Sabtu, 23 January 2010

Bank Diminta Perbaiki Sistem Pengamanan

Tersangka pembobolan kartu ATM berinisial “F” sudah diamankan pihak kepolisian di Bali. Diduga, pelaku tergabung dalam sindikat yang saat ini sedang dikembangkan Bareskrim Mabes Polri.
Nov/M-7
Nasabah diminta waspada ketika bertransaksi di ATM. Foto: Sgp

Seiring dengan maraknya pembobolan uang nasabah melalui automated teller machine—disingkat ATM—di enam bank, pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan, diketahui penarikan uang nasabah selalu dilakukan di Bali. Sehingga, beberapa waktu lalu, tim Direktorat II Ekonomi Khusus (Eksus) Bareskrim Mabes Polri berangkat ke Bali untuk mem-back up pengusutan yang sedang dilakukan Poltabes Denpasar, Bali. Sekedar diketahui, keenam bank yang dimaksud adalah Bank Central Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Permata, Bank Internasional Indonesia (BII), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).



Selang beberapa hari, kerja sama tim dan Poltabes Denpasar sudah membuahkan hasil (22/1). Kabareskrim Ito Sumardi mengaku timnya sudah mengamankan satu orang tersangka berinisial “F”. Tapi, pengusutan tidak berhenti sampai di situ. Tersangka yang merupakan “pemain” lama ini—pernah divonis atas kasus serupa tahun lalu—diduga memiliki sindikat. Entah itu sindikat lama atau pun sindikat baru pembobolan dana nasabah.



Untuk itu, Ito mengatakan, timnya sedang melakukan pengembangan. Karena, apabila dilihat dari modus operandinya, tidak hanya menggunakan metode skimming/taping dan pengintipan PIN oleh pihak yang tidak berhak. Ada modus baru, yakni menggunakan berbagai peralatan khusus untuk menyerap kode (PIN) kartu nasabah. “Tim Mabes Polri sedang kembangkan satu orang yang berhasil diamankan. Keterkaitan dengan pelaku lama ini kita coba kembangkan dengan kemungkinan lain, karena ada beberapa modus operandi yang baru dan ada yang lama. Jadi ini bisa (sindikat) lama atau ada sindikat baru.”



Dengan adanya dugaan keterlibatan tersangka dalam sindikat, Ito meminta sejumlah Polda untuk mengirimkan data. Selain itu, mantan Kepala Koordinator Staf Ahli Kapolri ini juga meminta tim mengumpulkan bukti-bukti permulaan. Bukti-bukti ini akan digunakan untuk mencari keterkaitan tersangka dengan sindikat pembobolan dana nasabah. “Ada beberapa barang bukti yang diamankan. Kami sedang kembangkan, mudah-mudahan dalam satu dua hari ini ada perkembangan penyelidikan,” ujar Ito.



Sembari menunggu perkembangan penyelidikan, Bareskrim akan mengundang pihak bank untuk mengkaji dan membicarakan perbaikan sistem pengamanan. Masalahnya, dengan modus baru pembobolan ATM ini, menurut Ito, pihak bank harus memperbaiki sistem pengamanan untuk melindungi dana nasabah. Maka dari itu, Bareskrim sudah mengagendakan pertemuan dengan sejumlah pimpinan bank. “Kami sedang kerja sama dengan pihak bank, kenapa sistem ini bisa dibobol. Kan ada sistem pengamanan masing-masing bank. Tentunya kami harus mengetahui sejauh mana sistem itu bisa mem-protect. Kalau dibobol dengan modus baru tentunya ini sebuah kajian,” ujarnya.



Ito menambahkan, dalam waktu satu dua hari ini akan ketemu dengan pimpinan bank untuk membicarakan lebih detil mengenai sistem pengamanan, juga perlindungan terhadap laporan-laporan yang sudah disampaikan ke polisi.



Sejalan dengan pihak kepolisian, Bank Indonesia (BI) juga turut menghimbau bank-bank tersebut untuk memperbaiki sistem pengamanan ATM. Himbauan ini tidak hanya diperuntukan bagi sejumlah bank yang nasabahnya telah melapor kehilangan uang. Tapi, berlaku juga bagi bank-bank lain yang memiliki perangkat ATM.



Salah satunya, Bank Danamon. Meski tidak termasuk bank yang nasabahnya melaporkan kehilangan, Public Affairs Head PT Bank Danamon Tbk, ZsaZsa Yusharyahya, dalam rilisnya menyatakan terus memantau perkembangan kondisi kasus pembobolan ATM. Untuk mengantisipasi digunakannya ATM Danamon untuk fraud (kejahatan), sejak Rabu (20/1) lalu, Danamon telah memeriksa seluruh mesin ATM untuk memastikan tidak adanya penyalahgunaan, sesuai himbauan BI. “Untuk Bali, proses ini telah selesai di hari yang sama, kemarin. (Selain itu) Kami juga menghimbau nasabah untuk menerapkan kehati-hatian ekstra dan memberikan tips-tips bertransaksi aman di ATM,” imbuhnya.



Sindikat internasional

Sementara, Wakil Direktur Utama BCA Yahya Setiaatmadja menyatakan kasus ini tak lepas dari sindikat internasional. Hal ini dikarenakan BCA mendeteksi adanya penarikan dana yang signifikan di Toronto, Kanada, beberapa waktu yang lalu. “Diidentifikasikan bahwa dana-dana yang dimiliki nasabah-nasabah yang punya rekening di Indonesia, dananya ditarik di Toronto,” ujar Yahya saat jumpa pers bersama Bank Indonesia dengan beberapa asosiasi perbankan di kantor BI, Jumat (22/1). Untuk mengatasi masalah ini, Yahya juga mengaku bahwa BCA telah memblokir seluruh transaksi yang ada di Kanada.



Ternyata penarikan bukan hanya dari Toronto, tapi juga dari Australia. BCA pun mengantisipasinya dengan memblokir transaksi yang menggunakan mata uang dolar Australia. “Maaf bagi mahasiswa yang rutin ambil Australian dollar,  saat ini tidak bisa bertransaksi, untuk kepentingan yang lebih besar terpaksa kepentingan beberapa nasabah harus kita korbankan,” tambahnya.



Sejak himbauan BI, bank-bank memang telah melakukan tindakan. Di antaranya, memasang alat anti skimmer, melakukan pemeriksaan rutin ke seluruh mesin ATM, memasang penutup keybord nomor, memberpanjang mulut ATM (corong bebek), menampilkan call center di seluruh mesin ATM.  Bank juga memiliki fraud monitoring system, yang akan mendeteksi apakah ada keanehan dari transaksi rekening.



Sedangkan bagi nasabah sendiri, Yahya menghimbau agar berhati-hati menjaga kerahasian PIN ketika bertransaksi, yaitu menutupi tangan ketika memasukkan pin. Selain itu, nasabah juga diharapkan untuk mengganti PIN secara berkala. Jika ada masalah dengan dengan kartu ATM ketika bertransaksi, nasabah diminta jangan terpengaruh apabila ada pihak-pihak yang ingin membantu. Kemudian jangan pernah menyerahkan nomor PIN anda kepada siapa pun, termasuk kepada pihak bank.



”Bagi anda yang terdeteksi terkena penggandaan kartu ATM ini, maka untuk sementara waktu rekening dan transaksi Anda akan diblokir. Nasabah juga diharapkan untuk segera melapor ke banknya masing-masing,” ujar Yahya.



Kerugian capai 5 M

Yang jelas, bagi Anda korban pembobolan kartu ATM, tidak perlu khawatir. Pasalnya, bank-bank bersepakat akan mengganti dana nasabah 100 persen. Hal ini dikarenakan semua kejadian ini bukanlah kesalahan nasabah. Kesepakatan ini disampaikan oleh Bank Indonesia bersama dengan Himpunan Bank Negara (Himbara), dan Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas).



Erwin Rianto, Direktur Pengawas Bank III BI, juga meyakinkan kepada seluruh nasabah bahwa dana nasabah akan dibanti 100 persen.



Bank BCA sendiri, menurut Yahya Setiaatmadja mengaku akan mengganti uang nasabah tersebut dalam 3 kali 24 jam. “Kalau bisa, 1 kali 24 jam akan segera dikembalikan,” tambahnya. Yahya mengaku kerugian nasabah BCA atas kejadian ini mencapai angka Rp5 milliar. Namun, hal ini bukanlah menjadi masalah besar bagi BCA.

 

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua