmu linguistik dapat diterapkan pada proses penyusunan perundang-undangan. Dia menjelaskan fenomena kesulitan memahami bahasa hukum bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga global.

Tags:

Berita Terkait