Rabu, 27 Maret 2013

Penyandang Disabilitas Bisa Terbang Tanpa Surat Pernyataan

Namun masih banyak aspek lain yang harus diperhatikan maskapai untuk tidak mendiskriminasikan penyandang disabilitas.
ADY

Cucu Saidah untuk sementara boleh bernafas lega. Perempuan penyandang disabilitas ini tak perlu lagi mengisi surat pernyataan bermeterai yang disodorkan maskapai Garuda Indonesia jika ingin bepergian menggunakan pesawat.

Sebenarnya tak cuma Garuda yang menodongkan surat pernyataan. Hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia melakukan hal serupa kepada para penyandang disabilitas. Isi surat pernyataan tersebut terkesan diskriminatif karena maskapai penerbangan melepaskan tanggung jawab bila terjadi sesuatu pada diri penyandang disabilitas.

Pihak Garuda Indonesia akhirnya mengubah kebijakan itu. Perusahaan pelat merah itu tak lagi meminta para penyandang disabilitas untuk meneken surat pernyataan. Perusahaan juga akan terus melakukan sosialisasi kebijakan baru ini ke seluruh pihak terkait. Diharapkan, seluruh staf Garuda Indonesia menjalankan kebijakan itu.

Selain itu, SOP yang ada sudah disesuaikan untuk memberi pelayanan yang ramah terhadap penyandang disabilitas.“Ini kesempatan kami untuk memaksimalkan pelayanan,” ujarVP Humas Garuda Indonesia, Pujobroto, dalam sebuah diskusi di kantor YLBHI, di Jakarta, Selasa (26/3). Dia menegaskan, perbaikan itu tak sekedar ‘kosmetik’, namun para pimpinan di maskapai milik BUMN tersebut serius melakukannya secara komprehensif.

Senada, VP Passanger Service Garuda Indonesia, Grace Purukan, berjanji akan terusmemberi pelayanan terbaik bagi penyandang disabilitas tanpa mengurangi standar keamanan yang wajib diterapkan dalam penyelenggaraan jasa penerbangan. Misalnya, ada staf khusus yang melakukan pendampingan untuk penumpang yang menyandang disabilitas.

Walau begitu, Grace mengaku menemui kendala, misalnya mencari cara bagaimana menampilkan video Safety Demo untuk penyandang disabilitas agar mampu dipahami oleh semua penyandang disabilitas. Pasalnya, setiap penyandang disabilitas memiliki kebutuhan khusus yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sampai saat ini Garuda Indonesia masih mencari cara bagaimana agar video yang berisi cara untuk melakukan penyelamatan diri dalam keadaan darurat itu mampu dimengerti oleh penyandang disabilitas.

Pada kesempatan yang sama, Cucu berharap pihak penyelenggara jasa penerbangan memberi akses yang setara untuk semua pihak. Termasuk dengan menyediakan fasilitas khusus untuk mendukung para penyandang disabilitas.

Cucu sendiri mengapresiasi penghapusan kebijakan kewajiban mengisi surat pernyataan bagi penyandang disabilitas. Kemudian juga dengan adanya alat bantu bagi penyandang disabilitas pengguna kursi roda dari ruang tunggu di bandara ke lokasi pesawat. Setidaknya, ia melihat hal ini di bandara Soekarno-Hatta. Cucu berharap semua bandara akan mengikuti langkah serupa.

Walau begitu, Cucu juga menyoroti pelakuan yang kerap diterima penyandang disabilitas dari staf di bandara atau di dalam pesawat yang dirasa kurang bersahabat. Oleh karena itu, selain pembenahan fasilitas pendukung untuk kaum disabilitas, ia berharap adaperbaikanpelayanan olehseluruh staf yang bekerja di penyelenggaraan jasa transportasi udara.

Cucu berpendapat para calon staf itu harus mendapat pendidikan dari kurikulum yang memuat bagaimana melayani calon atau penumpang pesawat. Menurutnya, berbagai perubahan itu selain menjamin hak penyandang disabilitas juga akan meningkatkan kualitas pelayanan maskapai penerbangan yang bersangkutan. “Ini juga bentuk investasi bagi Garuda Indonesia,”kata Cucu.

Secara umum Grace berjanji Garuda Indonesia akan memperhatikan berbagai usulan yang disampaikan Cucu dan rekan-rekannya dalam menerbitkan kebijakan. “Di bandara kita bisa sediakan tempat tunggu khusus untuk penyandang disabilitas,” ujarnya.

Aksesibilitas tanpa batas
 - Wong Ndablek
01.04.13 12:29
Aksesibilitas Tanpa Batas Untuk Disabilitas perlu selalu kita perjuangkan karena mereka layak menerimanya...
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua