Rabu, 21 Desember 2011

Pelajar Disidang Karena Curi Sandal Polisi

Kerugian materilnya sekira Rp35 ribu atau setidaknya lebih dari Rp250,-.
Ant/IHW
PN Jakarta Pusat pernah menyidangkan perkara serupa beberapa waktu lalu. Foto: SGP

Seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Palu menjadi terdakwa di sidang Pengadilan Negeri Palu, Selasa (20/12) karena dituduh mencuri sandal jepit milik seorang polisi. Terdakwa AA (15) dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan didampingi 10 pengacara.

 

Pada sidang yang dipimpin Rommel F Tampubolon sebagai hakim tunggal itu, AA didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Naseh melakukan tindak pidana sebagaimana dalam Pasal 362 KUHP atas tuduhan mencuri sandal jepit merek "Ando", milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap.

 

Kejadian itu berlangsung pada November 2010 di sebuah tempat kos, Jalan Zebra I A, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan.

 

Pencurian itu, versi dakwaan jaksa, bermula ketika terdakwa bersama temannya pulang sekolah dan lewat di tempat kos yang ditempati Briptu Ahmad. Saat itu, AA mengambil sandal di tempat kos itu lalu memasukkan ke dalam tas.

 

Pada 27 Mei 2011, terdakwa bersama temannya Hamka kembali melintas di lokasi kejadian. Saat itulah, Briptu Ahmad bertanya kepada terdakwa dan saksi soal sandal miliknya yang hilang.

 

"Jangan bilang tidak, sandal saya sudah tiga kali hilang di sini," kata JPU menirukan ucapan Ahmad saat itu.

 

Di hadapan hakim, terdakwa mengakui jika dirinya pernah mengambil sepasang sandal merek "Ando" di tempat kos yang ditempati korban tersebut.

 

Merasa pernah kehilangan sandal merek "Ando", korban meminta terdakwa untuk mengambil sandal itu untuk diperlihatkan dan ternyata sandal tersebut memang milik korban yang pernah hilang di tempat kos.

 

"Akibat perbuatan terdakwa, saksi korban mengalami kerugian materil sekitar Rp35 ribu atau setidak-tidaknya lebih dari Rp250," kata JPU Naseh.

 

Selain pembacaan dakwaan, sidang perdana itu dilanjutkan dengan pemeriksaan dua orang saksi yang dihadirkan oleh JPU yakni Simson dan saksi korban Briptu Ahmad.

 

Ditemui usai persidangan, Elvis Katuvu, salah satu Penasehat Hukum terdakwa prihatin atas kasus itu. Menurut Elvis, kasus itu terlalu kecil dibanding banyaknya kasus-kasus besar lainnya yang ditangani oleh aparat hukum dan belum jelas penyelesaiannya, termasuk kasus korupsi.

 

Sidang kasus pencurian sandal jepit itu mengundang perhatian pengunjung bahkan sejumlah jaksa yang saat itu tengah berada di PN Palu penasaran dan ingin mengetahui kasus itu. Pengunjung yang sebagian besar wanita mengaku prihatin dan heran atas kasus pencurian sandal yang harus masuk ke Pengadilan Negeri Palu.

 

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat beberapa waktu lalu juga sempat menyidangkan perkara serupa. DS, seorang anak yang tinggal di daerah Johar Baru, Jakarta Pusat diseret ke persidangan karena dituduh mencuri kartu perdana sebuah operator seluler yang nilainya tak lebih dari Rp10 ribu. DS sempat ditahan di tahap penyidikan dan penuntutan.

 

Di persidangan, hakim dalam putusan selanya menyatakan surat dakwaan jaksa batal demi hukum sehingga perkara DS harus dihentikan dan DS harus segera dikeluarkan dari tahanan. Penyebabnya adalah hakim menilai penyidikan terhadap DS tidak sah karena sejak ditangkap, ditahan dan diperiksa DS tak didampingi oleh pengacara.

LUCU!
 - Faiz
10.01.12 17:23
Dasarr maling sendal 35rb serius banget, dikejar, dicari, di proses... Koruptor cuman diapain coy? koruptor miliaran dipenjara cuman bentar, Ini bukan kaskus yang selayaknya diproses, masih banyak kasus besar yang perlu di proses, malah ngurusin maling sandal 35rb cape deeehhh... So lebih baik kita korupsi drpd maling sandal???
for all
 - Mr. C.F.
29.12.11 17:51
i'm agree with most of people who said that in this thing, poor student must get feeling in jail whereas most of corruptor only all his lawyer and that's all. Government must give more attention with this problem.
kemana mental penegak hukum??
 - vocaloider
23.12.11 17:43
ampun dah.. giliran cuma maling sendal aja ngehukumnya berat, giliran koruptor mah dibiarin gitu aja.. sendal "ando" doang pula.. lagian itu orang udah ngaku, kenapa malah diperpanjang urusannya? parah emang penegak hukum di Indonesia ini..
Ketidak adilan !
 - ferdy
23.12.11 16:07
Hukum di negri ini memang buta. Kasus yang jauh lebih fatal di diamkan begitu saja. sedangkan kasus cilik seperti ini di umbar dan di besar besar kan, parahnya lagi oleh penegak hukum ! Tolong pakai hati nurani dan akal sehat anda hey APARAT !!!
Capedeh
 - Toshi
23.12.11 13:42
Ea ea, giliran maling sendal aja semangat banget ngehukumnya.. anas purbaningrum maenin dana proyek 1,2 triliun kaga diseret2 ke tempat sidang.. dafuq lah, i don't wanna live in this planet anymore :(
cacad
 - ichal error
21.12.11 21:18
cuma sandal "ando" saja ribut..... masih kerenan sandal ane pak polisi...... punya ane "boogie"...... lagian, anak itu sudah mengaku..... terus gimana sama kelakuan polisi yang nilang seenaknya dan minta uang damai......?? masih kurang apa buat beli sandal baru.......??
gk ada tahapan apa!
 - Yandies Subecti
21.12.11 09:28
jangan mentang2 polisi main sidang ja, pendapat saya hal yang seperti itu seharusnya di selesaikan secara nasehati di depan orang tuanya.... tanya kenapa dia curi sendal....
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua