Waspadai Tren Medsos yang Berpotensi Penyalahgunaan Data Pribadi
Utama

Waspadai Tren Medsos yang Berpotensi Penyalahgunaan Data Pribadi

Informasi yang dibagikan dalam tren dapat diakses orang lain. Akibatnya ada peluang digunakan untuk hal yang tidak bertanggung jawab atau membuka celah untuk kejahatan sosial.

Willa Wahyuni
Bacaan 2 Menit
Jefri Moses Kam (berdiri) dalam kegiatan Alumni Talkshow Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Kamis (20/6/2024). Foto: WIL
Jefri Moses Kam (berdiri) dalam kegiatan Alumni Talkshow Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Kamis (20/6/2024). Foto: WIL

Beberapa tren media sosial akhir-akhir ini berpotensi disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung Jawab. Sebut saja fitur stiker instagram Add Yours. Pengguna media sosial yang tidak berhati-hati secara tidak sadar bisa saja menyebarkan data pribadinya.

Fitur tersebut kerap memberikan pertanyaan berupa tantangan seperti siapa nama kecilmu, bagaimana tanda tanganmu, bahkan foto kartu identitas seperti KTP atau kartu bank.

Advokat Jefri Moses Kam dari NKHP Law Firm menyikapi hal ini dengan mengajak pengguna sosial media berhati-hati mengikuti tren medsos yang berpotensi membocorkan data pribadi. Ajakan ini khususnya untuk anak muda.

Baca juga:

6 Langkah Menyusun Strategi Program Pelindungan Data Pribadi bagi Perusahaan

Begini Seluk Beluk Pelindungan Data Pribadi dalam UU PDP

“Membagikan hal-hal sensitif seperti nama panggilan waktu kecil atau tanda tangan ini berpotensi membocorkan data pribadi, kita harus hindari itu,” jelas Jefri dalam kegiatan Alumni Talkshow Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Menurut Jefri, platform media apa pun tidak memiliki kepentingan dalam menyebar data penggunanya. Namun, perlu mewaspadai kebocoran data yang bisa saja dilakukan oleh peretas. Jefri meminta pengguna media sosial untuk tidak menyebarkan konten yang bersifat pribadi yang dapat dikonsumsi publik.

Informasi yang dibagikan dalam fitur tersebut dapat diakses orang lain. Ada peluang akan digunakan untuk hal yang tidak bertanggung jawab atau membuka celah untuk kejahatan sosial.

Pada kasus tertentu, penipu bisa menggunakan nama panggilan kecil untuk berpura-pura menjadi teman lama korban lalu melakukan penipuan. Risiko pencurian data pribadi tidak hanya pada fitur tersebut, tetapi juga berpotensi terjadi saat pengguna media sosial mengunggah data pribadinya. Dampak lain dari mengikuti tren yang berpotensi membocorkan data pribadi adalah pihak yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkannya untuk pinjaman online. 

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait