Senin, 04 Juni 2012
Hotel Buka Peluang Kerja Kaum Berkebutuhan Khusus
Demi memberi kesetaraan kesempatan bekerja.
IHW/Ant
Hotel buka peluang kerja kaum berkebutuhan khusus. Foto: ilustrasi (Sgp)

 

Beberapa hotel jaringan internasional membuka lowongan kerja bagi kaum berkebutuhan khusus (different ability, difabel). Demikian terungkap dalam International Tourism and Hospitality Grand Recruitment ke-6 yang akan digelar oleh Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung 5-6 Juni 2012.

Menurut Ketua STP Bandung Noviendi Makalam dalam konferensi pers di Gedung STP Bandung, Senin (4/6), rekrutmen pertama untuk kaum berkebutuhan khusus yang mampu dan berminat bekerja di bidang pariwisata itu merupakan salah satu upaya untuk memberikan kesempatan bekerja yang setara bagi kaum berkebutuhan khusus.

"Tahun ini pertama kalinya kami memberi kesempatan untuk kaum berkebutuhan khusus mengikuti seleksi dan wawancara," ujarnya.

Dari 50 perusahaan di bidang perhotelan, restoran, maskapai penerbangan dan industri pariwisata lainnya yang terdaftar sebagai penyedia lowongan kerja dalam Grand Recruitment, terdapat beberapa jaringan hotel yang sudah mengumumkan ketersediaan pekerjaan bagi kaum brekebutuhan khusus.

Di antaranya yaitu Swiss Belhotel yang menyediakan posisi "housemen" atau tenaga kebersihan, Dharmawangsa Hotel dan Intercontinental Hotel Group yang menyediakan posisi petugas binatu, Padma Hotel, Alila Hotel, dan Queen Villa yang menawarkan posisi operator telepon. Ada pula The Trans Hotel yang menyediakan posisi administrasi dan petugas penjagaan anak-anak, serta The Media Hotel yang menawarkan posisi resepsionis dan operator telepon.

"Jumlah lowongan yang tersedia untuk kaum berkebutuhan khusus belum bisa dipastikan sampai saat ini karena kami masih terus meng'update' perusahaan yang menyediakan lowongan kerja bagi mereka," kata Kepala Unit Pusat Pengembangan Profesi STP Bandung, Zulkifli Harahap.

Menurut Zulkifli, kaum berkebutuhan khusus yang diloloskan pada seleksi Grand Recruitment pada 5-6 Juni 2012 di STP Bandung adalah mereka yang dianggap mampu dan memiliki keterampilan bekerja di industri pariwisata tanpa terlebih dahulu mendapatkan pelatihan.

"Sesuai dengan tema 'Equal Job Opportunity for Disable People' kami juga bermaksud memberikan kesetaraan kepada mereka sehingga mekanisme perekrutan untuk kaum berkebutuhan khusus tidak dibedakan dari pelamar biasa," tutur Zulkifli.

Penyediaan kesempatan kerja bagi kaum berkebutuhan khusus merupakan salah satu upaya STP Bandung untuk memenuhi ketentuan UU Ketenagakerjaan dan UU Penyandang Cacat bahwa setiap perusahaan berkewajiban menyediakan satu persen dari jumlah tenaga kerja bagi kaum berkebutuhan khusus.

Zulkifli mengatakan STP telah melakukan sosialisasi kepada unit-unit Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) yang tersebar di seluruh kecamatan Kotamadya Bandung tentang kesempatan bekerja bagi kaum berkebutuhan khusus di bidang pariwisata.

Para penyandang kebutuhan khusus itu dipersilakan untuk datang ke Dome STP Bandung di Jalan Setiabudi, Bandung, pada 5-6 Juni untuk langsung mengikuti seleksi dan wawancara dengan perusahaan yang menyediakan lowongan kerja bagi mereka.

"Bagi yang nanti tidak diterima jangan berkecil hati karena STP Bandung setelah rekrutmen ini akan menggelar kursus pelatihan khusus bagi kaum berkebutuhan khusus agar mempunyai keterampilan untuk bekerja di industri pariwisata," kata Zulkilfi.

STP Bandung, lanjut dia, juga tengah mempersiapkan fasilitas bangunan dan tenaga dosen untuk menerima mahasiswa berkebutuhan khusus.

"Suatu saat kalau fasilitasnya sudah memenuhi syarat kami akan menerima mahasiswa yang berkebutuhan khusus," ujarnya.

Zulkifli mengatakan pada dasarnya industri pariwisata bisa menyerap banyak tenaga kerja dari kaum berkebutuhan khusus. Asosiasi Manajer dan Sumber Daya Manusia Perhotelan (HHRMA), menurut dia, juga telah menyampaikan komitmen untuk menyediakan lowongan kerja bagi kaum berkebutuhan khusus.

Masalah diskriminasi hak atas pekerjaan bagi penyandang cacat bukanlah persoalan baru. Dalam beberapa kasus, masih banyak perusahaan yang memberikan posisi pekerjaan kepada penyandang kebutuhan khusus walaupun sudah memenuhi kriteria seperti yang diatur UU Penyandang Cacat. Ironisnya, banyak juga penyandang cacat yang ditolak ketika melamar sebagai pegawai negeri sipil. Hal ini diperparah dengan minimnya pengawasan oleh instansi ketenagakerjaan di daerah.

Apresiasi
 - astri maria
28.03.16 15:55
sebelumnya sy berterima kasih krn sy menemukan blog ini (maret 28,2016) sy menjadi cukup percaya diri atas adanya blog ini. dan sy juga mau berterima kasih jika hal ini juga diselenggarakan di kota2 lain spt di sby. jika Anda punya reference untuk wilayah sby, sy sgt membutuhkannya untuk adik sy yg sdh menginjak remaja. plis kontak sy jika Anda berkenan. Tuhan memeberkati.
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.