Resep Generasi Penerus Menjaga Nama Besar Law Firm Ternama
Law Firm Story

Resep Generasi Penerus Menjaga Nama Besar Law Firm Ternama

Ada beragam cara yang dilakukan firma hukum terkemuka yang telah berdiri selama puluhan tahun dalam upaya menjaga nama baik dan reputasi yang dimiliki.

Oleh:
Ferinda K Fachri
Bacaan 5 Menit
Resep Generasi Penerus Menjaga Nama Besar Law Firm Ternama
Hukumonline

Terdapat deretan firma hukum yang telah berkiprah selama puluhan tahun di industri jasa hukum Indonesia. Namun terlepas dari sudah berpulangnya para pendiri, kantor-kantor hukum ini dapat mempertahankan “Nama Besar”-nya dan justru terus eksis di tengah persaingan yang makin ketat.

Lantas, apa saja resep di balik itu?

“Saya anak founder law firm, tapi saya benar-benar mulai dari nol. Saya ingat ketika pertama kali saya tidak mengerti apa-apa, lalu menangani case pidana untuk seorang warga negara asing yang dilaporkan di Surabaya. Saya disuruh mendampingi dari hanya mendengar penjelasan 10 menit saja,” kenang Managing Partner Markus Sajogo & Associates (MS&A) E.L. Sajogo, Senin (14/8/2023).

Baca Juga:

Ia menceritakan mendiang Markus Sajogo sejak mendirikan kantor hukumnya pada 1967 silam dikenal dalam mendidik lawyer di kantornya ‘langsung dicemplungi’ ke lapangan. “Waktu itu betul-betul saya jengkel banget, briefing gak jelas. Tapi ternyata almarhum mengawasi, beliau ingin saya punya pengalaman dari bawah,” tuturnya.

Dari berbagai ajaran almarhum advokat senior asal Surabaya itu, salah satunya menjaga integritas menjadi hal yang sangat dikedepankan. Banyak rekam jejak positif yang ditinggalkan oleh Markus Sajogo yang membuat E.L. Sajogo berkomitmen untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di kantor hukumnya.

“Apakah ayah saya 100 persen positif? Tidak, pernah kalah? Adakah track record tidak membanggakan? Mungkin saja. Tapi apakah itu terukur dengan reputasi, integritas, nama baik yang ditinggalkan? Absolutely yes.”

Hukumonline.com

E.L. Sajogo tak menampik ada berbagai tantangan terasa setelah sang ayah tutup usia. Dalam menjawab tantangan itu, kata E.L. Sajogo, kuncinya cukup mengikuti perkembangan zaman. Bahkan, ia secara pribadi sempat banting stir memfokuskan diri dalam dunia corporate. Meski saat ini untuk kantor MS&A mempertahankan sebagai full-service law firm.

“Untuk bisa eksis, kita perlu melihat ke belakang dan ke depan. Kalau ke belakang, apa yang sudah founder kita letakkan sebagai fondasi selama puluhan tahun. Jangan pernah dicederai. Kedua, ke depan, ikut dengan perkembangan zaman, bukan ikut arus. Hukum yang berkembang di masyarakat itu tidak boleh dilupakan, harus tetap diikuti sesuai dinamikanya.”

Managing Partner Adnan Buyung Nasution & Partners (ABNP) Pia Akbar Nasution saat diwawancarai Hukumonline pada Rabu (16/8/2023), bercerita ketika awal menamatkan pendidikan tinggi hukumnya dan bergabung dengan kantor hukum lain sebelum bergabung di ABNP. Tentunya, kantor hukum tersebut tidak memiliki hubungan dengan mendiang Adnan Buyung Nasution.

Merasakan ada anggapan gengsi bila seorang anak bekerja terhadap ayahnya, Pia muda telah membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja sebagai seorang advokat secara mandiri. Meski pada akhirnya, almarhum meminta Pia untuk bergabung di ABNP.

“Kalau saya dulu di kantor hukum lama itu corporate law firm. Tapi di ABNP, semua harus mau mengerjakan apapun, semua harus mau belajar apa saja. Jadi buat saya itu tantangan tersendiri. Dari lawyer corporate masuk ke ABNP, semua harus belajar lagi dari awal. Sangat berbeda apa yang saya kerjakan.”

Hukumonline.com

Meski demikian, ia tetap bersyukur telah bekerja di bawah asuhan sosok ayahnya itu, meski beberapa kali terjadi perbedaan pendapat. Hingga pada akhir menjelang Adnan Buyung Nasution wafat, disampaikan kepada dirinya untuk menjaga apa yang telah ABN bangun semampu Pia.

Guna mempertahankan reputasinya, selama ini kalangan lawyer ABNP berpegang teguh pada wejangan pendiri yakni menjaga kepercayaan klien dan tidak berhenti menimba ilmu. “Semakin banyak kita tahu, semakin kita tahu kalau kita tidak tahu apa-apa. Itu selalu dikatakan almarhum,” kenangnya.

Pesan almarhum, cerita Pia, ketika menangani perkara, para lawyer ABNP gigih dalam mempelajari kasus, tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari segala sisi agar bisa memberikan sarana kepada klien disertai strategi penanganan yang menyeluruh. Selain itu, penting bagi lawyer terlebih dahulu mempelajari dokumen-dokumen terkait sebelum menyatakan bisa menangani perkara.

"Beliau selalu bilang gini, sekecil-kecilnya perkara perdata itu berhubungan dengan kekayaan seseorang. Sekecil-kecilnya perkara pidana itu berhubungan dengan kemerdekaan seseorang. Jadi kalau ada klien datang, terima dengan baik, dengarkan dengan baik. Sebab, klien yang datang itu tidak ada yang happy datang ke kita, pasti mereka dalam kondisi punya masalah.”

Terpisah, Managing Partner Tumbuan & Partners (T&P) Jennifer B. Tumbuan pada Selasa (22/8/2023), membagikan kiat-kiat menjaga nama besar firma hukum yang sudah dibangun almarhum ayahnya yakni berpegang teguh terhadap prinsip yang telah ada sejak pendirian firma.

“Kita ada jargon, Tumbuan & Partners is committed to the highest standard of professional integrity and exellence practice of law. Itu menjadi panduan kita untuk komitmen dengan standar profesional dan integritas kita. Lalu hukum kan berkembang terus, jadi jangan pernah berhenti belajar,” terang Jennifer kepada Hukumonline.

Hukumonline.com

Berdiri sejak 1981 dan mengalami dinamika serta perubahan nama firma, kata Jennifer, terdapat filosofi yang ditanamkan pendirinya advokat senior Fred B.G. Tumbuan. Di antaranya adalah “no short cut” yang ditafsirkan bahwa segala sesuatu membutuhkan proses dan kerja keras.

“Menjadi lawyer itu prosesnya tidak bisa instan. Kerja keras, kesabaran, kegigihan semua diperlukan. Jangan pernah berhenti belajar, itu amanah dari Pak Fred. Jadi kalau kita jaga kualitas dan kredibilitas, nama besar itu akan terjaga. Karena kita sudah dididik (oleh almarhum untuk itu), kita tinggal menjalankan saja sesuai koridor yang ada.”

Secara pribadi, Jennifer merasa amat bersyukur telah dipercayai untuk memimpin firma hukum dan sempat menerima pembelajaran langsung dari mendiang Fred B.G. Tumbuan. Namun jauh sebelum itu, ada sedikit cerita menarik sejak awal Jennifer mulai tertarik menjajaki dan terjun di dunia lawyering.

Ternyata, sang ayah menginginkan Jennifer untuk menjadi seorang dokter ketimbang sebagai lawyer. Tetapi karena telah “terpapar” dengan dunia hukum sejak kecil melihat ayah dan keluarganya bekerja di sektot jasa hukum, dia ikut tertarik dan memutuskan untuk menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).

Aksinya itu pada akhirnya diketahui Fred setelah mendengar salah satu dosen pengajar Jennifer menyampaikan adanya mahasiswi dengan nama belakang Tumbuan kepadanya. “Dia (Fred) baru tahu ternyata anaknya ada di FHUI. Jadilah ketahuan saya sudah mengemban pendidikan jadi konsultan hukum,” kenangnya.

Chairman Law Firm Gani Djemat & Partners Dr. Humphrey Djemat menyampaikan soal resep di balik kuatnya eksistensi sebuah firma hukum bernama besar ialah trust atau kepercayaan. Dalam melaksanakan bisnis jasa hukum, seorang lawyer harus dapat menunjukkan dapat dipercaya.

“Ini yang utama bagi lawyer untuk bertahan menjaga profesi yang kita jalani, ini selalu ditanyakan, do you have any conflict of interest? Artinya, kalau sudah ada (konflik kepentingan), tidak boleh. Karena ini masalah trust,” terang Humphrey dalam wawancara eksklusifnya dengan Hukumonline, Rabu (23/8/2023) lalu.

Hukumonline.com

Hal tersebut jugalah yang dipesankan mendiang Gani Djemat, pendiri Gani Djemat & Partnes. Hal yang tak kalah penting bagi kantor yang sudah berdiri sejak 1972 itu adalah menjaga hubungan dengan klien. “Tidak boleh membeda-bedakan klien, seluruh klien harus mendapatkan perhatian.”

Tak hanya itu, kata Humprey, terdapat filosofi yang ditanamkan Gani Djemat dan dilaksanakan sampai sekarang yakni prinsip setiap orang bisa bekerja sama dengan seluruh elemen di firma. Semua karyawan di firma hukum memiliki kontribusinya masing-masing tanpa terkecuali, mulai dari tim support sampai dengan lawyers.

“Semua menjalankan tugasnya masing-masing dan berkontribusi terhadap kantor. Setiap orang di firma hukum harus saling menghargai satu sama lain. Pesan tak kalah penting dari almarhum supaya membangun nuansa kekeluargaan antar pekerja firma hukum,” kenang Humprey.  

“Kontrol dari setiap case yang masuk itu tetap harus ada. Sehingga bisa lebih kelihatan apakah sudah on the right track atau belum? Biasanya kadang ada juga lawyer yang terlalu sibuk jadi kurang perhatikan satu case, itu harus diingatkan. Reporting-nya harus jelas dalam setiap penanganan kasus.”  

Tags:

Berita Terkait