Rabu, 30 Mei 2012
MA Resmi Miliki Dua Ketua Muda Baru
Timur P Manurung siap jalankan kebijakan MA.
ASh
MA Resmi Miliki Dua Ketua Muda Baru
Ketua MA M Hatta Ali lantik dua ketua muda baru. Foto: Sgp

Mahkamah Agung (MA) secara resmi telah memiliki ketua muda baru seiring dilantiknya Timur P Manurung sebagai Ketua Muda Pengawasan (Tuadawas) dan Suwardi sebagai Ketua Muda Perdata MA. Pengangkatan keduanya sebagai ketua muda dikukuhkan lewat Surat Keputusan Presiden No. 51/P Tahun 2012 tanggal 11 Mei 2012.

Keduanya, resmi dilantik oleh Ketua MA M Hatta Ali di hadapan seluruh pimpinan MA dan para hakim agung. Acara pelantikan ini juga dihadiri beberapa pimpinan dari sejumlah lembaga negara. Diantaranya, Wakil Ketua KY Imam Anshori Saleh dan Wakil Jaksa Agung Darmono.

“Saya melantik Timur P Manurung sebagai Ketua Muda Pengawasan dan Suwardi sebagai Ketua Muda Perdata. Semoga Tuhan melimpahkan rahmat dan karunianya kepada mereka dalam mengemban jabatan barunya,” kata M. Hatta Ali saat mengangkat sumpah jabatan di ruang Kusumah Atmadja Gedung MA, Rabu (30/5).         

Sebelumnya, jabatan Tuadawas MA dalam dua bulan terakhir ini kosong sejak Tuadawas sebelumnya M Hatta Ali terpilih dan dilantik sebagai Ketua MA pada 1 Maret 2012 lalu. Sementara jabatan Tuada Perdata ditinggal pejabat sebelumnya Atja Sondjaja karena telah memasuki masa pensiun pada Maret 2012 lalu.

“Tentunya, sejak saya terpilih menjadi Tuadawas, kita tentunya akan mendukung tugas-tugas MA secara keseluruhan demi menwujudkan badan peradilan yang agung. Kita kan hanya bagian kecil dari tugas-tugas MA,” kata Timur usai acara  pelantikan.

Nama Timur ini sempat mencuat saat Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM memanggil para perwira TNI terkait kasus Trisakti dan Semanggi I-II pada 1998. Saat menjabat Kepala Badan Pembinaan Hukum (Kababinkum) TNI, Timur menolak tegas panggilan KPP HAM pada Februari 2002.

Awal kariernya sebagai hakim diawali pada Oktober 1999 saat pria yang terakhir berpangkat mayor jenderal ini diangkat menjadi hakim militer utama. Usai berkarier di militer, Timur Manurung lalu terpilih menjadi hakim agung militer pada 2003 silam.  

Pria kelahiran Medan 14 Agustus 1947 ini dilantik bersama 17 hakim agung lainnya. Yakni, Ngurah Adnyana, Abdurrahman, Dirwoto, Kaimuddin Salle, Mieke Komar, Mansyur Kartayasa, Rehngena Purba, Muchsin, HM Hakim Nyak Pha, Ahmad Sukardja, Abdul Manan, Habiburrahman, Ahmad Kamil, Hamdan, Imron Anwari, Titi Nurmala Siagian, dan Widayatno Sastro Hardjono.

Sementara Suwardi mengawali karirnya sebagai hakim pada 13 November 1982 saat diangkat menjadi hakim di Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru. Ia cukup lama bertugas  di PN Banyuwangi dan PN Samarinda, hingga akhirnya diangkat menjadi Wakil Ketua PN Palu pada 17 Mei 1996. Tak berselang lama, Suwardi dipercaya menjadi Ketua PN Palu pada Januari 1999.

Satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada Mei 2000, Suwardi hijrah ke Jakarta dan dipercaya “menggawangi” Ketua PN Jakarta Utara. Pada Mei 2003, ia diangkat menjadi hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi Medan. Kemudian pernah dipercaya sebagai Ketua PT Tanjungkarang dan Wakil Ketua PT Jakarta hingga akhirnya terpilih dan diangkat sebagai hakim agung pada 30 Desember 2008.             

Pria kelahiran Metro 19 Mei 1947 ini, dipilih Komisi III DPR sebagai hakim agung bersama dengan lima hakim agung lainnya. Yakni, Syamsul Maarif (Ketua KPPU/Lektor FH Universitas Brawijaya) Djafni Djamal (Wakil Ketua PT Padang), Mahdi Soroinda Nasution (Wakil Ketua PT Pekanbaru), Takdir Rahmadi (Dosen FH Universitas Andalas), dan Andi Ayyub Saleh (Dosen FH Universitas Hasanuddin).

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.