Selasa, 03 September 2013

Boy Marjinal: Sarjana Hukum yang Nge-Punk

Menjadi mahasiswa hukum atas keinginan orang tua.
ALI
Boy (berdiri), pemain Akordion Band Marjinal.Foto: ALI


Sejarah Punk Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Band Marjinal. Grup musik yang bernaung di bawah Komunitas Taring Babi ini adalah ‘dedengkot’ band Punk di Indonesia. Sejak berdiri tahun 1997, Marjinal sudah beberapa kali berganti personel. Salah satu personel yang hingga kini masih bertahan adalah Boy. Memainkan instrumen Akordion, Boy bergabung dengan Marjinal sekira 5-6 tahun silam.


Meski berstatus anak band, aliran keras pula, Boy ternyata memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Ya, Boy yang nama lengkapnya Petrus Djeke adalah seorang sarjana hukum lulusan Universitas Janabadra, Yogyakarta.


Di kampus yang terletak di jalan Mataram itu, Boy mengambil program kekhususan hukum perdata. Dia kuliah selama enam tahun, sejak tahun 2001 hingga 2007.


“Skripsi gue dulu tentang fidusia,” tutur pemain alat musik Akordion itu kepada hukumonline usai tampil di perayaan ulang tahun Komisi Yudisial (KY) ke-9, Rabu pekan lalu (28/8).


Dikatakan Boy, kuliah di fakultas hukum sebenarnya bukan pilihan hatinya. “Itu bukan pilihan gue juga. Itu karena pilihan orangtua saja,” ujarnya santai.


Ketika di bangku kuliah, Boy mulai memendam rasa kesal terhadap perilaku aparat penegak hukum. Kebetulan saat itu, ia bergabung sebagai aktivis mahasiswa di Front Mahasiswa Nasional (FMN). “Ketika gue kuliah dan berogranisasi gue anggap mereka (penegak hukum, red) omong kosong semua,” tuturnya.


Inilah salah satu alasan mengapa ia masih enggan berkiprah di bidang hukum pasca lulus kuliah. “Mungkin sejak itu, gue melihat penegak hukum kita bobrok,” ujar Boy.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua