Sabtu, 07 Juli 2007

SSEK Dinobatkan Law Firm of the Year 2007 Indonesia

Penghargaan jadi cambuk untuk memperbaiki diri. Boleh juga diadakan penghargaan sejenis di Indonesia untuk berkompetisi secara sehat. Tapi harus independen dan solid metodologinya.
Rzk/ISA









 


Terus terang walaupun untuk kedua kalinya SSEK meraih prestasi ini, namun kami tetap tidak menyangka akan terpilih lagi, kata salah seorang Partner SSEK Ira Andamara Eddymurthy kepada hukumonline (4/7).


 


Menurut Ira, SSEK sebenarnya tidak melakukan persiapan atau strategi tertentu agar kembali terpilih sebagai Law Firm of the Year 2007. Dia bahkan mengaku tidak tahu-menahu kriteria atau parameter apa yang digunakan oleh penyelenggara dalam ajang ini. Kalau dibilang ada big transaction (transaksi besar, red) pun pada tahun 2007 ini tidak ada seperti halnya ketika kita pertama kali meraih award ini, tambahnya.


 


Namun berdasarkan informasi singkat dari penyelenggara penghargaan ini, Ira menerangkan penentuan pemenang Who's Who Legal Awards didasarkan pada masukan dari klien dan juga kalangan advokat dari 27 bidang praktek hukum. Penilaian penyelenggara juga dilengkapi dengan rangkaian riset selama enam bulan.


 


Patut dicontoh


Terlepas dari itu, Ira mengatakan penghargaan ini tetap dipandang sebagai kebanggaan tak terkira bagi SSEK. Dan, penghargaan ini menjadi cambuk buat SSEK untuk introspeksi diri agar dapat menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Advokat kelahiran Banda Aceh, 27 Oktober 1959 ini justru memandang penghargaan ini sebagai beban label terbaik tentunya memunculkan ekspektasi yang tinggi dari para klien dan masyarakat pada umumnya.


 


Walau belum berani mengatakan Who's Who Legal Awards sebagai ajang bergengsi yang diidamkan semua law firm, Ira berharap jejak SSEK diikuti kantor hukum lainnya di Indonesia. Untuk itu, kantor-kantor hukum di Indonesia harus segera meningkatkan kualitasnya sehingga dapat bersaing bukan hanya dilingkup nasional tetapi juga internasional.


 


Penghargaan seperti ini setidaknya positif dalam konteks marketing nilai jual law firm itu sendiri. Oleh karenanya, kita harus terus meningkatkan tidak hanya kualitas tetapi juga wawasan kita, ujarnya.


 


Belum siap


Prestasi SSEK mendapat acungan jempol dari Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI). Ketua Umum PERADI Otto Hasibuan menyatakan salut atas prestasi yang diraih SSEK. Hal ini, menurutnya, menandakan kualitas advokat Indonesia tidak kalah dibandingkan advokat negara-negara lain. Selain itu, torehan prestasi SSEK mengisyaratkan advokat Indonesia sudah siap untuk berkompetisi secara internasional.


 


Otto mengatakan tidak menutup kemungkinan ajang seperti ini dapat diselenggarakan pada tingkat nasional. Penyelenggaranya, lanjut Otto, tidak harus PERADI tetapi bisa juga organisasi advokat Indonesia lainnya yang ada. Yang pasti, kita kan tidak melulu berpikir menghukum advokat yang tidak berprestasi atau yang melanggar kode etik. kita juga harus memberikan apresiasi bagi advokat yang berprestasi, ujarnya lagi.


 


Ira berpandangan senada dengan Otto sebaiknya bukan PERADI yang menyelenggarakan penghargaan sejenis. Pasalnya PERADI masih punya banyak pekerjaan penting yang perlu segera diselesaikan. Saya setuju sebaiknya dibuka saja kesempatan untuk mengadakan penghargaan itu dan biarkan pasar yang menentukan ujarnya.


 


Ira juga menekankan pentingnya independensi lembaga dalam menyelenggarakan penghargaan ini. Karena kredibilitasnya bergantung pada independesi itu. Kalau yang menyelenggarakan organisasi advokat nanti malah saling curiga tambahnya.


 


Selain itu, metodologi dalam mencari data sangat krusial. Jadi perlu riset mendalam ke klien, komunitas advokat dan kantor hukum. Ya seperti penghargaan tingkat internasional lah pungkas Ira.

Dunia advokat seringkali diidentikan dengan citra yang tidak baik, mulai dari mafia peradilan sampai ajang sikut-menyikut dalam berorganisasi. Namun, di sela-sela segala citra buruk itu, masih ada prestasi yang mampu ditorehkan oleh komunitas advokat Indonesia.

 

Soewito Suhardiman Eddymurthy Kardono (SSEK), sebuah firma hukum (law firm) terkemuka di Jakarta. untuk kali kedua dinobatkan sebagai Law Firm of the Year 2007 untuk Indonesia oleh Who's Who Legal.

 

Who's Who Legal adalah situs internet yang dikelola dan dimiliki sebuah perusahaan riset di London, Law Business Research Ltd yang sudah berusia 10 tahun. Selain riset dengan cakupan 20 bidang hukum, Law Business Research Ltd. juga menyediakan jasa analisis dan pelaporan dengan jangkauan pasar internasional.

 

Prestasi tidak hanya ditorehkan SSEK sebagai entitas law firm yang didirikan sejak tahun 1992, tetapi juga secara personal. Who's Who Legal juga menempatkan empat advokat SSEK yakni Ira A. Eddymurthy, Darrell R. Johnson, Michael D. Twomey dan Gaylord Watkins, dalam The International Who's Who of Business Lawyers 2007 untuk masing-masing bidang hukum yang mereka kuasai.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua