Selasa, 28 Desember 2010

Maria Farida Indrati: Pantang Berhenti Mengasah Ilmu

Sempat bercita-cita menjadi guru musik.
ASh
Prof. Maria Farida Indrati, pantang berhenti mengasah Ilmu. Foto: Sgp
BERITA TERKAIT

Melakoni profesi sebagai hakim konstitusi bagi Prof Maria Farida Indrati merupakan prestasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pasalnya, sejak kecil ia bercita-cita ingin menjadi guru musik lantaran hobinya memainkan alat musik yang digeluti hingga SMA.

 

Namun, atas saran ayahnya (alm), yang seorang wartawan kantor berita Antara kala itu, Maria mengurungkan niatnya untuk menjadi guru musik. Alhasil, selepas SMA ia memilih masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) pada tahun 1969 untuk jurusan hukum tata negara.

 

Usai ujian skripsi pada tahun 1975 dilewati dengan baik, ia langsung ditawari sebagai Asisten Dosen (Asdos) untuk mata kuliah hukum administrasi negara (HAN) oleh Prof Prajudi Padmo Sudirdjo, yang menjadi dosen pengujinya. Setelah berpikir sejenak, tawaran itu ia terima.    

 

“Selain Asdos HAN, tahun 1982, saya juga diminta menjadi Asdos mata kuliah Ilmu Perundang-undangan oleh Prof Hamid Attamimi. Sejak saat itulah saya menekuni profesi sebagai dosen. Saya lebih suka mengajar karena ilmu yang dimiliki akan terus terasah,” ujar perempuan yang pernah meraih predikat mahasiswi teladan  FHUI bersama Mochtar Arifin, mantan Wakil Jaksa Agung era Abdul Rahman Saleh pada tahun 1975.              

 

Putri, pasangan Raden Petrus Hendro dan Veronica Sutasmi itu sempat berkeinginan untuk menjadi dosen di Universitas Sebelas Maret lantaran mau ikut suaminya, yang juga berprofesi sebagai dosen seni rupa. Lantaran satu tahun tidak diproses, ia ditarik kembali oleh Dekan FHUI kala itu. “Awalnya saya mau ikut suami, tetapi setahun tidak diproses akhirnya kembali lagi ke FHUI,” ujar perempuan kelahiran Solo, 14 Juni 1949.

 

Ternyata, pilihannya menekuni profesi dosen khususnya untuk jurusan ilmu perundang-undangan merupakan pilihan yang tepat. Pasalnya, ia kerap dipercaya lembaga negara atas keahliannya sebagai legal drafter. Misalnya, Maria pernah dipercaya menjadi anggota tim perumus dan penyelaras Komisi Konstitusi MPR pada 2003-2004 dan anggota tim pakar hukum Departemen Pertahanan pada 2006-2008.

 

Berkiprah cukup lama di dunia hukum itulah yang mengatarkannya terpilih menjadi hakim konstitusi perempuan pertama di Mahkamah Konstitusi (MK). Keinginan menjadi hakim konstitusi lantaran dorongan dari teman-temannya di kalangan kampus, seperti Saldi Isra dan Denny Indrayana. Sebab, Maria dianggap ahli hukum tata negara yang paling senior di antara mereka.  

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua