Pojok MPR-RI

Simbol Kedaulatan, Ahmad Basarah: Merah Putih Harus Terus Berkibar

Penting bagi generasi muda untuk mengetahui suasana kebatinan pada saat proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dibacakan dan sang saka Merah Putih dikibarkan.

Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 3 Menit
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah. Foto: Istimewa.

JAKARTA – Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah menegaskan bendera Merah Putih harus terus berkibar di setiap pelosok tanah air meski rongrongan untuk memecah belah bangsa ini terus dilakukan banyak pihak di dalam dan luar negeri. Bendera adalah simbol kedaulatan negara yang harus terus dikibarkan di tengah upaya pihak-pihak tertentu mereproduksi politik devide et impera jilid kedua di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Ahmad Basarah saat menjadi pembicara dalam acara Lokakarya Nasional Peningkatan Kapasitas dan Peran Strategis Purna Paskibraka Indonesia dalam Pembinaan Ideologi Pancasila yang digelar Pengurus Pusat Purna Paskibraka, Jumat (3/12). Lokakarya dilaksanakan secara nasional lewat pertemuan virtual.

“Mereka yang saat ini ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain ingin sekali mengganti bentuk negara NKRI dengan bentuk negara lain. Saya tegaskan, lewat upaya itu sebenarnya mereka sedang mereproduksi apa yang saya sebut politik devide et impera jilid kedua,” kata Ahmad Basarah.

Karena itu, Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini menaruh harapan besar kepada alumni Paskibraka yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus mengibarkan Merah Putih di daerah masing-masing. Ahmad Basarah mengingatkan kemerdekaan Indonesia yang didapat dengan susah payah oleh para pendiri bangsa tak boleh disia-siakan oleh generasi penerus. Peran Purna Paskibraka sangat penting dan relevan dalam mengisi dan merawat kemerdekaan yang dimaksud.

‘’Ada tiga peran yang bisa dilakukan oleh Purna Paskibraka untuk menjaga Pancasila dan NKRI dari ancaman divide et impera. Peran pertama, pengibar bendera Merah Putih ikut mengantarkan kemerdekaan Indonesia sehingga generasi penerusnya pun wajib mengisi dan mengawalnya menuju cita cita masyarakat adil dan makmur,’’ tandas Ahmad Basarah.

Peran Kedua, lanjut Ketua DPP PDI Perjuangan ini, pasal 7 ayat (1) Perpres Nomor 13 tahun 2021 tentang pembinaan ideologi Pancasila kepada generasi muda melalui program pengibar bendera pusaka menetapkan Purna Paskibraka sebagai duta-duta Pancasila. ‘’Untuk itu para purna paskibraka harus bertanggung jawab menjaga Pancasila, mematuhi konstitusi, memperkokoh NKRI, dan mengembangkan kehidupan berbhinneka tunggal ika. Ini adalah peran ketiga,’’ tegas Ahmad Basarah.

Ketua Dewan Pertimbangan Pusat GM FKPPI 2019-2024 ini lalu bercerita kepada semua peserta lokakarya tentang sejarah heroik pengibar bendera Merah Putih di era revolusi. Kata Ahmad Basarah, bendera pusaka adalah bendera yang dijahit Ibu Fatmawati dan dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, lalu disimpan dan dipelihara di Monumen Nasional Jakarta.

Ahmad Basarah menilai penting bagi generasi muda sekarang ini untuk mengetahui suasana kebatinan pada saat proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dibacakan dan sang saka Merah Putih dikibarkan. Ada kemegahan yang dirasakan Proklamator Bung Karno, di samping keharuan dan kebanggaan.  

“Upacara itu berlangsung sederhana. Tetapi apa yang kami rasakan kurang dalam kemegahannya kami penuhi dalam harapan. Aku berjalan ke stasiun radio Jepang mengucapkan proklamasi itu, istriku Ibu Fatmawati telah membuat bendera dari 2 potong kain, sepotong kain putih sepotong kain merah ia menjahitnya dengan tangan. Inilah bendera resmi pertama dari Republik,” kata Ahmad Basarah, mengutip pernyataan Bung Karno yang dicatat dalam buku ‘’Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’’.

Karena itu, lanjut Ahmad Basarah, menjadi ironis ketika Bung Karno merasa terharu saat Merah Putih dikibarkan, tapi generasi sekarang tidak bersemangat mengibarkan Sang Saka Dwi Warna itu di berbagai pelosok tanah air. Jika itu terjadi, ia khawatir apa yang selama ini hanya menjadi bahan diskusi bahwa ada berbagai upaya merongrong Indonesia untuk menggagalkan negara proklamasi Bung Karno dan Bung Hatta menjadi kenyataan.

‘’Karena itu, saya ingin mengingatkan kita semua tentang konsensus dasar negara kita NKRI dan Bhineka Tunggal Ika sebagai suatu hal yang tidak bisa dinegosiasikan lagi, sesuatu hal yang tidak bisa dikompromikan lagi, antara bagian Pancasila sebagai dasar negara Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bentuk negara yang lain,” tandas Ahmad Basarah.

Sementara itu Ketua BPIP Yudian Wahyudi dalam sambutannya mengatakan, Pancasila harus dijaga dan seorang Purna Paskibraka yang sesungguhnya harus senantiasa meningkatkan kompetensi kemampuan dan ketrampilan untuk menyiapkan diri sebagai calon pewaris dan pemimpin Indonesia di masa depan. ‘’Paskibraka harus siap setiap waktu ketika ibu pertiwi memanggil untuk melaksanakan tugas bela negara. Jadilah teladan teladan Pancasila,” tambah Yudian.

Berita Populer

Berita Terbaru

Lihat Semua