Senin, 18 November 2013

I Dewa Gede Palguna: Apa yang Telah Kita Perjuangkan, Hancur dalam Satu Detik

Kata Pak Laica: “Menitik Air mata saya, young brother.”
ALI/RFS (HOLE)
Eks Hakim MK I Dewa Gede Palguna di ruang kerjanya. Foto: SGP


Penangkapan (mantan) Ketua MK Akil Mochtar oleh KPK sudah lewat dari sebulan. Hingga saat ini, Akil masih mendekam di tahanan KPK dengan status tersangka. Efek dari kasus ini diprediksi akan berdampak besar, yakni runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap MK.  


Saking kesalnya, Ketua MK jilid pertama Jimly Asshiddiqie bahkan telah bersuara lantang, “Hukum Mati!”. Jimly, beserta para hakim MK generasi pertama, tentu patut kecewa. Institusi yang telah dibangun dengan susah payah itu akhirnya harus tercoreng gara-gara kasus ini.


Pada Kamis (31/10), Hukumonline  berkesempatan menemui salah seorang Hakim MK generasi pertama I Dewa Gede Palguna. Dari tempatnya ‘menyepi’ di Bali, yang jauh dari hiruk pikuk kasus di Jakarta, Palguna menyuarakan kekecewaannya. Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) ini juga berharap MK, secara institusi, mampu bangkit dari keterpurukan ini. Berikut wawancaranya: 


Bagaimana perasaan dan reaksi Anda ketika mendengar penangkapan Akil Mochtar?

Terus terang saya sedih. Begitu mendengar penangkapan itu, saya langsung SMS teman-teman hakim konstitusi (generasi pertama,-red). Saya tentu saja SMS Pak Jimly, kemudian Pak Wakil Ketua Laica Marzuki dan teman-teman lain.


Waktu itu saya tulis “Apa yang telah kita bangun dan perjuangkan dari nol dengan sangat berat, dan ketika kita sudah pada posisi publik begitu percaya kepada MK, lalu jatuh atau hancur dalam satu detik.”


Lalu, Pak Laica yang membalas. Karena saya punya panggilan kesayangan dari Pak Laica, dia panggil saya ‘young brother’. Beliau bilang “Ya, young brother, menitik air mata saya.”


Jadi, memang sangat mengejutkan dan sekaligus menyedihkan buat saya itu bisa terjadi. Pukulannya berat sekali buat saya, buat kami yang di awal di generasi pertama.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua