Utama

Mengenal Sosok 4 Pionir Hakim Administrasi di Indonesia

Biarlah kenangan-kenangan sejak dari Paris sampai sekarang menjadi bagian yang sudah dalam riwayat kehidupan para pionir hakim administrasi, yang sekarang sudah memasuki masa purnabakti juga. From Paris begins our victory!

Oleh:
Muhammad Yasin
Bacaan 8 Menit

“Bertugas di Rangkasbitung memang amatlah sangat mengesankan sebagai putera daerah Banten asli, walaupun sebelumnya tidak pernah bertempat tinggal dan bertugas di sana,” kata Benjamin sebagaimana tertulis dalam biografinya. Nama Benjamin tetap dikenang, meskipun ia telah menghadap Sang Pencipta pada 21 Mei 2015

Titi Nurmala Siagian

Paulus Effendi Lotulung tak melupakan kenangannya bersama hakim lain tugas belajar ke Perancis pada 1976-1977, termasuk dengan Titi Nurmala Siagian. Dalam bukunya Hukum Tata Usaha Negara dan Kekuasaan (2013), Lotulung menulis: “Pendidikan dan pelatihan di Perancis telah memberi andil di dalam menempa dan meningkatkan karya prestasi Ibu Titi Nurmala Siagian sebagai hakim sampai mencapai puncaknya sebagai hakim agung”.

Lotulung melanjutkan: “Selama beberapa tahun menjadi kolega saya di MA, saya tetap respek dan mengagumi sikap-sikap beliau yang toleran tetapi teguh dalam prinsip, kemampuan profesional dan loyalitas pada atasan”. Satu hal lagi yang membuat Lotulung kagum pada koleganya itu: meskipun sudah lama, lebih dari 31 tahun, meninggalkan Paris, Titi Nurmala masih fasih berbahasa Perancis.

Titi Nurmala Siagian termasuk hakim perintis lingkungan PTUN, angkatan I tahun 1990/1991 bersama 53 orang hakim lainnya. Titi lulus dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan (1966). Setelah lulus kuliah, Titi meniti karirnya sebagai hakim, pada awalnya bertugas sebagai hakim di PN Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Beragam pengalamannya sebagai hakim, termasuk ketika ditolak menjadi hakim anggota perkara komando jihad semata karena Titi hakim perempuan.

Dalam buku ‘Indah Pada Waktunya, Biografi R.B.M Siahaan dan Titi Nurmala Siagian’ dimuat foto-foto Titi Nurmala Siagian saat ikut pendidikan di Perancis. Setelah menyelesaikan pendidikan di Perancis dan kembali ke Indonesia, Titi kembali bertugas di tempat semula: Pengadilan Negeri Jakarta Barat-Selatan yang saat itu masih digabung.

Setelah dipecah lagi menjadi lima Pengadilan Negeri di Jakarta, Titi ditempatkan di PN Jakarta Selatan. Ketika suaminya, R.B.M Siahaan, diangkat menjadi Pembantu Gubernur Sumatera Utara, Titi mengajukan surat permohonan pindah tugas mengikuti suami. Permohonan disetujui, Titi ditempatkan di PN Medan.

Ketika PTUN mulai beroperasi pada 1991, Titi dilantik menjadi hakim tinggi PTTUN Medan. Seperti dituliskan dalam biografinya, Titi pada awalnya merasa kecewa diangkat menjadi hakim tinggi karena ia berharap menjadi Ketua di salah satu PTUN. Belakangan, ia baru sadar ada hikmah di balik penunjukannya sebagai hakim tinggi.

Tags:

Berita Terkait