Nadya Noorfairuza, Pengacara Muda yang Berkarya Bersama Teknologi
Hukumonline's NeXGen Lawyers 2023

Nadya Noorfairuza, Pengacara Muda yang Berkarya Bersama Teknologi

Menurut Nadya, dunia hukum sangat dinamis, dan mengharuskan konsultan hukum untuk menjadi lifelong learner yang terus memperbarui pengetahuan dan keahliannya.

Tim Hukumonline
Bacaan 4 Menit
Foto: Nadya Noorfairuza, Adnan Kelana Haryanto & Hermanto (AKHH)
Foto: Nadya Noorfairuza, Adnan Kelana Haryanto & Hermanto (AKHH)

Semangat tinggi untuk self-improvement dan kemampuan untuk cepat belajar serta terus beradaptasi menjadi kunci kesuksesan Nadya Noorfairuza dalam bekerja di era penuh perubahan ini.

Pandemi COVID-19 membawa banyak perubahan terhadap cara kerja pengacara. Dinamika ini pastinya sangat dirasakan oleh Nadya Noorfairuza, 24 tahun, associate lawyer termuda di firma hukum Adnan Kelana Haryanto & Hermanto (AKHH).

Hanya seminggu setelah hari pertamanya di AKHH di tahun 2020, kondisi pandemi yang kian memburuk dan memaksa semua karyawan AKHH untuk bekerja dari rumah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk Nadya, untuk menjalani profesi di AKHH sebagai pekerjaan pertamanya selepas lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia di tahun yang sama.

Namun, hal ini tidak menghambat Nadya untuk berkontribusi besar di AKHH. Di awal karier dan usianya yang muda ini, ia berkesempatan untuk terjun dalam transaksi-transaksi besar dengan keterlibatan berbagai macam industri. Selain itu, ada akuisisi perusahaan-perusahaan di bidang ketenagalistrikan, pertambangan, telekomunikasi, perdagangan, hingga transaksi-transaksi pembiayaan internasional dan pasar modal yang ikut ditanganinya.

Di tahun pertama dan keduanya, Nadya menangani berbagai transaksi high profile seperti mewakili Mitsui & Co., Ltd. dalam penjualan seluruh sahamnya dalam PLTU Paiton, mewakili TEPCO Renewable Power, Inc dalam akuisisi PT Kencana Energi Lestari Tbk, Inc, dan mewakili grup Iron Mountain dalam akuisisi PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk.

Nadya juga dipercaya untuk memegang transaksi proyek joint venture antara salah grup perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia, PT Merdeka Copper Gold Tbk, dengan Tsingshan Group. Nadya memimpin proses uji tuntas hukum atas 11 perusahaan yang akan diakuisisi oleh klien, dan berperan besar dalam membantu transaksi tersebut sampai dengan penyelesaiannya di tahun 2022.

Transaksi ini cukup kompleks karena melibatkan banyak industri. Sebanyak 11 perusahaan yang menjadi target akuisisi bergerak di bidang usaha yang berbeda-beda, termasuk pertambangan nikel, smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), pertambangan batu gamping, sampai perkebunan dan pengoperasian kawasan industri.

Tags: