Berita

Menjelang Pilpres Jokowi-Prabowo Bersaing Ketat

Berdasarkan survei Joko Widodo (Jokowi) merakyat dan Prabowo Subianto tegas.
Oleh:
ADY
Bacaan 2 Menit
Menjelang Pilpres Jokowi-Prabowo Bersaing Ketat
Hukumonline
Menjelang Pemilu Presiden dan Wakilnya (Pilpres) partai politik (parpol) peserta Pemilu sibuk menyusun koalisi. Indikator Politik Indonesia telah membuat survei mengenai elektabilitas capres. Menurut Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi, survei dilakukan kepada 1.220 responden yang punya hak pilih pada Pemilu 2014. Survei dilakukan pada 20-26 April 2014.
 
Berdasarkan hasil survei, papar Burhanuddin, elektabilitas Jokowi lebih tinggi dibanding Prabowo. Tetapi hasil itu belum menjamin posisi Jokowi aman untuk memenangkan Pilpres 2014. Selisih keduanya berdasarkan kriteria capres yang dipilih responden tidak terlampau besar.
 
Dalam survei itu Burhanuddin menjelaskan ada 6 kriteria capres yang dipilih responden. Untuk kriteria jujur, bisa dipercaya dan amanah, 44 persen responden memilih Jokowi dan 30 persen Prabowo. Jokowi juga unggul sebagai capres dengan kriteria perhatian pada rakyat yaitu 55 persen dan Prabowo 23 persen. Begitu pula kriteria mampu memimpin, Jokowi dipilih 48 persen responden dan Prabowo 28 persen.
 
Prabowo lebih unggul dengan 51 persen dan Jokowi 29 persen saat ditanya mengenai ‘ketegasan’ capres. Hal serupa juga terjadi pada kriteria berwibawa Prabowo meraih 52 persen dan Jokowi 37 persen. Namun untuk kriteria pintar Jokowi mendapat 71 persen dan Prabowo 14 persen.  Walau begitu Burhanuddin menggarisbawahi kriteria pintar karenabaseline-nya terlalu kecil yaitu 0,5 persen sehingga sulit dianalisis.
 
“Jokowi unggul dalam kriteria jujur, bisa dipercaya, amanah, perhatian pada rakyat dan mampu memimpin. Sementara Prabowo unggul dalam ketegasan dan berwibawa,” kata Burhanuddin dalam jumpa pers di kantor Indikator di Jakarta, Selasa (13/5).
 
Dari survei berdasarkan kriteria capres itu Burhanuddin mengatakan bagi calon pemilih pada umumnya pintar, mampu memimpin, berwibawa dan tegas bukanlah ukuran penting. Menurutnya pemilih lebih mementingkan capres yang jujur, bisa dipercaya dan perhatian atau peduli pada rakyat. Tapi jika ada capres yang memiliki dua kualitas itu maka kemungkinan besar bakal menang dalam Pilpres. Walau begitu Burhanuddin menekankan ada indikasi pemilih semakin menilai kriteria tegas semakin penting.
 
Survei yang dilakukan Indikator juga menyasar pada frekuensi responden mengakses TV, koran dan internet. Menurut Burhanuddin responden yang sering mengakses TV semakin mementingkan pemimpin yang punya kriteria tegas dan mampu memimpin. Demikian pula responden yang kerap mengakses internet dan membaca koran. Baginya hal tersebut menunjukan aspek kejujuran kurang ditonjolkan media. Sementara kemampuan memimpin dan ketegasan lebih ditekankan media sosial maupun konvensional.
 
Terkait citra capres, Burhanuddin menyebut hasil survei menunjukan Jokowi dipilih 81 responden dan Prabowo 80 persen. Untuk citra jujur, bisa dipercaya dan amanah Jokowi mendapat 84 persen dan Prabowo 68 persen. Citra bersih dari korupsi Jokowi unggul 73 persen dan Prabowo 60 persen. Tapi bersinggungan dengan citra berwibawa Prabowo memperoleh 86 persen dan Jokowi 75 persen.
 
Berkaitan dengan citra pintar dan berwawasan luas Burhanuddin menyebut Jokowi dan Prabowo mendapat angka yang sama yaitu 84 persen. Tapi terkait citra perhatian pada rakyat responden memilih 91 persen untuk Jokowi dan 71 persen Prabowo. Sedangkan citra tegas dimenangkan Prabowo dengan 86 persen dan Jokowi 74 persen. Begitu pula dengan citra berpengalaman internasional Prabowo 73 persen dan Jokowi 57 persen.
 
Ketua DPP Golkar Hajriyanto Y Thohari, mengaku heran mengapa capres yang baru dideklarasikan bisa lebih tenar dibandingkan yang sudah disosialisasikan sejak lama. Misalnya, Aburizal Bakrie sudah dideklarasikan sejak 2012. Begitu pula dengan Prabowo. Tapi Jokowi yang dideklarasikan menjadi capres oleh PDIP sebelum pemungutan suara pada 9 April 2014 jauh lebih dikenal masyarakat. “Ini menarik kenapa capres yang sudah disosialisasikan lama kalah sama capres yang baru diumumkan,” kata Hajriyanto.
 
Selain itu berpendapat dalam politik di Indonesia, simbol berperan penting. Jokowi dicap dengan simbol kejujuran dan integritas sedangkan Prabowo simbol ketegasan dan berwibawa.
 
Ketua DPP PKB, Marwan Jafar, menilai capres yang partisipatif dan populis sangat penting dalam rangka memenangkan Pilpres. Ia yakin karakter personal berpengaruh dalam Pemilu. Misalnya dalam Pemilu legislatif (Pileg) 2014, sekalipun PKB punya basis massa yang loyal tapi tanpa ditopang caleg maka perolehan suara bisa kedodoran. “Jadi ada kombinasi antara loyalitas pemilih dan individu caleg,” pungkasnya.
Berita Terkait