Selasa, 18 December 2012

Isteri Beda Agama Berhak Dapat Warisan Suami

Memahami perkembangan putusan tentang waris Islam dalam buku Yurisprudensi Mahkamah Agung.
MYS

Dalam perkara waris, putusan-putusan pengadilan telah berkembang. Beberapa diantaranya dianggap sebagai putusan pelopor. Misalnya putusan yang mendudukkan ahli waris perempuan setara dengan ahli waris laki-laki. Porsi bagian anak laki-laki secara eksplisit disamakan dengan bagian anak perempuan.

Demikian pula dalam hal ada perbedaan agama antara pewaris dan anggota keluarga yang ditinggalkan. Mereka yang berbeda agama dengan pewaris tetap berhak mendapat bagian yang disebut wasiat wajibah. Isteri non-muslim yang ditinggal mati suami muslim memang tidak termasuk ahli waris, tetapi ia mendapat wasiat wajibah dari harta warisan suaminya. Jumlahnya pun sebanyak porsi waris isteri. Dalam kasus ini, isteri mendapat ½ dari harta warisan sebagai wasiat wajibah.

Putusan mengenai hak waris isteri yang berlainan agama dengan suami adalah salah satu putusan mengenai waris yang tercantum dalam buku Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA). Setiap tahun MA menerbitkan buku sejenis, memuat putusan-putusan terpilih dari semua bidang peradilan.

Hukumonline menelusuri putusan-putusan waris Islam dalam Yurisprudensi MA, dalam rentang waktu 1997-2011. Bagian yang dilihat adalah kaidah hukum yang bisa ditarik dari putusan itu.  Tidak setiap tahun penerbitan ada putusan mengenai waris. Sebaliknya, banyak putusan mengenai waris pada periode tersebut yang tak dimasukkan ke dalam buku yurisprudensi.

Putusan tentang hak waris isteri yang berbeda agama dengan suaminya (putusan MA No. 16K/AG/2010) menjadi salah satu yang agak berbeda dibanding yang lain. Putusan ini juga memperlihatkan perkembangan putusan hakim mengenai waris Islam.

Pemberian bagian berupa wasiat wajibah kepada anggota keluarga yang berbeda agama juga disinggung dalam putusan No. 368 K/AG/1995 dan putusan No. 51K/AG/1999. Putusan-putusan perkara waris dan hukum keluarga pun dipandang sudah mengalami kemajuan.

Hakim agung Mukhtar Zamzami, mengutip dari laman Badilag, menangkap perkembangan putusan hakim itu, dan menuangkannya ke dalam disertasi di Universitas Padjadjaran. Dalam penelitiannya, Mukhtar menguji apakah sistem kewarisan perdata Barat, kewarisan adat, dan hukum kewarisan Islam sejalan dengan rasa keadilan yang hidup di masyarakat. Merujuk pada beberapa putusan, hakim agung kelahiran 11 September 1948 itu memperlihatan perkara waris Islam yang dijatuhkan hakim sudah mengarah pada konsep bilateral. Januari lalu, Mukhtar memperoleh cumlaude setelah mempertahankan disertasi itu di Universitas Padjadjaran Bandung.

Hubungan baik

Pemberian bagian wasiat wajibah bagi anggota keluarga beda agama tidak berlangsung begitu saja. Dari pertimbangan Mahkamah Agung dalam perkara 16 K/AG/2010 implisit ada persyaratan yang diberikan. Perkawinan pewaris dengan isterinya sudah berlangsung cukup lama yaki 18 tahun. Hakim agung melihat fakta bahwa sang isteri telah mengabdikan dirinya dalam keluarga bersama suami dalam waktu yang cukup lama. Sehingga ‘layak dan adil untuk memperoleh hak-haknya selaku isteri untuk mendapat bagian dari harta peninggalan berupa wasiat wajibah serta bagian harta bersama’.

Persyaratan ini juga pernah disinggung Suhadak, Ketua Pengadilan Agama Nagara, Bali, dalam artikelnya ‘Prospek Pembaharuan Hukum Terapan Peradilan Agama di Bidang Waris’, yang bisa diakses dari situs www.badilag.net.  Suhadak berpendapat bisa saja anggota keluarga beda agama menerima harta peninggalan melalui wasiat wajibah. Syaratnya, antara pewaris dan anggota keluarga beda agama ‘hidup rukun damai dan saling toleran’. Misalnya, anak merawat orang tuanya (pewaris) semasa hidup.

Hukum waris telah berkembang melalui putusan-putusan hakim. Cakupannya pun semakin luas. Termasuk berkaitan dengan jaminan perbankan. Adakalanya objek jaminan menjadi hak pihak ketiga karena pewarisan. Dalam kasus semacam ini, eksekusi terhadap objek jaminan seringkali menimbulkan masalah hukum. Untuk itulah hukumonline akan menyelenggarakan diskusi sekaligus peluncuran buku hukum waris pada 21 Desember mendatang. Anda tertarik?

suami islam, istri kriten dan punya 2 putri kristen. peninggalan suami 2 m siapa yang mendapat waris
 - NATAL
20.04.17 08:39
suami islam istri kristen punya anak cewe 2 dan suami meninggal, dan meninggalkan harta warisan 2 m, siapa yang mendapat waris?
istri beda Agama berhak dapat warisan suami
 - mujitahid PA.Selong
03.05.16 08:34
Apakah istri beda Agama berhak dapat warisan suami atas dasar alasan ikatan perkawinan yang sah dan tercatat di KUA ada buku nikah serta diperoleh harta, maka istri dapat baginya sesuai dengan hukum yang berlaku;
waris
 - Jauhari
07.11.14 14:29
lalu bagaimana jika anak dari pewaris sudah mulai umur 5 tahun sebagai non muslim, apakah bagian warisan si anak ini mengikuti sebagai anak muslim.? Terimah kasih atas komentarnya.
wajib diberikan warisan
 - marwan bima
29.05.13 09:42
khusus yg istrix wanita ahli kitab (yahudi dan nashara) wajib diberi bagian,,,non ahli kitab dilarang karena haram dinikahi.
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua