Selasa, 22 August 2006

Nyanyi Sunyi Kemerdekaan Profesor Erman Rajagukguk

Profesor Erman Rajagukguk adalah potret akademisi dan birokrat yang telah melahirkan banyak ahli hukum di Tanah Air.
M-3/Mys

Cemara menderai hingga jauh

Terasa hari jadi akan malam

Ada beberapa dahan ditingkap merapuh

Dipukul angin yang terpendam

(Chairil Anwar, 1949)

 

Sebait puisi Derai-Derai Cemara karya Chairil Anwar mengawali peluncuran 4 buku yang ditulis oleh Profesor Erman Rajagukguk dan murid muridnya. Para penulis berharap buku-bukunya menderai hingga jauh sehingga mampu mendorong kemajuan pendidikan hukum di Indonesia.

 

Empat buku yang baru saja diluncurkan adalah Nyanyi Sunyi Kemerdekaan dan Teori Hukum dari Prof Erman, Masalah-Masalah Hukum Ekonomi Kontemporer editor Ridwan Khairandy, dan Tanah Untuk Kepentingan Umum yang merupakan disertasi muridnya bernama Akhmad Safik. Sayang, sampai saat peluncuran buku Teori Hukum belum selesai dicetak.

 

Tahun ini Prof. Erman Rajagukguk genap berusia 60 tahun. Ia dilahirkan di Padang pada 1 Juni 1946. Memperoleh gelar Sarjana Hukum dari UI pada 1974, gelar LLM dari University of Washington, School of Law, Seattle (1984), dan Ph.D dari universitas yang sama (1988). Erman pernah tercatat sebagai konsultan hukum di Adnan Buyung Nasution & Associates (1980-1982). Di lingkungan kampus Erman pernah memegang jabatan antara lain sebagai  Pudek Akademik (1991-1995), Direktur Lembaga Studi Hukum dan Ekonomi FHUI, dan Ketua Proghram Pascasarajana Universitas Indonesia. Di pemerintahan menduduki posisi sebagai Dirjen Hukum dan Perundang-Undangan Departemen Kehakiman (1998) dan terakhir sebagai Wakil Sekretaris Kabinet

 

Agak terlambat dari jadwal ulang tahun, peringatan hari jadi Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia itu baru diperingati Rabu (16/8) pekan lalu. Keluarga, sahabat, dan murid-murid yang pernah atau sedang di bawah bimbingannya berkumpul di Kampus UI, Salemba sebagai bentuk penghormatan terhadap sang guru besar. Mereka menyampaikan puji-pujian kepada sang Profesor yang masih aktif mengajar itu.

 

Namun di tengah hujan pujian, Erman justeru mengajak hadirin untuk menyempatkan diri mengenang mahaguru Profesor Daniel S. Lev, pengamat hukum Indonesia, yang baru saja berpulang ke haribaan Ilahi.

 

Ridwan Khairandy, Prof. Hikmahanto Juwana, dan Adnan Buyung Nasution maju ke mimbar, berbagi kenangan bersama tentang seorang Erman Rajagukguk, dari masa mahasiswa sampai saat peluncuran buku barunya.

 

Nyanyi Sunyi Kemerdekaan merupakan kumpulan buah tulisan Prof Erman sejak 1971-2006. Didalamnya terdapat kompilasi berbagai isu hangat hukum di Indonesia, seperti masalah akses ke bantuan hukum, hukuman mati, contempt of court, kewenangan MA, hak atas tanah, HAKI, pendidikan hukum Indonesia, dll, yang ternyata telah ada sejak jaman orde baru dan terus berulang sampai sekarang.

 

Prof Erman, ditemui setelah rangkaian pidato sambutan menuturkan motivasi pengumpulan tulisan-tulisannya yang tersebar diberbagai tempat dan kesempatan. Menurut mantan wartawan harian KAMI ini, Pemerintah Indonesia tidak pernah belajar dari sejarah. Masalah-masalah dalam buku ini sudah berulang-ulang muncul. Kok, tidak ada perubahan, urainya.

 

Sehingga lewat bukunya, mantan asisten Adnan Buyung tersebut hendak menegaskan sikapnya terhadap berbagai permasalahan hukum dan berharap dapat ditemukan jalan keluar yang terbaik. Ridwan Khairandy melontarkan alasan yang kurang lebih serupa dengan Prof Erman. Selain sebagai penghormatan terhadap Prof Erman, buku tersebut ditujukan sebagai potret perkembangan masalah-masalah hukum ekonomi yang keras menghantam Indonesia sebagai negara berkembang belakangan ini.

 

Akhmad Safik, walaupun berkonsentrasi pada bidang pertanahan saja namun analisis dari sudut pandang historisnya serupa dengan semangat Nyanyi Sunyi Kemerdekaan. Bahwa permasalahan tanah telah ada sejak dulu namun pengaturannya masih jauh dari sempurna sampai sekarang. Jaminan kepastian hukum pada perundang-undangan masih amat rapuh. (Kepastian hukum-red) hanyalah janji-janji tidak jelas, tidak jelas bisa diwujudkan, tuturnya. Pada kesempatan tersebut, Akhmad bahkan sempat menghimbau UU Pokok Agraria untuk segera direvisi karena memiliki celah dalam pengaturan hak guna bangunan. Mengacu pada kasus sengketa Hotel Hilton, menurut Akhmad celah tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang yang beritikad buruk.

 

Walaupun berbeda-beda topik, para penulis terhubung oleh satu benang merah yang kuat yaitu keinginan untuk memajukan pendidikan hukum Indonesia. Semangat ini didorong oleh Prof Erman Rajagukguk sebagai suatu cita-cita dan tujuan hidup. Itu ditunjukkan antara lain oleh sikap Erman yang tetap mau mengajar di kampus ketika masih menjadi birokrat Istana.

 

Sikap Prof Erman ini meninggalkan kesan bagi Ridwan, Akhmad, dan mantan mahasiswa-mahasiswa lain yang beruntung berada dibawah bimbingan Prof Erman. Menurut mereka, Prof. Erman kadang keras bagai baja, kadang lembut seperti kapas. Hikmahanto menggambarkan peran koleganya tersebut dengan bahasa lugas. Prof Erman adalah fenomena tersendiri di bidang pendidikan hukum. Dalam pandangan Dekan Fakultas Hukum UI tersebut, Prof Erman tidak pernah beristirahat.

 

Seperti dikatakan sebuah puisi terkenal:

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar, Maret 1943)

seorang guru yang patut dicontoh
 - suhaidi
01.03.07 15:01
walaupun sy baru mengenal beliau pada waktu menjadi majasiswa s3 di pascasarjana USU namun semangat beliau,karakter beliau pada waktu mengajar dan membimbing sangat dominan, smg beliau terus diberkahi umur yg panjang agar terus menelurkan kader-kader yang baik, amin
the phenomenon..
 - wilson simatupang
22.08.06 17:24
Gw inget sisi lain Erman : apapun topik - pasti menarik, mhsw masuk krn mo dengar. Adrenalin tinggi plus humor (grrr tapi cerdas). Lepas kelemahan, setuju aja dibilang fenomenal. Gw liat, dosen yg bakat ngikut dia itu, kayaknya Nasrul. Junior lainnya, msh cukup bangga aja jd dosen UI. Daun-daun cemara tumbuh & terbang silih berganti...
Selamat ultah Prof!!
 - Fatah
22.08.06 16:42
Selamat ultah Prof!!Tidak banyak profesor di UI yang meluangkan waktunya untuk anak S-1 dan memperluas kesempatan bagi mahasiswa S-1 sebagaimana yang diberikan Prof Erman ditengah kesibukan baik ketika masih menjabat Wasekab maupun ditengah kesibukan membimbing s-2 dan s-3. Semoga dengan hari jadi yang ke 60, Prof Erman selalu tetap dalam keadaan sehat wal afiat serta tetap memberikan kesempatan untuk memperluas cakrawala berfikir bagi mahasiswa S-1, yang mana saya rasakan manfaatnya dalam pekerjaan. Wasalam
Nyanyi Sunyi Kemerdekaan
 - Bagong
22.08.06 15:11
Bila kita meresapi cukilan puisi yang dimuat diatas yang sengaja disitir oleh Prof. Erman, hati kecil saya sebenarnya merasa nelangsa/trenyuh bercampur haru, karena di saat sedang memperingati hari kemerdekaan cukilan puisi itu tersembul ke permukaan, harapan setengah abad yang lalu masih relevan dan pas untuk sekarang ini berarti kemerdekaan yang diidam-idamkan dahulu oleh Bung Chairil Anwar masih banyak yang belum terealisasikan dan menurut nurani Prof Erman sebagai bekas siswa dari Prof Daniel S. Lev itu, masih banyak yang harus dibenahi, ungkapan ini patut diresapi dan selanjutnya diteruskan kepada para siswa-siswanya yang notabene diharapkan menjadi penerus cita-cita dan harapan janganlah nanti tergambar suram wajah Prof Erman lantaran para siswa-siswanya yang dulu dididik malah menceburkan diri dalam keikut sertaannya didalam suasana yang tidak/belum tertib karena ulahnya atau berKKN terus baik secara terang atau tidak dan apalah tidak tergores hasrat untuk melakukan penginformasian terhadap tindakan tercela dari para siswanya agar tidak ditiru atau dilakukan dan tentunya tidak saja terhadap hal yang telah dilakukan tetapi terhadap hakikat dari tindakan-tindakan yang tercela, dengn harapan agar tidak terkejar dengan asumsi maupun alasan tindakan yang telah dilakukan oleh pembuatnya.Bukankah banyak sekali penjelasan dari suatu ketentuan undang-undang yang tidak jelas diberikan penjelasan cukup jelas, pakah tidak perlu dijelaskan untuk tahan melarat sebelum waktu kaya datang dengan sendiri????
gak ada tuh
 - waroka
23.08.06 16:44
rasanya gak ada tuh anak didik erman bernama LIA EDEN. Ngaku-ngaku kenal ERMAN, dari mana jalannya. Ente lagi di LP, kok bisa make internet ya?...
My Memory
 - LIA EDEN
23.08.06 09:11
Ketika itu anda baru tiba ditanah air setelah menyelesaikan Phd, saat kami kuliah wajib Hub Int'l dimana anda menjadi asisten Ibu Koestantinah dgn materi Balance of Power, Politik Timur-Barat, Ekonomi Utara-Selatan, serta paham2 komunisme Karl Marx dll, pd saat anda tidak paham dgn pertanyaan kami ttg teori2 Karl Marx dgn jujur anda katakan tidak paham, saat itu kami sangat kagum akan indahnya kejujuran akademik yg tumbuh di almamater..!!! Saat kami mengikuti mata kuliah pilihan Hk Investasi Swasta & Pembangunan, anda menggugah kami dgn mengatakan di negara maju kebetulan anda belajar di USA, seorang mahasiswa law school sangat dihargai dibandingkan bidang2 lainnya padahal saat itu di Indonesia (negara dunia ketiga)penghargaan ilmu teknik & bisnis (MBA) sangat tinggi. Banyak murid dan asisten Prof Erman (diantaranya, Indra Surya & Ahmad Fikri) merupakan murid & asisten yang dapat dibanggakan..!! Itulah segelintir kenangan kami diantara banyak kenangan lainnya, termasuk buku Indonesianisasi Saham...!!! Semoga negeri ini banyak mewarisi spirit anda...
"Kenangan ttg Beliau"
 - encoess
23.08.06 10:17
Kenangan saya tentang beliau adalah ketidakhadiran beliau selama masa perkuliahan Hukum Perdagangan International. Hampir satu smester tersebut beliau tidak pernah hadir sekalipun, entah di awal ataupun di akhir perkuliahan, sedih, kecewa, kesal campur aduk memenuhi pikiran saya. Sempat terbersit fikiran bahwa memang sudah nasib kami para mahasiswa S1 diberikan kebijaksanaan prioritas kedua setelah mahasiswa S2 oleh beliau, padahal kami begitu mendambakan asiknya berdiskusi tentang issue2 politik-ekonomi international. Mungkin dengan perlakuan beliau yang menganaktirikan mahasiswa reguler yang akhirnya melecut saya untuk self sufficient dalam memahami bahan-bahan perkuliahan, "..do it your self!, cuzz he wouldnt be arround dude'..."-Selamat ULTAH wahai Bapak Dosen, (lain kali jika tidak committ sebaiknya nama Bapak jangan dicantumkan sebagai pengajar mata perkuliahan reguler) ...yang wajahnya pun saya sudah lupa seperti apa...maklum saya hanya lulusan reguler!
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua