Kamis, 19 Juni 2014

Golf Tidak Identik Suap dan Lobi

Sisi positifnya adalah ajang untuk berinteraksi dengan regulator.
CR-16/RZK
Foto: RES (Ilustrasi)

Kasus suap mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini tidak hanya mencoreng nama lembaga SKK Migas, tetapi juga olahraga golf. Dalam beberapa kesempatan, Rudi melontarkan pernyataan yang terkesan menyalahkan olahraga golf. Dia bahkan terang-terangan mengaku menyesal bermain golf.

Pertanyaannya apakah golf adalah olahraga yang memang rentan dihinggapi korupsi?

Ketua Panitia HKHPM Golf Tournament 2014, Adi Prasetyo mengakui bahwa golf memang bisa dikatakan dekat dengan deal-deal (kesepakatan) dan lobi. Pasalnya, kata dia, golf adalah olahraga santai dan berdurasi lama. Berdasarkan pengalamannya, menurut Adi, bermain golf itu setidaknya memakan waktu sekitar 5-6 jam.

“Sesepi-sepinya lapangan minimal lima jam kita beres untuk 18 hole untuk lapangan sebesar Sentul (Sentul Highlands), kecuali kalau lapangannya kecil bisa empat jam,” ujar Adi ditemui hukumonline di Sekretariat HKHPM di Jakarta, sekira dua pekan lalu.

Namun, ditegaskan Adi, pada akhirnya kembali kepada individu yang bermain golf. Menurut Adi, golf bisa saja dijadikan tempat untuk melakukan perbuatan tercela. Dia mencontohkan kasus mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang dalam sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen terungkap memiliki hubungan khusus dengan seorang caddy golf.

“Peluangnya bisa diakui banyak karena kita bermain 5 jam bukan sebentar, kita jadi bisa ngomong apa aja suasana yang biasanya formil bisa cair di situ karena kita bisa bercanda, bisa taruhan kecil-kecilan atau besar-besaran atau taruhan sengaja kalah,” papar Adi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Freddy Harris mengatakan praktik suap atau lobi dapat terjadi di cabang olahraga manapun, tidak hanya golf.

“Golf kan sesuatu yang rileks, sebenarnya tidak ada sesuatu yang jelek di golf, orang bisa main tenis atau voli dan bisa saja terjadi hal itu (lobi dan suap, red), apapun bisa terjadi,” ujar Freddy ditemui saat berpartisipasi dalam HKHPM Golf Tournament 2014 di Sentul, Jawa Barat, Minggu (15/6).

Di Indonesia, kata Freddy,  golf memiliki citra negatif karena olahraga ini dianggap eksklusif. Citra ini, menurut dia, harus diubah karena golf sebenarnya adalah olahraga yang dapat dimainkan semua orang.

Sisi Positif
Partisipan HKHPM Golf Tournament 2014 lainnya, Ito Warsito menyatakan tidak setuju jika golf diidentikkan dengan suap dan lobi. Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia ini, kasus Rudi Rubiandini tidak ada hubungannya dengan olahraga golf.

“Pak Rudi kapan sih main golf, dia kan baru belajar. Jadi bukan karena golfnya dia korupsi, itu karena dirinya sendiri,” ujar Ito.

Sammy Lalamentik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap masyarakat melihat sisi positif dari olahraga golf. Menurut Sammy, olahraga memang ajang interaksi yang bagus antara pelaku bisnis dan regulator. Namun, interaksi itu jangan diartikan sebagai peluang kongkalikong (permufakatan jahat, red).

“Orang kan melihatnya bisa ada kongkalikong, tapi sebenarnya kita sudah punya benang merah antar profesi akuntan dan lawyer, dan regulator harus menjaga independensi, kalau kita berteman kita tetap harus menjaga jarak,” jelasnya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua