Jumat, 06 June 2014

Kunjungi IJSL, Dekan Leiden Law School Bahas Sekolah Hukum

Mahasiswa hukum harus dibiasakan mempelajari putusan pengadilan.
ALI
Dekan Leiden Law School, Rick Lawson. Foto: RES

Dekan Rick Lawson mengunjungi Indonesia Jentera School of Law (IJSL), Kamis (5/6). Rick dan sejumlah perwakilan IJSL membahas inisiatif pembentukan sekolah hukum.
 
Lawson mengunjungi IJSL tidak sendiri. Ikut dalam rombongan dari Belanda antara lain Director Jan Michiel Otto dan juga beberapa penelitinya. Sedangkan, IJSL diwakili oleh Co-Director Inayah Assegaf dan Direktur Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) Eryanto Nugroho.
 
Co-Director IJSL Inayah Assegaf menjelaskan dalam pertemuan itu, Rick Lawson ingin mengetahui pengalaman PSHK yang berinisiatif membentuk sekolah hukum bernama IJSL itu. Selain itu, Lawson juga mempertanyakan kerjasama apa yang bisa dijalin bersama Leiden Law School.
 
“Sebenarnya Dekan Leiden Law School ingin tahu bagaimana pengalaman PSHK terkait inisiatif baru membentuk sekolah hukum ini. Dan dia juga tanya kerjasama yang bisa dilakukan ke depan,” ujarnya kepada .
 
Inayah menuturkan selama ini IJSL sudah cukup akrab dengan , sebuah lembaga penelitian di bawah Leiden Law School. “Kami sudah pernah berdiskusi dengan Adriaan Bedner dan Jan Michiel Otto (peneliti dan direktur lembaga penelitian itu,-red). Sekarang kami diskusi dengan dekannya,” tambah Inayah.
 
Dalam pertemuan itu, lanjut Inayah, pihak IJSL dan PSHK menjelaskan mengenai sekolah hukum yang sudah mulai berjalan menggelar sejumlah pelatihan dan kuliah umum di bidang hukum itu. Sementara, terkait izin untuk melaksanakan program Strata-1 ilmu hukum, masih terus diurus ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
“Izin S-1 masih diproses di Dikti. Mungkin beberapa bukan ke depan izinnya akan segera keluar,” ujarnya.
 
Inayah menjelaskan IJSL akan menggunakan metode belajar yang berbeda dengan kebanyakan fakultas hukum di Indonesia. Bila metode belajar ilmu hukum kerap dianggap satu arah, IJSL akan lebih memberikan kebebasan mahasiswanya untuk bereksplorasi.
 
Selain itu, lanjutnya, IJSL juga akan lebih mengedepankan kepada praktek di banding teori. Yakni, dengan cara bukan hanya ‘menjejali’ mahasiswa dengan diktat, tetapi juga memberikan keterampilan mahasiswa untuk membaca putusan pengadilan lebih banyak.
 
“Di situs Mahkamah Agung (MA) sudah ada ribuan putusan. Itu yang nanti akan dianalisis oleh mahasiwa untuk memperkuat legal reasoning mereka,” ujarnya lagi.
 
Ditemui usai pertemuan, Dekan Leiden Law School Rick Lawson mengatakan selama kunjungannya ke beberapa fakultas hukum di Indonesia, memang masih jarang cara mengajar dengan menganalisis putusan. “Ini yang saya pahamai selama kunjungan saya ini,” tuturnya.
 
Rick Lawson mengatakan hal ini bukan sebagai masalah, tetapi harus dilihat bahwa sudah semakin banyak negara-negara di dunia yang fakultas hukumnya mengenalkan analisis putusan ke dalam kurikulum mereka. Menurutnya, mempelajari putusan pengadilan di bangku universitas dapat membantu mahasiswa ketika dia harus berpraktek hukum setelah lulus.
 
“Jika kita ingin menyiapkan mahasiswa untuk praktek hukum, mereka harus dibiasakan dengan dunia praktis. Jika kamu memegang suatu perkara di pengadilan dan harus meyakinan pengadilan. Cara yang paling baik dan sering digunakan adalah dengan mengacu ke kasus-kasus sebelumnya (yang mirip atau sama,-red),” pungkasnya. 
Leiden Law School

Van Vollenhoven Institute



hukumonline

Van Vollenhoven Institute for Law















Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua