Rabu, 03 September 2003

KPPU Menilai Sistem Dual Acces Hambat Persaingan Usaha

Pilihan dual acces yang hanya diberikan kepada PT Abacus Distribution System Indonesia tidak semata-mata karena harga yang murah. Namun, ada motivasi lain yaitu ingin menghambat pemasaran sistem Galileo.
Leo

Demikian salah satu poin jawaban yang disampaikan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), menanggapi keberatan yang diajukan oleh PT Garuda Indonesia (Garuda). Jawaban tersebut telah disampaikan ke PN Jakarta Pusat, pada Selasa (2/09) lalu.

Sebelumnya, Garuda telah mengajukan keberatan ke PN Jakpus terhadap putusan KPPU yang menyatakan maskapai penerbangan terbesar di Indonesia itu melanggar tiga pasal dalam Undang-Undang No.5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

KPPU juga menilai, alasan efisiensi yang dikemukakan Garuda untuk memilih Abacus untuk disatukan dengan ARGA (Automated Reservation of Garuda Airways) dalam sistem dual acces-nya juga tidak tepat. Pasalnya, persyaratan Abacus mengakibatkan biro perjalanan wisata tidak fleksibel dalam memilih Computerized Reservation System (CRS) yang akan digunakan.

Ada sistem lain

Padahal, selain Abacus, ada pula sistem Galileo yang bisa dipilih untuk CRS. Namun, karena Garuda menyertakan ARGA ke dalam sistem Abacus, keuntungan ekonomis yang seharusnya diperoleh biro perjalanan wisata yang tidak memakai sistem Abacus menjadi berkurang.

Alasan efisiensi juga tidak bisa dijadikan alasan pembenar. Jadi, travel agent yang baru atau sudah punya sistem Galileo, tetapi mau memesan ARGA, harus memakai sistem Abacus. Ada semacam pemaksaan untuk pemesanan tiket domestik dan internasional harus pakai Abacus, ujar David Tobing, pengacara yang menjadi kuasa hukum KPPU, kepada hukumonline.

David menegaskan, yang paling dirugikan dengan penerapan dual acces oleh Garuda adalah biro perjalanan wisata. Karena, menurut David, mereka harus harus mengeluarkan tambahan biaya untuk membuat sistem baru (Abacus), meski mereka telah mengadopsi sistem Galileo.

Lebih jauh, David mengatakan, penafsiran Garuda terhadap putusan KPPU yang dijadikan bahan untuk mengajukan keberatan, sangat berbeda dengan KPPU. Kacamatanya beda, karena mereka (Garuda, red) memposisikan diri sebagai konsumen sehingga akan memilih mana yang lebih murah, cetus David.

Perbedaan persepsi

Di sisi lain, kuasa hukum Garuda, Fabian Budi Pascoal, membenarkan bahwa ada perbedaan persepsi antara KPPU dengan Garuda. Kita berkali-kali tekankan bahwa ada perbedaan azas kepentingan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum (Pasal 2 UU No.5/1999).

KPPU lebih berat pada kepentingan umum dalam tanda kutip, soalnya kepentingan travel belum tentu mewakili kepentingan umum dan kurang memperhatikan kepentingan Garuda, kata Fabian kepada hukumonline.

Fabian juga membantah bila dual acces dan sistem Abacus-nya ini dinilai oleh KPPU menghambat persaingan usaha. Menurutnya, ketika dual acces diperkenalkan tahun 1994, hanya ada satu sistem yaitu Abacus. Galileo baru muncul belakangan dan harga yang ditawarkan lebih tinggi.

Jadi, yang menutup persaingan adalah Galileo. Wajar kalau Garuda memilih Abacus ketimbang Galileo yang tidak mau menurunkan standar mereka. Apalagi, menurut Garuda sistem Abacus lebih menguntungkan,imbuh Fabian.

Dia juga mempertanyakan salah satu butir putusan KPPU yang menyatakan biro perjalanan wisatalah yang paling dirugikan dengan dual acces ini. Menurut Fabian, pihak Garuda tidak diizinkan oleh KPPU untuk melihat bukti-bukti yang dimiliki KPPU. Terutama bukti bahwa ada biro perjalanan wisata yang dirugikan dengan dual acces.

Padahal, lanjutnya, tidak tertutup kemungkinan biro perjalanan yang dimintai keterangan hanyalah yang menggunakan sistem Galileo. Belum tentu semua travel agent mau pakai Galileo,cetusnya.

hebat ya kppu tau semua masalah...
 - tak suka kppu sombong
04.09.03 18:36
kppu...banyaklah merasa belum mampu...sehingga banyak belajar...sehingga nasib bangsa tak diurus sembarangan seperti itu...
Putusan KPPU Ngaco
 - Samadikun Hartono
04.09.03 08:52
Jelas antara Abacus dan Galileo itu persaingan yang sebenarnya (sesuai dengan mekanisme persaingan). Justeru persaingan yang sebenarnya sekarang rusak akibat putusan KPPU. Tidak mungkinlah Garuda itu memakai 2 (dua) sistem : Abacus juga Galileo juga. Coba KPPU menempatkan diri sebagai Garuda, bisa nggak. Itulah makanya jangan bereksperimen dalam hukumlah! Pengacaranya si David lagi, no comment lah ttg ybs .....
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua