Minggu, 14 Pebruari 2010

Hukum Olahraga Harus Jadi Lex Specialis

Olahraga memiliki law of the gamenya masing-masing, yang tidak akan bisa diintervensi oleh hukum nasional, bahkan hukum internasional.
CR-7







Nova Zaenal dan Bernard Mamadou mungkin tak pernah menyangka kalau perkelahian mereka akan menyeret keduanya ke meja hijau. Nova dan Mamadou, secara terpisah, didakwa melanggar Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan di Pengadilan Negeri Solo, Agustus 2009. Akhir Januari 2010 lalu jaksa menuntut keduanya hukuman penjara enam bulan dengan masa percobaan satu tahun.

 

Sekilas memang tak ada yang aneh dalam kasus Nova dan Mamadou di atas. Para pelanggar hukum memang harus diadili. Namun, persoalan akan muncul ketika diketahui fakta bahwa Nova dan Mamadou berkelahi di lapangan sepak bola.

 

Nova dan Mamadou bukan sekedar pemuda biasa yang berkelahi di lapangan karena berebut sesuatu atau hanya karena salah paham. Keduanya adalah pesepakbola profesional. Nova adalah pesepakbola profesional Indonesia yang bermain untuk Persis Solo. Sementara Mamadou adalah pemain klub Gresik United asal Liberia.

 

Perkelahian Nova dan Mamadou terjadi setahun lalu, Februari 2009. Kala itu, Persis Solo sebagai tuan rumah dan menjamu Gresik United. Di pertengahan pertandingan, Nova memprotes tindakan Mamadou yang dianggap tidak fair karena tak membuang bola keluar lapangan saat ada pemain Persis yang cidera. Adu tarik urat leher terjadi antara Nova-Mamadou. Ujungnya, Mamadau memukul pelipis Nova. Tak terima, Nova mengejar dan balas memukul perut Mamadau. Usai pertandingan, polisi menciduk Nova-Mamadu. Bahkan keduanya sempat ditahan. Namun belakangan polisi menangguhkan penahanan keduanya.

 

Intervensi negara

Penangkapan, penahanan dan proses peradilan terhadap Nova dan Mamadou menimbulkan kontroversi. Pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Badan Liga Indonesia (BLI) dan sejumlah pelatih klub sepakbola menyayangkan pemrosesan hukum terhadap Nova-Mamadou. Menurut mereka, ada aturan di dalam sepakbola yang dikecualikan dari hukum.

 

Direktur Indonesia Lex Sportiva Instituta, Hinca IP Pandjaitan menilai semua jenis olah raga –termasuk sepak bola- memiliki law of the game alias aturan mainnya masing-masing, yang tidak akan bisa diintervensi oleh hukum nasional, bahkan hukum internasional. “Karena olah raga, khususnya sepak bola, sudah global, borderless,” terang Hinca dalam Seminar Pengembangan Hukum Olahraga Nasional di Universitas Indonesia, Depok, Rabu (10/2).

 

Secara umum, Hinca menuturkan olahraga adalah hak asasi setiap orang. Jika negara sudah ikut campur terlalu jauh, maka itu berarti negara sudah melanggar hak asasi rakyatnya. Di Indonesia, Hinca melihat negara sudah cukup jauh melakukan intervensi ke dunia olah raga.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua